Banyumas Ekspres
Dark ModeLight Mode

Harga Tiket Mahal dan Cuaca Panas Jadi Penyebab Kursi Stadion Kosong di Piala Dunia 2026

Kursi Kosong Stadion Jadi SorotanKursi Kosong Stadion Jadi Sorotan
TRIBUN PENONTON: Para penonton mulai berdatangan jelang laga Grup C Piala Dunia 2026 antara Brasil vs Maroko di East Rutherford, New Jersey, dekat New York

BANYUMASEKSPRES.ID, Pemandangan kursi kosong yang mencolok di beberapa pertandingan awal Piala Dunia 2026 telah memicu banyak pertanyaan dari para suporter.

Dalam berbagai siaran televisi dan diskusi media sosial, sejumlah stadion terlihat jauh dari penuh meski FIFA, badan pengatur sepak bola dunia, melaporkan angka kehadiran yang nyaris mencapai kapasitas maksimal.

Sorotan terbesar muncul pada laga antara Korea Selatan melawan Republik Ceko di Guadalajara serta pertandingan Qatar kontra Swiss di Santa Clara.

Dalam pertandingan Korea Selatan melawan Republik Ceko yang berlangsung di Stadion Akron, Guadalajara, FIFA mencatat kehadiran resmi sebanyak 44.985 penonton dari total kapasitas stadion yang bisa menampung 45.664 kursi.

Dengan angka ini, stadion hanya kekurangan 679 kursi dari kapasitas penuh.

Namun, banyak penonton yang menyaksikan pertandingan tersebut mengeluhkan pemandangan hamparan kursi kosong, terutama di tribun bawah dan area VIP.

Harga tiket yang mencapai sekitar 500 dolar AS juga menjadi sorotan bagi warga lokal, yang menganggap harga tersebut terlalu mahal untuk sebuah laga nonunggulan.

Meskipun demikian, atmosfer stadion tetap didominasi oleh suporter Meksiko yang diperkirakan memenuhi sekitar dua pertiga dari total kapasitas stadion.

Sebagian besar penonton lainnya memberikan dukungan kepada tim Korea Selatan.

Dalam konteks ini, FIFA akhirnya memberikan penjelasan terkait perbedaan antara angka resmi kehadiran dan kondisi stadion yang terlihat di layar televisi.

Menurut pernyataan resmi FIFA, penghitungan kehadiran tidak didasarkan pada jumlah kursi yang terisi secara visual.

“Angka kehadiran resmi mencerminkan jumlah tiket yang telah dipindai dan penonton yang berada dalam area stadion,” ungkap FIFA dalam pernyataannya.

Penjelasan ini menunjukkan bahwa metode penghitungan mereka lebih kompleks daripada sekadar melihat jumlah kursi terisi.

FIFA juga menambahkan bahwa ada sejumlah penonton yang memilih untuk berada di area concourse atau koridor stadion alih-alih duduk di kursi mereka selama pertandingan berlangsung.

Data mengenai kehadiran tersebut disebut berasal dari informasi operasional yang telah diverifikasi oleh pihaknya.

Fenomena serupa kembali terlihat saat Qatar bermain imbang dengan Swiss dengan skor 1-1 di Levi’s Stadium, Santa Clara.

Dalam pertandingan ini, FIFA mencatat kehadiran resmi sebanyak 67.966 penonton dari kapasitas stadion sebanyak 68.827 kursi.

Namun sekali lagi, banyak kursi kosong terlihat tersebar di hampir seluruh tribun selama pertandingan berlangsung.

Atmosfer sebelum kick-off memang ramai dengan sorakan pendukung kedua tim, tetapi jumlah penonton yang tampak duduk di tribun berkurang seiring berjalannya waktu.

Cuaca panas California diduga menjadi salah satu faktor penyebab kondisi ini.

Levi’s Stadium yang memiliki desain terbuka membuat banyak penonton memilih untuk berteduh di area dalam stadion selama laga berlangsung.

Media lokal San Francisco, SFGate, melaporkan bahwa banyak suporter terlihat berdiri di belakang tribun atau mengantre makanan dan minuman setelah jeda pendinginan pertama pertandingan berlangsung.

Hal ini menunjukkan bahwa meskipun secara resmi angka kehadiran menunjukkan tingkat partisipasi yang tinggi, pengalaman nyata para penonton dapat berbeda secara signifikan.

FIFA sendiri tidak memberikan komentar tambahan terkait laga Qatar melawan Swiss meskipun perdebatan mengenai fenomena kursi kosong terus berkembang baik di kalangan media maupun publik.

Meski demikian, data resmi FIFA menunjukkan bahwa enam pertandingan pertama Piala Dunia 2026 secara keseluruhan hanya kekurangan 1.574 penonton dari total kapasitas stadion yang tersedia.

Kondisi ini menyoroti pentingnya memahami bagaimana data kehadiran dihitung dan disajikan kepada publik serta bagaimana persepsi dapat berlawanan dengan kenyataan yang ada di lapangan.

Para suporter memiliki hak untuk mempertanyakan angka-angka tersebut ketika melihat kenyataan berbeda dari apa yang disampaikan oleh otoritas penyelenggara.

Berdasarkan pengalaman sebelumnya dalam acara olahraga besar lainnya, isu serupa sering kali muncul ketika terdapat perbedaan antara data statistik dan pengalaman langsung orang-orang di lokasi acara.

Fenomena kursi kosong bukanlah hal baru dalam dunia olahraga; namun Piala Dunia adalah ajang prestisius dengan perhatian global sehingga setiap detail menjadi sorotan utama.

Dalam konteks ini, penting bagi FIFA untuk menjaga transparansi mengenai penghitungan data kehadiran agar dapat membangun kepercayaan dengan para suporter dan pemangku kepentingan lainnya dalam industri sepak bola global.

Penjelasan tentang bagaimana dan mengapa angka-angka tersebut dihitung sangat krusial untuk memastikan bahwa semua pihak merasa terlibat dan dihargai dalam proses penyelenggaraan turnamen bergengsi ini.

Dengan menyediakan pemahaman yang lebih baik mengenai metodologi penghitungan kehadiran penonton serta tantangan logistik seperti cuaca dan harga tiket, FIFA dapat membantu meredakan ketegangan serta kritik dari berbagai pihak terkait isu ini. (*/stch/dda)

Berita Sebelumnya
Puluhan PJU di Soekarno Hatta Diganti

Pemkab Cilacap Ganti 37 Tiang PJU di Jalan Soekarno-Hatta, Lebih Modern dan Terang

Berita Selanjutnya
Infrastruktur Desa Kembangan Andalkan Dana Aspirasi

Keterbatasan Dana Desa, Pemdes Kembangan Purbalingga Andalkan Aspirasi untuk Bangun Infrastruktur