Banyumas Ekspres
Dark ModeLight Mode

Gerbang Taman Bojong Purbalingga Jarang Terbuka, Sering Dikira Tutup

Gerbang jarang terbuka, sering dikira tutupGerbang jarang terbuka, sering dikira tutup

BANYUMASEKSPRES.ID, PURBALINGGA – Warga Purbalingga mengharapkan Taman Bojong, yang terletak di Kelurahan Bojong, Kecamatan Purbalingga, dapat beroperasi lebih lama.

Meskipun taman ini sebenarnya masih aktif dan dibuka untuk umum dengan jam operasional resmi mulai pukul 07.30 hingga 14.00 WIB setiap harinya, banyak warga yang salah paham dan mengira taman ini tutup karena pintu utamanya jarang dibuka.

Fajar, seorang warga berusia 31 tahun dari Kelurahan Bojong yang sering melintasi taman ini sepulang kerja, mengungkapkan keinginannya agar taman dibuka hingga malam.

“Kalau bisa taman dibuka sampai sore atau malam sekalian. Kadang pulang kerja pengin istirahat sebentar, duduk-duduk di taman, tapi sudah tutup. Sayang banget,” ujarnya.

Dian, seorang ibu muda berusia 26 tahun yang tinggal di perumahan dekat taman, juga berharap agar taman dapat diaktifkan lebih lama, terutama bagi warga yang ingin berolahraga atau bermain bersama anak-anak pada sore hari.

“Kalau pagi kan kita kerja, anak sekolah. Waktu luang tuh sore. Kalau taman sudah tutup jam dua, ya jadi gak sempat ke sana,” katanya.

Meskipun begitu, pantauan dari Radarmas menunjukkan bahwa Taman Bojong selalu rutin dirawat.

Setiap pagi, petugas kebersihan seperti Murdianto, yang lebih akrab disapa Anto, menyapu, memangkas tanaman, dan melakukan pemupukan serta pemotongan rumput.

Anto juga menyebutkan bahwa taman ini sering dimanfaatkan oleh lembaga pendidikan anak usia dini seperti PAUD dan TK untuk kegiatan belajar di luar ruangan.

“Ada kegiatan belajar juga dari PAUD dan TK. Biasanya mereka main dan belajar di sini,” ungkapnya.

Namun, persepsi bahwa taman ini tertutup sudah terlanjur berkembang di kalangan masyarakat. Anto menjelaskan bahwa kebiasaan pintu utama yang jarang dibuka menjadi penyebab utama dari kesalahpahaman ini.

“Biasanya yang megang kunci sedang tugas luar. Tapi pintu kecil di samping pos jaga itu selalu dibuka, jadi warga sebenarnya tetap bisa masuk,” jelasnya.

Warga yang berjualan di sekitar taman, seperti Supriyadi dan Rusliati, juga merasa prihatin dengan situasi ini. Persepsi bahwa taman “tutup” menyebabkan pengunjung enggan datang.

“Sering ada yang niat mau mampir, tapi karena lihat pintu depan ketutup, dikira gak buka. Padahal bisa masuk lewat samping,” ujar Rusliati, yang sehari-hari menjual ubi cilembu di seberang taman.

Selain masalah jam operasional, Supriyadi mengusulkan agar taman dilengkapi dengan fasilitas penunjang seperti ruko kecil atau lapak jualan yang dapat menghidupkan suasana.

“Kalau ada tempat jualan resmi, bisa jadi magnet. Taman jadi rame, pengunjung juga betah,” katanya.

Di tengah kebutuhan masyarakat akan ruang publik yang nyaman dan terbuka, Taman Bojong memerlukan perhatian lebih serius agar keberadaannya tidak sekadar menjadi ‘hiasan kota’.

Dibuka, tetapi seolah tertutup, taman ini harus bisa dimanfaatkan sepenuhnya oleh warga Purbalingga sebagai salah satu ruang publik yang layak dan menarik.

Melihat kebutuhan dan harapan warga, pengelola taman dan pemerintah daerah diharapkan bisa mengambil langkah-langkah strategis untuk mengatasi persepsi keliru tentang taman ini dan menyediakan fasilitas pendukung yang dapat menarik lebih banyak pengunjung.

Dengan demikian, Taman Bojong dapat menjadi salah satu daya tarik utama di Purbalingga dan memberikan manfaat yang lebih besar bagi masyarakat setempat. (tya/stch)

Berita Sebelumnya
Superman 2025

Jadwal Tayang Film Superman 2025 di Bioskop Indonesia Lebih Awal

Berita Selanjutnya
202050608 cara cek status bsu 2025 jmo login bsubpjsketenagakerjaan nik ktp 2031321891 ezgif.com webp to jpg converter (1)

Cara Mudah Cairkan JHT Rp15 Juta Lewat Aplikasi JMO BPJS Ketenagakerjaan 2025