BANYUMASEKSPRES.ID, Helm, body harness, serta perlengkapan keselamatan lainnya sudah terpasang rapi ketika Viola bersiap menuruni tebing Curug Aseupan Luar.
Wanita asal Jakarta itu mencoba menenangkan diri sebelum tubuhnya menggantung dari ketinggian mencapai 28 meter di kawasan Curug Tilu Leuwi Opat.
Perlahan, langkah pertama mulai dilakukan sambil menopang tubuh menggunakan pijakan kaki pada dinding curug yang cukup licin dan terjal.
Debit air dari Curug Aseupan Jero terus mengalir deras, membuat suasana semakin menegangkan selama proses waterfall rappeling berlangsung.
Matanya beberapa kali menoleh ke arah dua operator canyoning yang berjaga di bagian atas tebing curug untuk memastikan keselamatan wisatawan.
Suara instruksi terus terdengar bersahutan, memberi arahan teknis supaya tubuh tetap rileks namun posisi kaki tetap kokoh menopang beban tubuh.
Sesekali Viola harus menyeka wajahnya karena cipratan air curug yang cukup deras mengarah langsung menuju area wajah dan mata.
Di bawah sana, aliran sungai berbatu terlihat cukup jauh dan membuat sensasi olahraga ekstrem tersebut semakin memacu adrenalin wisatawan.
Ketika berada di tengah jalur penurunan, operator meminta Viola berhenti sejenak untuk mengabadikan momen menggunakan kamera dari atas tebing curug.
Setelah beberapa kali berpose sambil menggantung menggunakan tali, Viola kembali melanjutkan penurunan menuju dasar curug dengan hati-hati.
Sekitar sepuluh menit kemudian, Viola berhasil tiba di bagian bawah Curug Aseupan Luar dengan kondisi selamat tanpa mengalami kendala berarti.
Pengalaman pertama mencoba waterfall rappeling tersebut langsung meninggalkan kesan mendalam karena memadukan tantangan fisik dengan suasana alam terbuka.
Atraksi wisata ekstrem berupa waterfall rappeling memang sedang populer dan banyak digemari wisatawan pencinta aktivitas pemacu adrenalin beberapa tahun terakhir.
Di kawasan Curug Tilu Leuwi Opat Bandung Barat, wahana tersebut menjadi satu-satunya atraksi canyoning waterfall rappeling yang tersedia.
“Seru banget, adrenalin kita benar-benar di-push. Soalnya kan ada takut tergelincir, ditambah kita kecipratan air terus. Kencang banget airnya kena wajah,” kata Viola.
Viola mengaku sengaja datang dari Jakarta bersama suaminya untuk menikmati wisata alam ekstrem di kawasan Bandung Utara yang masih asri.
Perjalanan cukup panjang yang ditempuh menuju Curug Tilu Leuwi Opat dinilainya terbayar dengan pengalaman menegangkan namun menyenangkan tersebut.
“Worth it buat dicoba pastinya, seru banget. Kita bisa menguji keberanian, padahal ini saya baru pertama kali coba. Mungkin nanti mah dicoba di spot lainnya,” ujar Viola.
Popularitas waterfall rappeling di Curug Aseupan Luar membuat para operator canyoning cukup sibuk terutama ketika akhir pekan dan musim liburan tiba.
Selain rappeling, wisatawan juga dapat mencoba wahana tyrolean atau flying fox yang melintas dari Curug Aseupan Jero menuju sungai.
Adam Armandhany menjadi salah satu operator yang rutin mendampingi wisatawan ketika mencoba berbagai atraksi canyoning di Curug Tilu Leuwi Opat Bandung Barat.
Menurut Adam, tren olahraga ekstrem waterfall rappeling mulai ramai sejak dua tahun terakhir karena banyak wisatawan penasaran mencobanya.
Mayoritas wisatawan yang datang ternyata merupakan pemula yang baru pertama kali mencoba aktivitas canyoning di kawasan wisata alam terbuka tersebut.
Fenomena Fear of Missing Out atau FOMO juga disebut menjadi salah satu alasan meningkatnya minat wisatawan terhadap olahraga ekstrem tersebut.
“Ramainya karena fomo rappeling bisa backflip, cuma di sini enggak bisa karena kontur tebingnya berbeda, enggal lurus vertikal jadi risiko terbenturnya tinggi,” kata Adam.
Sebelum wisatawan mulai menuruni tebing curug, operator biasanya memberikan pengarahan lengkap mengenai teknik dasar waterfall rappeling dan prosedur keselamatan.
Pengunjung akan diajarkan cara pijakan kaki, posisi tubuh, hingga teknik memegang tali pengaman selama menuruni tebing curug.
Meski sebagian besar wisatawan sudah mendapatkan briefing sebelum mencoba canyoning, pengawasan tetap dilakukan secara ketat oleh seluruh operator lapangan.
Operator siaga ditempatkan pada bagian atas tebing maupun area bawah curug untuk mengantisipasi situasi darurat selama aktivitas berlangsung.
“Kita brief soal jalurnya, kemudian yang paling utama teknik sih seperti pijakan, terus tangan harus seperti gimana, terus ketika jatuh itu harus seperti gimana. Kebetulan ini kebanyakan orang-orang awam, jadi meskipun sudah di-brief kita tetap awasi dari atas, lalu di bawah ada yang standby rescue,” kata Adam.
Adam mengatakan jumlah wisatawan yang mencoba canyoning di Curug Tilu Leuwi Opat pernah mencapai sekitar 70 orang dalam satu hari penuh. Saat ini, rata-rata jumlah pengunjung pada akhir pekan berkisar antara 30 hingga 40 orang setiap harinya.
Untuk menikmati sensasi waterfall rappeling di Curug Tilu Leuwi Opat, wisatawan perlu menyiapkan biaya sebesar Rp250 ribu untuk setiap peserta canyoning. Sementara tiket masuk kawasan objek wisata Curug Tilu Leuwi Opat dipatok sebesar Rp20 ribu untuk setiap pengunjung.
“Sekarang rata-rata di akhir pekan 30 sampai 40 orang, dulu pernah 70 orang. Harga paketnya itu Rp250 ribu per orang. Tiket masuk objek wisatanya Rp20 ribu per orang,” kata Adam. (vip)
















