Banyumas Ekspres
Dark ModeLight Mode

Industri Baja Nasional Tembus Pasar AS, Nilai Ekspor Capai Rp205 Miliar

Ekspor 10.000 ton baja lapis ke amerika serikatEkspor 10.000 ton baja lapis ke amerika serikat
Krakatau Steel dan PT Tata Metal Lestari ikut mendorong ekspor baja lapis ke Amerika Serikat dengan pengiriman 10 ribu ton senilai lebih dari Rp205 miliar

BANYUMASEKSPRES.ID, Industri baja dalam negeri kembali mencatat prestasi signifikan dengan berhasil memasuki pasar Amerika Serikat. Pengiriman baja lapis ke AS ini bukan hanya soal nilai ekspor, tetapi juga mencerminkan daya saing industri nasional yang semakin kuat di pasar global.

PT Tata Metal Lestari dan Krakatau Steel menjadi dua perusahaan yang berperan besar dalam ekspor baja lapis ke Negeri Paman Sam. Pengapalan terbaru dilakukan pada Juli 2025, dengan total volume mencapai 10.000 ton senilai lebih dari Rp205 miliar.

Ekspor baja ini termasuk dalam pengiriman keempat sepanjang tahun 2025. Jika tren ini terus berlanjut, total ekspor bisa mencapai 69.000 ton hingga akhir tahun, meningkat 133 persen dari capaian pada tahun sebelumnya.

Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita memberikan apresiasi terhadap pencapaian tersebut. Ia menyatakan bahwa keberhasilan ekspor baja ke AS menegaskan kemampuan industri dalam negeri untuk bersaing di pasar yang sangat selektif.

“Agar daya saing meningkat, pelaku industri nasional perlu meningkatkan efisiensi dalam proses produksi sehingga produk yang dihasilkan memiliki nilai tambah lebih tinggi,” ujar Agus.

Ia juga menekankan pentingnya mendorong inovasi dan peningkatan kualitas produk baja nasional. Meski ekspor ini menghadapi tarif impor tinggi dari pemerintah AS, produk asal Indonesia tetap berhasil masuk dan diminati pasar.

Menurut Agus, hal ini merupakan bentuk ketahanan industri dalam menghadapi proteksionisme global. “Itu adalah pengiriman keempat,” ujarnya, menandakan bahwa ekspor berjalan secara konsisten.

Vice President PT Tata Metal Lestari, Stephanus Koeswandi, mengungkapkan bahwa permintaan baja lapis dari Indonesia tetap tinggi meskipun bea masuk AS bisa mencapai 50 persen. Produk seperti Nexalume®, Nexium®, dan Nexcolor® tetap jadi pilihan karena kualitasnya.

“Walau begitu, baja berkualitas dari Krakatau Steel serta Tata Metal masih diminati dan menjadi opsi favorit bagi konsumen di Amerika Serikat,” ujarnya.

Stephanus juga menambahkan bahwa penurunan tarif resiprokal dari 32 persen ke 19 persen membantu memperluas pasar hilir Indonesia di luar negeri. Ia menyebut kerja sama dengan Krakatau Steel sebagai sinergi strategis dalam memperkuat rantai pasok nasional.

Direktur Utama Krakatau Steel, Muhamad Akbar Djohan, menyatakan bahwa ekspor ini merupakan bukti kemampuan Indonesia dalam menghasilkan produk baja lapis bernilai tambah tinggi. Ia melihat peluang besar ke depan bagi industri baja dalam negeri untuk memperluas ekspansi.

Menurutnya, hilirisasi dan peningkatan efisiensi akan menjadi kunci pertumbuhan berkelanjutan. Ia juga menilai ekspor ke AS sebagai indikator bahwa standar internasional bisa dipenuhi oleh pabrikan nasional.

Produk baja lapis yang diekspor digunakan dalam berbagai sektor industri seperti konstruksi, otomotif, dan manufaktur. Permintaan di pasar global terhadap jenis baja ini terus tumbuh, khususnya di negara-negara maju.

Pemerintah pun mendorong industri baja nasional untuk meningkatkan kapasitas produksi. Target jangka panjangnya adalah mencapai 27 juta ton produksi terpasang pada 2029, naik dari sekitar 21 juta ton saat ini.

Pengiriman baja lapis ke Amerika Serikat turut memberi dampak signifikan bagi keseimbangan neraca perdagangan Indonesia. Selain menyumbang devisa, keberhasilan ini juga membantu memperkuat citra produk Indonesia di mata dunia.

Keberhasilan tersebut menjadi salah satu indikator bahwa transformasi industri dari bahan mentah ke produk hilirisasi mulai menunjukkan hasil konkret. Industri dalam negeri kini tak hanya berorientasi pasar domestik, tapi juga ekspor bernilai tinggi.

Langkah pemerintah dan pelaku industri ini juga sejalan dengan strategi ekonomi nasional yang mengedepankan ekspor sebagai pilar pertumbuhan. Di tengah tekanan global, pencapaian ekspor baja ini memberi harapan sekaligus momentum baru.

Dengan kerja sama yang erat antara perusahaan dan dukungan kebijakan dari pemerintah, Indonesia kini lebih siap dalam menghadapi persaingan industri baja global. Ekspor ke Amerika Serikat adalah awal dari langkah yang lebih luas. (Okt)

Berita Sebelumnya
Anggaran sekolah gratis capai rp 180 triliun

Anggaran Sekolah Gratis Capai Rp 180 Triliun, Prioritaskan Pendidikan di Wilayah 3T

Berita Selanjutnya
Kasus ijazah palsu jokowi

Jokowi Minta Penundaan Pemeriksaan Terkait Ijazah Palsu, Ini Alasannya