Banyumas Ekspres
Dark ModeLight Mode
Olivia Rodrigo Kehilangan 60 Persen Pendengaran di Telinga Kiri
Harga Ayam Broiler Hanya 16 Ribu per Kg, Peternak Rugi Ratusan Juta

Harga Ayam Broiler Hanya 16 Ribu per Kg, Peternak Rugi Ratusan Juta

Peternak Ayam Broiler Rugi Ratusan JutaPeternak Ayam Broiler Rugi Ratusan Juta
MERAWAT: Peternak ayam memberi pakan pada ayam ternaknya

BANYUMASEKSPRES.ID, JAKARTA – Peternak ayam pedaging, atau yang biasa dikenal dengan ayam broiler, kini kembali mengeluhkan harga jual ayam di tingkat kandang yang tetap rendah.

Situasi ini telah menjadi perhatian serius di kalangan peternak, mengingat harga ayam hidup saat ini hanya berkisar antara Rp 15.500 hingga Rp 16.000 per kilogram (kg).

Angka tersebut jauh di bawah Harga Acuan Pembelian (HAP) yang ditetapkan pemerintah sebesar Rp 25 ribu per kg.

Asep Saepudin, seorang peternak yang tergabung dalam Perhimpunan Peternak Rakyat Mandiri Indonesia (Permindo), menyampaikan bahwa kondisi ini telah menyebabkan banyak peternak mengalami kerugian yang cukup signifikan.

“Harga masih ke tahan Rp 15.500-16 ribu/kg. Belum bisa naik lagi. Kerugian ratusan juta kalau yang punya populasi besar,” ujar Asep pada Sabtu, 13 Juni 2026.

Kondisi ini sangat mencemaskan bagi para peternak, terutama mereka yang memiliki populasi ayam dalam jumlah besar.

Dalam situasi ini, kerugian tidak hanya bersifat finansial tetapi juga berdampak pada seluruh ekosistem peternakan di Indonesia.

Kenaikan biaya produksi yang terus terjadi, terutama akibat lonjakan harga pakan, semakin memperburuk keadaan.

Ketua Umum Permindo, Kusnan, juga menambahkan bahwa harga anak ayam atau day old chick (DOC) saat ini masih tinggi, sehingga hal itu semakin menambah beban bagi para peternak.

“Artinya, peternak harus menanggung kerugian Rp 5 ribu hingga Rp 7 ribu untuk setiap kilogram ayam yang dijual,” kata Kusnan.

Dengan demikian, margin keuntungan semakin menyusut dan menjadikan usaha peternakan ayam broiler sebagai ladang kerugian bagi banyak pihak.

Dari sudut pandang ekonomi, situasi ini tidak hanya mempengaruhi peternak tetapi juga berpotensi mengganggu kestabilan pasokan daging ayam di pasar.

Ketika harga jual di tingkat peternakan tertekan seperti saat ini, maka akan ada dampak lanjutan terhadap konsumen dan pasar secara keseluruhan.

Hal ini menjadi masalah serius bagi keamanan pangan di Indonesia yang sudah menghadapi berbagai tantangan sebelumnya.

Permindo telah mengambil langkah proaktif untuk mengatasi persoalan ini dengan mengajukan sejumlah usulan kepada pemerintah.

Salah satu usulan penting adalah memperluas pemasaran produk unggas melalui ritel modern.

Langkah ini diharapkan dapat memberikan akses lebih baik bagi para peternak untuk menjangkau konsumen secara langsung dan meningkatkan daya saing produk mereka.

Selain itu, Permindo juga mendorong peningkatan penyerapan ayam dan telur melalui Badan Usaha Milik Negara (BUMN) pangan.

Ini merupakan langkah strategis untuk memastikan bahwa produk unggas dapat terserap dengan baik di pasar domestik.

Dengan adanya dukungan dari BUMN pangan, diharapkan dapat tercipta stabilitas harga dan mengurangi fluktuasi yang selama ini dialami oleh para peternak.

Lebih lanjut, Kusnan mengusulkan agar produk unggas dimasukkan ke dalam berbagai program pemerintah seperti Makan Bergizi Gratis (MBG) dan program penanganan stunting. Program-program tersebut tidak hanya akan mendukung kesehatan masyarakat tetapi juga memberikan dampak positif bagi keberlangsungan usaha para peternak.

Salah satu solusi jangka panjang yang diajukan oleh para peternak adalah pembentukan Cadangan Protein Hewani Nasional berbasis ayam dan telur.

Konsep cadangan protein hewani ini bertujuan untuk menjaga stabilitas harga di tingkat peternakan ketika terjadi kelebihan pasokan atau situasi darurat pangan lainnya.

Dengan adanya cadangan tersebut, pemerintah dapat bertindak cepat untuk menyerap surplus ayam sehingga harga tidak jatuh terlalu rendah. (*/stch/dda)

Berita Sebelumnya
Telinga Kiri Alami Gangguan

Olivia Rodrigo Kehilangan 60 Persen Pendengaran di Telinga Kiri