BANYUMASEKSPRES.ID, BANYUMAS – Pada pekan pertama Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) untuk tahun ajaran 2025/2026, dinamika terasa menggeliat di berbagai sekolah negeri di eks-Karesidenan Banyumas.
Di Kabupaten Banyumas, sejumlah siswa dan orang tua tampak mendatangi sekolah-sekolah untuk mencari klarifikasi setelah mengalami penolakan pendaftaran melalui sistem, terutama dalam jalur afirmasi.
Di sisi lain, di Purbalingga, antusiasme terhadap jurusan-jurusan favorit di Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) sangat tinggi.
Pada hari Senin, 16 Juni, Panitia Seleksi Penerimaan Murid Baru (SPMB) di SMAN 1 Banyumas menerima kunjungan dari beberapa calon siswa dan orang tua.
Mereka merasa kebingungan dan kecewa setelah mengalami kegagalan dalam mendaftar melalui jalur afirmasi, meskipun mereka memiliki Kartu Indonesia Pintar (KIP) atau berpartisipasi dalam Program Indonesia Pintar (PIP).
Ketua Panitia SPMB SMAN 1 Banyumas, Satri Yulianti, menjelaskan bahwa meskipun calon siswa memiliki KIP dan PIP, hal itu tidak secara otomatis menjamin mereka lolos jalur afirmasi.
Hal ini disebabkan oleh sistem yang mencocokkan Nomor Induk Kependudukan (NIK) dengan basis data DTKS (Data Terpadu Kesejahteraan Sosial) dari Dinas Sosial Provinsi.
“Calon siswa baru yang punya KIP dan PIP belum tentu lolos jalur afirmasi karena sistem akan menyesuaikan data NIK dengan data base DTKS (Data Terpadu Kesejahteraan Sosial) dari Dinas Sosial Provinsi,” ungkap Satri Yulianti.
Menurut Satri, bila NIK calon siswa tidak tercantum dalam data DTKS, maka sistem secara otomatis akan menolak pendaftaran tersebut.
Dia menambahkan bahwa panitia siap membantu calon siswa untuk menemukan jalur alternatif seperti jalur zonasi atau prestasi. Panitia juga memantau peluang pendaftaran di sekolah lain yang mungkin lebih sesuai.
“Intinya kami dampingi. Kalau gagal jalur afirmasi, kita arahkan ke jalur lain sesuai domisili dan kemampuan akademik,” tambahnya.
Selain masalah afirmasi, beberapa calon siswa juga mengalami kendala teknis lainnya. Beberapa di antaranya adalah kesalahan titik koordinat domisili dan kebingungan dalam mengubah pilihan sekolah setelah terlempar dari jurnal pendaftaran.
Sementara itu, di Purbalingga, dinamika SPMB juga terasa kuat, terutama di beberapa SMK yang memiliki jurusan-jurusan favorit.
Salah satu yang menonjol adalah SMK Negeri 1 Purbalingga, di mana jurusan Pemasaran dengan konsentrasi Bisnis Digital menjadi primadona tahun ini.
Ketua Panitia SPMB SMK Negeri 1 Purbalingga, Suratno, menyatakan bahwa antusiasme terhadap jurusan ini sudah terasa jauh sebelum pendaftaran dibuka secara resmi.
“Tahun lalu jurusan ini sempat viral di medsos. Tahun ini kita buka dua kelas khusus Pemasaran karena pendaftarnya luar biasa banyak,” ujar Suratno pada Sabtu, 14 Juni.
Selain jurusan Pemasaran, SMK tersebut juga menawarkan jurusan-jurusan lain seperti Akuntansi, Perkantoran, Teknik Jaringan, Pengembangan Perangkat Lunak dan GIM, Kecantikan, hingga Kuliner.
Pada hari pertama pendaftaran saja, tercatat sebanyak 996 calon siswa telah melakukan aktivasi dan verifikasi data.
Sekolah juga telah menyiapkan posko bantuan teknis untuk mempermudah proses pendaftaran daring.
“Hampir tidak ada kendala besar, paling soal lupa password atau unggah dokumen,” jelas Suratno.
Dua calon siswa, Amel dan Mesya, yang memilih jurusan Bisnis Digital berharap dapat berkembang dan menyalurkan minat mereka di sekolah kejuruan tersebut.
“Excited banget. Semoga bisa keterima dan belajar banyak,” ungkap Amel dengan penuh harap.
Dengan suasana yang beragam ini, pekan pertama PPDB di eks-Karesidenan Banyumas menghadirkan tantangan sekaligus peluang bagi para calon siswa.
Kesigapan pihak sekolah dalam memberikan solusi dan arahan sangat dibutuhkan agar proses penerimaan dapat berjalan lancar dan transparan, serta memberikan kepuasan kepada semua pihak yang terlibat. (fij/mnz/stch)
















