Banyumas Ekspres
Dark ModeLight Mode
Beasiswa Pemerintah Swiss 2027 Dibuka, Ini Syarat dan Cara Daftarnya
Waspada Modus Pesanan Makanan Fiktif di Banjarnegara, Pelaku Catut Nama Klinik Ibunda

Waspada Modus Pesanan Makanan Fiktif di Banjarnegara, Pelaku Catut Nama Klinik Ibunda

Pedagang Jadi Korban Penipuan Pesanan FiktifPedagang Jadi Korban Penipuan Pesanan Fiktif
Tampak depan Klinik Ibunda Banjarnegara

BANYUMASEKSPRES.ID, BANJARNEGARA – Sejumlah pedagang kuliner di Kabupaten Banjarnegara menjadi korban dugaan penipuan pesanan makanan fiktif yang mengatasnamakan Klinik Utama Rawat Inap Ibunda Banjarnegara.

Pelaku memesan sejumlah makanan melalui WhatsApp, kemudian meminta pedagang melakukan transaksi tambahan berupa pembelian pulsa hingga transfer uang.

Kasus tersebut terungkap setelah empat pedagang mendatangi langsung Klinik Utama Rawat Inap Ibunda Banjarnegara untuk memastikan kebenaran pesanan yang mereka terima.

Setelah dilakukan pengecekan, pihak klinik memastikan bahwa pesanan tersebut bukan berasal dari manajemen maupun tenaga medis Klinik Ibunda.

Kepala Klinik Utama Rawat Inap Ibunda Banjarnegara, dr Ismuhartinah, mengatakan pelaku menggunakan identitas dokter yang sebenarnya tidak bekerja di klinik tersebut. Salah satu nama yang dicatut adalah dr Budi, Sp.OG.

“Pelaku memesan sejumlah makanan seperti seblak dan donat dengan mengatasnamakan dr Budi, Sp.OG. Pesanan kemudian diminta diantar ke Klinik Ibunda. Padahal, di klinik kami tidak ada dokter tersebut,” kata Ismuhartinah, Senin (24/8/2026).

Modus penipuan tidak berhenti pada pemesanan makanan. Setelah pedagang menerima pesanan, pelaku kemudian menghubungi korban dan meminta bantuan untuk melakukan transaksi lain.

Pedagang diminta membeli pulsa serta mentransfer sejumlah uang dengan berbagai alasan.

Permintaan tersebut membuat sejumlah pedagang mengalami kerugian secara langsung.

Salah seorang pedagang dilaporkan mengalami kerugian sekitar Rp700 ribu. Sementara itu, korban lainnya mengalami kerugian lebih dari Rp300 ribu.

Pihak Klinik Ibunda menyebut nomor WhatsApp yang digunakan pelaku adalah 082125624792.

Berdasarkan penelusuran informasi internal, nomor tersebut disebut pernah digunakan dalam modus penipuan serupa di wilayah Kabupaten Blora.

Meski demikian, masyarakat tetap perlu berhati-hati dan tidak mengambil kesimpulan hanya berdasarkan nomor telepon yang beredar.

Yang terpenting adalah melakukan verifikasi terhadap identitas pemesan sebelum menyerahkan barang, uang, pulsa, maupun melakukan transaksi lainnya.

Klinik Utama Rawat Inap Ibunda Banjarnegara menegaskan bahwa pihaknya tidak pernah melakukan pemesanan makanan dengan pola seperti yang dialami para pedagang.

Klinik juga tidak pernah meminta pedagang membeli pulsa atau mentransfer uang dengan alasan tertentu setelah menerima pesanan makanan.

Ismuhartinah menyayangkan kejadian tersebut karena modus penipuan pesanan fiktif dapat merugikan pelaku usaha kecil yang sehari-hari mengandalkan transaksi untuk mendapatkan penghasilan.

“Kami menyesalkan kejadian yang merugikan para pedagang lokal ini. Kami mengimbau semua pihak lebih waspada terhadap modus penipuan berbasis pemesanan fiktif,” ujarnya.

Kasus seperti ini menunjukkan bahwa penipuan online melalui pesanan makanan dapat menyasar berbagai jenis usaha, termasuk pedagang kuliner rumahan, penjual makanan ringan, hingga usaha yang menerima pesanan melalui aplikasi pesan instan.

Untuk mencegah kejadian serupa, pedagang yang menerima pesanan dengan tujuan Klinik Ibunda atau instansi tertentu diminta tidak langsung mengantarkan makanan sebelum memastikan identitas pemesan.

Verifikasi dapat dilakukan dengan menghubungi resepsionis atau petugas penerima tamu di lokasi tujuan.

Pedagang juga dapat menanyakan nama pemesan, bagian atau unit tempat pemesan bekerja, serta memastikan apakah benar terdapat pesanan yang masuk.

Langkah tersebut penting terutama apabila pemesan meminta tambahan transaksi yang tidak berkaitan dengan pembelian makanan.

Pedagang sebaiknya tidak langsung memenuhi permintaan untuk transfer uang, membeli pulsa, membeli voucher, atau melakukan pembayaran tambahan sebelum identitas dan kebutuhan tersebut benar-benar terverifikasi.

Apabila seseorang mengaku sebagai dokter, pegawai klinik, rumah sakit, perusahaan, sekolah, kantor pemerintahan, atau lembaga lainnya, pedagang tetap perlu melakukan pengecekan melalui jalur resmi.

Modus pesanan fiktif memanfaatkan kepercayaan pedagang terhadap nama institusi tertentu.

Pelaku sengaja menggunakan identitas dokter atau lembaga yang dianggap kredibel agar korban percaya dan segera memenuhi permintaan.

Karena itu, pedagang kuliner di Banjarnegara maupun daerah lainnya perlu meningkatkan kewaspadaan terhadap pesanan yang memiliki pola tidak biasa.

Pesanan dalam jumlah besar sebenarnya tidak selalu merupakan penipuan.

Namun, apabila setelah melakukan pemesanan makanan seseorang mulai meminta korban membeli pulsa, mengirim uang, atau melakukan transaksi di luar pesanan awal, kondisi tersebut patut dicurigai.

Pedagang juga sebaiknya menyimpan bukti percakapan, nomor telepon, bukti transfer, detail pesanan, serta informasi lain yang berkaitan dengan transaksi.

Bukti tersebut dapat membantu apabila korban hendak melaporkan dugaan penipuan kepada pihak berwenang.

Kasus dugaan penipuan yang mengatasnamakan Klinik Ibunda Banjarnegara menjadi pengingat bahwa verifikasi identitas pemesan merupakan langkah penting sebelum memproses pesanan online.

Jangan mudah percaya hanya karena pemesan menggunakan nama dokter, klinik, rumah sakit, atau institusi yang dikenal.

Dengan melakukan pengecekan sederhana sebelum mengantarkan makanan atau mengirimkan uang, pedagang dapat mengurangi risiko menjadi korban penipuan pesanan fiktif. (*/stch/dda)

Berita Sebelumnya
Beasiswa Pemerintah Swiss

Beasiswa Pemerintah Swiss 2027 Dibuka, Ini Syarat dan Cara Daftarnya