Banyumas Ekspres
Dark ModeLight Mode

Driver Ojol di China Terpaksa Bermain Mahjong Karena Sepi Orderan

Driver Naik 300 Persen tapi Order SepiDriver Naik 300 Persen tapi Order Sepi
TUNGGU ORDER: Driver Ojol di Tiongkok

BANYUMASEKSPRES.ID, BEIJING – Di tengah kelesuan ekonomi yang melanda, banyak pengemudi ojek online (ojol) dan taksi daring di Tiongkok kini terpaksa menghadapi tantangan berat.

Mereka tampak lebih sering berkumpul untuk bermain mahjong atau berkeliling kota tanpa tujuan yang jelas, akibat minimnya pesanan yang masuk.

Salah satu pengemudi asal Dali, Provinsi Yunnan, menggambarkan betapa ironisnya kondisi pekerjaan mereka saat ini dengan pernyataan yang menyentuh hati, “Mengemudikan layanan ojol saat ini seperti melakukan rutinitas olahraga yang menyehatkan.”

Ungkapan tersebut mencerminkan ketidakberdayaan mereka dalam menghadapi situasi pasar yang semakin sulit.

Setiap pagi, rutinitas pengemudi ini dimulai dengan mengantar anaknya ke sekolah sebelum membuka aplikasi ojol untuk mencari pesanan.

Namun, jika tidak ada tawaran dengan tarif yang memadai, ia akan segera mengirim pesan kepada rekan-rekannya melalui WeChat untuk mengajak bermain mahjong.

Keadaan ini menggambarkan betapa sulitnya bertahan hidup dengan penghasilan minimal, sebuah fenomena yang semakin meluas di seluruh penjuru Tiongkok.

Data terbaru dari regulator Tiongkok, yang dikutip oleh Wall Street Journal, menunjukkan adanya ketidakseimbangan yang mencolok dalam industri ini.

Antara tahun 2020 hingga 2024, jumlah pengemudi ojol meningkat hampir 300 persen, sementara jumlah perjalanan hanya tumbuh sekitar 60 persen.

Hingga tahun 2024, tercatat ada sekitar 7,48 juta pengemudi berlisensi yang beroperasi di Tiongkok.

Kelebihan pasokan tenaga kerja ini telah menciptakan lingkaran setan persaingan yang semakin sengit.

Meskipun semua orang bekerja lebih keras, pendapatan rata-rata para pengemudi justru mencapai titik terendah dalam sejarah.

Kisah seorang pengemudi berusia 40 tahun dari Sichuan menjadi potret nyata dari lesunya pasar kerja saat ini.

Sebagai mantan insinyur konstruksi, ia kehilangan pekerjaan setelah jatuhnya pasar properti empat tahun lalu.

Kini, ia terpaksa bekerja selama 14 jam sehari dengan jadwal yang sangat melelahkan.

Dia mulai bertugas pukul 4 sore hingga 2 pagi dan tidur beberapa jam di dalam mobilnya sebelum kembali bangun pada pukul 5 pagi untuk melanjutkan tugas hingga jam 9 pagi keesokan harinya.

Meskipun sudah bekerja keras sepanjang waktu tersebut, setelah dikurangi biaya sewa mobil dan biaya hidup lainnya, ia hanya mampu mengirimkan sekitar 3.000 yuan (setara dengan Rp 6,5 juta) kepada keluarganya setiap bulan.

Fenomena ini tidak lepas dari pandangan pakar keuangan seperti Andrew Sheng.

Ia berpendapat bahwa kondisi yang dialami para pengemudi mencerminkan kelemahan struktural dalam perekonomian Tiongkok secara keseluruhan.

Menurut Sheng, produktivitas tidak akan meningkat jika tenaga kerja hanya bergantung pada satu sektor saja dan bersaing melalui waktu kerja ekstrem tanpa adanya peningkatan kualitas pekerjaan itu sendiri.

“Platform digital perlu beralih dari praktik eksploitasi tenaga kerja murah menuju peningkatan kualitas layanan dan perlindungan hak-hak pekerja,” ujar Andrew Sheng.

Ia menegaskan bahwa hal ini penting untuk menghindari tekanan sosial yang lebih besar di masa depan.

Dengan kondisi perekonomian yang semakin tidak menentu dan pendapatan para pengemudi terus merosot, tantangan nyata bagi pekerja sektor layanan digital di Tiongkok menjadi semakin jelas.

Persoalan tersebut tentu menjadi sorotan penting dalam konteks perubahan sosial dan ekonomi di negara dengan populasi terbesar di dunia ini.

Dalam era digitalisasi yang semakin berkembang pesat, perhatian terhadap kesejahteraan tenaga kerja menjadi hal krusial yang harus diperhatikan oleh pemerintah serta perusahaan platform digital itu sendiri.

Ketidakpuasan para pengemudi ojek online juga bisa dilihat sebagai cerminan dari rasa frustrasi masyarakat terhadap sistem ekonomi yang dianggap tidak adil dan memihak pada pihak-pihak tertentu saja.

Dalam banyak kasus, kebutuhan untuk mendapatkan pekerjaan demi kelangsungan hidup membuat mereka terjebak dalam siklus kerja keras tanpa hasil yang memadai.

Dengan meningkatnya jumlah pengemudi namun minimnya permintaan pasar, masalah ini tidak hanya berdampak pada pendapatan individu tetapi juga pada kesehatan mental mereka. (*/stch/dda)

Berita Sebelumnya
Menteri agama

Penetapan Lebaran 2026 Kapan Diumumkan? Simak Jadwal Sidang Isbat

Berita Selanjutnya
Blaugrana Menantang Takdir

Prediksi Barcelona vs Atletico Madrid: Lamine Yamal Optimis Blaugrana Bisa Remontada