BANYUMASEKSPRES.ID, Yansen Indiani, yang lebih dikenal dengan panggilan Cesen, saat ini tengah merasakan kebahagiaan yang mendalam.
Istri dari komika terkenal, Marshel Widianto, baru saja menuntaskan pendidikan Strata 2 (S2) di bidang Magister Terapan Pariwisata.
Namun, di balik pencapaian akademis tersebut, terdapat perjuangan yang sangat berat dan menguras baik fisik maupun psikisnya.
Dalam sebuah wawancara yang penuh emosi, Cesen menceritakan pengalaman dramatis yang dialaminya saat menjalani sidang kelulusan.
Cesen mengungkapkan bahwa kondisi tubuhnya sempat drop akibat tekanan mental dan kelelahan yang melanda.
“Kemarin itu aku sidang S2 bawa project, bukan tesis. Benar-benar lemas banget, gemeteran, mau pingsan, sampai lambung perih karena seharian tidak makan,” ujarnya dengan tegas.
Momen sidang yang penuh adrenalin membuat Cesen abai terhadap rasa lapar yang menghantui.
Apalagi, ia harus menunggu selama berjam-jam sebelum dapat menghadapi para penguji di ruang sidang.
“Datang dari jam 1 siang, baru dipanggil jam setengah 5 sore. Selesai jam 5, jadi memang dari pagi perut kosong. Deg-degannya luar biasa karena mendengar cerita teman-teman yang katanya dicecar dosen,” tambahnya dengan nada cemas.
Perjuangan Cesen untuk meraih gelar magister ini tidak hanya terfokus pada aspek fisiknya saat sidang, tetapi juga diwarnai oleh tantangan kesehatan yang ia hadapi.
Ia menceritakan bahwa jadwal seminar proposal (sempro) bertepatan dengan momen ketika dirinya dan Marshel harus masuk rumah sakit.
“Habis aku sakit, terus Marshel operasi, tidak lama jadwal sempro keluar. Benar-benar dor-doran banget. Aku bimbingan terbatas karena banyak yang harus diurus, tapi puji Tuhan semuanya beres tepat waktu,” kenangnya sambil menyiratkan rasa syukur.
Cesen menekankan bahwa gelar S2 ini bukan sekadar simbol status atau gaya-gayaan belaka baginya.
Ini adalah bukti nyata atas mimpi yang sempat tertunda selama belasan tahun lamanya.
Dulu, ia bercita-cita untuk masuk SMK Pariwisata, namun terhalang oleh jadwal padat saat masih aktif bersama JKT48.
“Dulu mau masuk SMK Pariwisata tidak bisa karena ada PKL (Praktik Kerja Lapangan), sedangkan di JKT saya sibuk sekali. Akhirnya baru kesampaian sekarang di S2 ini,” ungkapnya dengan bangga.
Kendati telah berhasil meraih gelar mentereng dan mendapatkan tawaran untuk menjadi dosen, Cesen belum mengambil keputusan untuk menerima tawaran tersebut.
Ia mengakui bahwa dirinya lebih tertarik untuk terjun langsung ke lapangan sebagai relawan daripada terjebak dalam rutinitas akademisi di belakang meja kuliah.
Keputusan ini mencerminkan keinginannya untuk memberikan dampak nyata bagi masyarakat melalui pengalamannya di dunia pariwisata.
Melihat perjuangan dan dedikasi sang istri selama proses pendidikan ini, Marshel Widianto merasa bangga sekaligus minder.
Ia menyatakan dengan tulus, “Jujur bangga sekaligus minder ya karena saya masih SMK, tapi ini jadi motivasi bagi saya untuk tahun ini rencananya mau kuliah juga,” ungkapnya sambil memberikan pujian kepada kegigihan Cesen.
Perjalanan pendidikan Cesen hingga mencapai gelar magister ini adalah contoh nyata dari ketekunan dan kerja keras dalam mengejar impian meskipun ada banyak rintangan yang harus dihadapi sepanjang jalan.
Kesuksesannya bukan hanya pencapaian akademis semata tetapi juga menjadi inspirasi bagi banyak orang tentang pentingnya tidak menyerah pada impian yang telah lama dipendam.
Dengan latar belakang sebagai mantan anggota JKT48, Cesen menunjukkan kepada publik bahwa meskipun langkah awal karirnya berada di jalur hiburan, tidak ada kata terlambat untuk mengejar pendidikan tinggi dan memperluas wawasan diri melalui ilmu pengetahuan. (*/dda)
















