Banyumas Ekspres
Dark ModeLight Mode

Cuaca Buruk Hambat Pembangunan Huntara untuk Korban Longsor Pandanarum Banjarnegara

Huntara Dikebut, Meski Cuaca Kalang KabutHuntara Dikebut, Meski Cuaca Kalang Kabut
KEBUT: Proses pembangunan hunian sementara (huntara) bagi penyintas longsor Situkung, Desa Pandanarum, Banjarnegara, kemarin

BANYUMASEKSPRES.ID, BANJARNEGARA – Pemerintah Kabupaten Banjarnegara terus berupaya mempercepat pembangunan hunian sementara (huntara) untuk para penyintas longsor di Situkung, Desa Pandanarum, meskipun kondisi cuaca yang tidak bersahabat menjadi tantangan serius.

Hujan yang masih sering melanda kawasan ini menghambat pelaksanaan konstruksi optimal, namun semangat untuk menyelesaikan proyek ini tetap membara.

Menurut Kepala Pelaksana BPBD Banjarnegara, Aji Piluroso, hingga pertengahan Desember 2025, sebanyak 18 unit huntara telah mencapai progres lebih dari 70 persen.

Sementara itu, enam unit lainnya baru menyelesaikan kurang dari setengah pekerjaan dan unit sisanya masih dalam tahap awal pengerjaan.

“Delapan belas unit sudah lebih dari 70 persen. Yang lain masih berproses, tapi kami terus mendorong percepatan supaya warga bisa segera menempati huntara,” jelas Aji ketika diwawancarai pada Selasa (16/12/2025).

Masalah cuaca menjadi tantangan terbesar di lapangan. Intensitas hujan yang tinggi mengakibatkan waktu kerja terbatas dan kondisi lahan yang licin serta berbahaya.

Namun demikian, pembangunan di zona 1 tetap dilanjutkan dengan penuh kehati-hatian, sedangkan zona 2 dan zona 3 difokuskan pada penyiapan lahan agar proses pembangunan dapat berjalan lebih cepat ketika cuaca mendukung.

“Kami sangat berharap cuaca mendukung agar pembangunan bisa lebih cepat,” ujarnya dengan penuh harap.

BPBD Banjarnegara memiliki target ambisius untuk menyelesaikan pembangunan 50 unit huntara pada akhir tahun 2025.

Namun, Aji mengakui bahwa target tersebut menghadapi ketidakpastian akibat kondisi cuaca yang tidak menentu dan karakteristik lahan yang menantang di Pandanarum.

“Targetnya tetap 50 unit selesai tahun ini, dan itu terus kami kejar,” tegasnya dengan penuh optimisme.

Berdasarkan rekomendasi Badan Geologi, sebanyak 214 keluarga atau setara dengan 586 jiwa di Desa Pandanarum diwajibkan untuk direlokasi dari zona rawan longsor.

Kebutuhan akan huntara jauh melebihi jumlah unit yang saat ini tengah dalam proses pembangunan.

Oleh karena itu, pembangunan dilakukan secara bertahap sambil pemerintah daerah menyiapkan tambahan lahan untuk memenuhi kebutuhan tempat tinggal sementara bagi para penyintas.

Di samping relokasi yang difasilitasi oleh pemerintah, sebagian warga memutuskan untuk melakukan relokasi mandiri ke zona aman yang berjarak sekitar 500 meter dari titik longsor.

“Sekitar 47 keluarga memilih relokasi mandiri di zona aman,” jelas Aji lebih lanjut mengenai inisiatif warga dalam menghadapi situasi ini.

Lokasi huntara yang dibangun oleh pemerintah berada di wilayah Desa Pandanarum dengan jarak sekitar 1,5 kilometer dari pusat longsor.

Pemilihan lokasi ini telah melalui kajian keamanan geologi yang ketat serta mempertimbangkan kemudahan akses logistik bagi para penyintas agar kebutuhan dasar mereka dapat terpenuhi dengan baik.

Meskipun fokus utama adalah penyelesaian pembangunan huntara, perhatian terhadap pemenuhan kebutuhan dasar pengungsi tidak boleh terabaikan.

BPBD mencatat bahwa peralatan dapur seperti penanak nasi listrik masih sangat diperlukan oleh para pengungsi agar mereka dapat memasak makanan sehari-hari dengan lebih mudah dan efisien.

“Peralatan dapur seperti penanak nasi listrik masih sangat dibutuhkan,” ungkap Aji.

Dengan jumlah penyintas yang cukup besar dan kondisi cuaca yang belum stabil, percepatan pembangunan huntara menjadi langkah krusial dalam menjamin keselamatan dan kenyamanan warga terdampak.

Pemerintah daerah memastikan bahwa keselamatan dan kesejahteraan para penyintas tetap menjadi prioritas utama dalam setiap langkah kebijakan yang diambil.

Proses pembangunan huntara berjalan di tengah banyak tantangan namun tekad kuat dari pemerintah daerah dan masyarakat tak terhalang oleh cuaca buruk atau keterbatasan lainnya.

Semua pihak berharap agar proyek ini dapat segera selesai sehingga para penyintas dapat kembali menjalani kehidupan sehari-hari dengan rasa aman dan tenang di tempat tinggal sementara mereka. (jud/dda)

Berita Sebelumnya
Pemerintah menyediakan dua saluran resmi untuk mengecek status penerima PKH. Keduanya dapat diakses secara daring tanpa harus datang ke kantor

Cara Cek Bansos PKH Desember 2025 Online, Panduan Resmi dan Praktis

Berita Selanjutnya
Sembilan Sekolah Raih Adiwiyata

Sembilan Sekolah di Purbalingga Raih Penghargaan Adiwiyata Nasional dan Mandiri 2025