Banyumas Ekspres
Dark ModeLight Mode

Kasus Katarak di Purbalingga Masih Tinggi, 338 Operasi Tercatat Sepanjang 2025

Kasus Katarak Masih TinggiKasus Katarak Masih Tinggi
KATARAK: Launching program Inclusive System for Effective Eye Care di Operation Room Kompleks Pendapa Dipokusumo Purbalingga, Kamis (27/8/2026)

BANYUMASEKSPRES.ID, PURBALINGGA – Kasus katarak di Kabupaten Purbalingga masih menjadi persoalan kesehatan yang perlu mendapat perhatian.

Sepanjang 2025, tercatat 338 operasi katarak di wilayah tersebut. Jumlah itu setara dengan rata-rata sekitar 30 hingga 40 operasi katarak setiap bulan.

Data tersebut berdasarkan hasil assessment Yayasan Satu Karsa Karya (YSKK) pada 2025.

Dalam assessment tersebut, Purbalingga termasuk salah satu dari tiga daerah di Jawa Tengah yang dinilai masih memiliki persoalan kesehatan mata cukup tinggi.

Dua daerah lainnya adalah Kabupaten Banjarnegara dan Wonosobo.

Direktur YSKK Iwan Setiyoko mengatakan, tingginya angka operasi katarak menunjukkan masih adanya tantangan dalam penanganan kesehatan mata masyarakat.

“Yakni, Kabupaten Banjarnegara, Kabupaten Purbalingga dan Kabupaten Wonosobo,” kata Iwan saat launching program Inclusive System for Effective Eye Care di Operation Room Kompleks Pendapa Dipokusumo Purbalingga, Kamis (27/8/2026).

Berdasarkan hasil assessment YSKK, terdapat 338 kasus operasi katarak yang tercatat sepanjang 2025 di Kabupaten Purbalingga.

Jika dirata-ratakan, jumlah tersebut mencapai sekitar 30 hingga 40 tindakan operasi setiap bulan.

“Setiap bulan, rata-rata 30-40 kasus operasi katarak di Kabupaten Purbalingga,” jelas Iwan.

Data tersebut menjadi perhatian karena katarak dapat mengganggu kemampuan seseorang dalam melihat dan menjalankan aktivitas sehari-hari.

Penanganan yang tepat diperlukan agar gangguan penglihatan akibat katarak tidak semakin menghambat produktivitas masyarakat.

Namun, persoalan di Purbalingga tidak hanya berkaitan dengan jumlah kasus. YSKK juga menemukan adanya masalah dalam hal kesadaran masyarakat untuk mengenali gejala katarak.

Hasil assessment YSKK menunjukkan sekitar 50 persen pasien katarak di Purbalingga tidak mengetahui dirinya mengalami penyakit tersebut.

“Sekira 50 persen dari kasus katarak di Kabupaten Purbalingga, pasien tidak mengetahui dirinya menderita penyakit tersebut,” ujar Iwan.

Rendahnya kesadaran tersebut dapat menyebabkan pasien terlambat memperoleh pemeriksaan dan penanganan.

Sebagian masyarakat baru mencari layanan kesehatan ketika gangguan penglihatan sudah semakin terasa.

Karena itu, deteksi dini katarak menjadi salah satu langkah penting yang perlu diperkuat.

Pemeriksaan mata secara berkala dapat membantu menemukan gangguan penglihatan lebih awal sehingga masyarakat dapat memperoleh informasi dan penanganan sesuai kondisi masing-masing.

Untuk merespons persoalan tersebut, YSKK menyiapkan program Inclusive System for Effective Eye Care.

Program ini diarahkan untuk memperkuat sistem pelayanan kesehatan mata sekaligus meningkatkan keterlibatan masyarakat dalam mendeteksi gangguan mata.

Salah satu upaya yang disiapkan adalah memberikan pelatihan kepada kader kesehatan dan guru.

Mereka diharapkan memiliki kemampuan dasar untuk membantu mengenali tanda-tanda yang mengarah pada katarak sehingga masyarakat yang membutuhkan dapat segera diarahkan untuk mendapatkan pemeriksaan lebih lanjut.

Penguatan layanan juga akan dilakukan pada fasilitas kesehatan, termasuk puskesmas dan rumah sakit.

Dengan melibatkan berbagai unsur tersebut, deteksi gangguan mata diharapkan tidak hanya bergantung pada masyarakat yang datang sendiri ke fasilitas kesehatan.

Edukasi dan pengenalan gejala di tingkat komunitas dapat menjadi pintu masuk untuk menemukan masyarakat yang membutuhkan pemeriksaan mata.

Program Inclusive System for Effective Eye Care juga akan diarahkan pada pembentukan desa sehat mata sebagai proyek percontohan atau pilot project di Jawa Tengah.

Konsep tersebut diharapkan dapat memperluas jangkauan edukasi dan deteksi dini kesehatan mata hingga tingkat desa.

Masyarakat diharapkan semakin memahami pentingnya menjaga kesehatan mata dan tidak menunggu gangguan penglihatan menjadi berat sebelum melakukan pemeriksaan.

Penguatan sistem tersebut juga diharapkan dapat membantu menekan jumlah kasus katarak yang terlambat ditangani.

Selain meningkatkan kesadaran masyarakat, kolaborasi antara kader, guru, puskesmas, rumah sakit, dan pemerintah diharapkan mampu menciptakan sistem pelayanan mata yang lebih mudah dijangkau.

Pemerintah Kabupaten Purbalingga menyatakan dukungannya terhadap program tersebut.

Staff Ahli Bupati Purbalingga Tri Gunawan Setiadi mengatakan, penguatan deteksi dini dan pelayanan kesehatan mata penting untuk membantu menekan persoalan kesehatan mata di daerah.

Dukungan pemerintah diharapkan tidak hanya diarahkan pada penanganan masyarakat yang sudah mengalami gangguan penglihatan, tetapi juga pada upaya pencegahan dan peningkatan kesadaran.

Dengan semakin banyak masyarakat yang memahami gejala katarak dan pentingnya pemeriksaan mata, kasus yang baru terdeteksi ketika kondisinya sudah berat diharapkan dapat dikurangi.

Data 338 operasi katarak sepanjang 2025 sekaligus menjadi gambaran bahwa persoalan kesehatan mata di Purbalingga masih membutuhkan perhatian berkelanjutan.

Terlebih, temuan bahwa sekitar separuh pasien tidak mengetahui dirinya mengalami katarak menunjukkan adanya tantangan besar dalam aspek edukasi dan deteksi dini.

Melalui program Inclusive System for Effective Eye Care, YSKK bersama pemerintah dan berbagai unsur masyarakat berupaya membangun sistem yang memungkinkan gangguan mata ditemukan lebih cepat. (tya/stch/dda)

Berita Sebelumnya
172 Pendaki di Ranu Kumbolo Dievakuasi

172 Pendaki Gunung Semeru Dievakuasi Usai Kebakaran Blok Ranu Kembang

Berita Selanjutnya
Sidang Korupsi Kuota Haji Masuk Pokok Perkara

Perlawanan Yaqut Ditolak Hakim, Sidang Korupsi Kuota Haji Masuk Pokok Perkara