Banyumas Ekspres
Dark ModeLight Mode

Di Balik Anyaman Tenong: Bukan Hanya Sekadar Pelengkap Ritual

Bukan hanya sekadar pelengkap ritualBukan hanya sekadar pelengkap ritual
Perajin tenong di Kertayasa, Banjarnegara, sedang memproduksi tenong pada Jumat (4/7). Memasuki bulan Sura, permintaan akan tenong meningkat tajam, membawa berkah tersendiri bagi mereka.

BANYUMASEKSPRES.ID, BANJARNEGARA – Bulan Sura, dikenal juga sebagai Muharam dalam kalender Hijriah, memiliki makna spiritual mendalam. Bagi Suwarso dan banyak perajin lainnya di Banjarnegara, bulan ini adalah momen panen kedua setelah menjelang Ramadan.

Pada saat seperti ini, kerajinan tenong tidak hanya menjadi pelengkap ritual tetapi juga sumber penghidupan utama.

“Selama Suranan ini kami sudah jual sekitar tiga ribuan tenong,” ungkap Suwarso sambil menyeka keringat dari dahinya. “Kalau hari biasa paling 1.600-an sebulan. Jadi ini bisa dibilang musim ramai.”

Tenong bukan sekadar wadah makanan biasa. Di tangan masyarakat Banjarnegara, ia menjadi simbol persembahan dalam tradisi ruwatan bumi, Suranan, dan sedekah desa.

Tenong-tenong tersebut diisi aneka panganan kemudian dikirab keliling desa dengan doa-doa dan kidung syukur sebelum disantap bersama dalam kebersamaan yang melampaui sekat usia dan status sosial.

Pada momen-momen seperti itulah ekonomi dan budaya berputar seiring. Saat desa-desa mengadakan ritual, perajin bambu seperti Suwarso ikut merasakan peningkatan aktivitas ekonomi yang signifikan.

“Dulu waktu pandemi Covid-19, sempat sepi banget. Tapi sejak tradisi Suranan dan Sadranan mulai dihidupkan lagi, permintaan tenong juga naik,” tambahnya.

Namun demikian, ada kekhawatiran yang muncul terkait keberlangsungan kerajinan ini.

Regenerasi menjadi tantangan besar karena sebagian besar perajin sudah berusia lanjut.

Generasi muda lebih tertarik pada teknologi modern daripada mempertahankan kerajinan warisan ini.

“Anak-anak muda sekarang sudah jarang yang mau ngerajut bambu. Padahal kalau ditekuni, bisa banget buat hidup,” ujar Suwarso dengan nada prihatin.

Meningkatnya permintaan menyebabkan harga tenong turut melonjak.

Biasanya satu tenong dijual Rp 40 ribu; kini harganya bisa mencapai Rp 50 ribu bahkan Rp 60 ribu per buah.

Pesanan datang bukan hanya dari sekitar Banjarnegara tetapi juga dari kota-kota besar lain melalui platform online.

Tumpukan tenong yang telah dibungkus rapi memenuhi sudut rumah Suwarso siap dikirim ke berbagai daerah, menembus batas geografis sambil membawa semangat dan nilai-nilai budaya yang teranyam rapi dalam setiap bilah bambu.

Bulan Sura memang istimewa bukan hanya bagi mereka yang menjunjung tinggi tradisi tetapi juga bagi para pengrajin yang menggantungkan hidup dari kebudayaan ini.

Di tengah denting pisau dan aroma kayu bambu, para perajin menyambut bulan ini dengan cara mereka sendiri: dalam ketenangan dan ketekunan serta anyaman-anyaman kecil yang terus menjaga denyut warisan.

Tenong mungkin sekadar wadah bagi sebagian orang. Namun di tangan orang-orang seperti Suwarso, ia adalah cerita panjang tentang ketahanan hidup dan keyakinan serta harapan untuk masa depan yang lebih baik melalui warisan budaya nenek moyang mereka. (jud/stch)

Berita Sebelumnya
Pkl: kami tetap jaga kebersihan dan ketertiban

PKL Alun-alun Purbalingga: Kami Tetap Jaga Kebersihan dan Ketertiban

Berita Selanjutnya
Berkaca pada tahun-tahun sebelumnya, pencairan PIP Termin 3 2025 diperkirakan berlangsung Oktober hingga Desember 2025

Cara Cek Status Aktif Bantuan PIP, PKH, dan KIS Terbaru dengan Mudah dan Cepat