BANYUMASEKSPRES.ID, MAGELANG – Sugiyo, seorang jemaah umroh dari Krajan 1, Kecamatan Secang, Kabupaten Magelang, baru saja kembali ke tengah-tengah keluarganya setelah mengalami pengalaman dramatis tersesat di Makkah selama tujuh hari.
Pada Minggu (16/11), akhirnya ia tiba kembali di rumahnya, setelah sebelumnya ditemukan di kawasan Abdullah Areef Street, Makkah, pada Kamis (13/11).
Ketika ditemui oleh awak media di kediamannya pada Senin (17/11), Sugiyo berbagi kisah tentang pengalamannya selama tersesat di Tanah Suci.
Ia mengungkapkan bahwa insiden tersebut bermula ketika dirinya berusaha menyusul rombongan yang sedang menunaikan ibadah.
Namun, dalam upayanya itu, ia kehilangan arah untuk kembali ke hotel dan tidak membawa identitas diri maupun kartu ID yang seharusnya selalu dibawa oleh setiap jemaah umroh.
“Saya terus berjalan dan mencari orang Indonesia, tapi tidak ketemu,” ujar Sugiyo dengan nada lirih.
Selama tujuh hari itu, ia hampir tidak makan, tidak mandi, dan tidak berganti pakaian. Sugiyo bertahan hidup dengan meminum air yang tersedia di masjid-masjid sekitar.
“Biasanya saya jalan susah, tapi di sana lancar jalannya. Tidak lemas meskipun tidak makan atau minum obat,” tutur pria kelahiran Kulonprogo, Yogyakarta tahun 1967 ini.
Selama masa tersesatnya, Sugiyo sering tidur di halte atau trotoar. Suatu ketika, ia bertemu dengan seseorang asal Palestina yang dengan baik hati membantunya untuk mencari taksi menuju kantor Kedutaan Indonesia.
Namun sayangnya, setibanya di sana kantor tersebut sedang sepi dan petugas keamanan yang berjaga tidak memahami bahasa yang digunakannya.
Sugiyo membawa sedikit uang saat itu dan sebagian besar adalah dalam bentuk rupiah. Demi membeli kebutuhan sehari-hari, ia menggunakan bahasa isyarat untuk berkomunikasi.
“Pernah mau beli teh, tapi malah ngambil minyak goreng karena tidak paham tulisan di kemasannya,” kenangnya sambil tertawa getir.
Tim SAR Arab Saudi akhirnya menemukan Sugiyo dan segera melakukan serangkaian pengecekan kesehatan terhadapnya.
Meski menghadapi kendala bahasa, ia sempat meminta dipertemukan dengan orang Indonesia lainnya namun hal itu sulit terwujud karena keterbatasan bahasa yang dimilikinya.
Pengalaman pahit ini ternyata tidak membuat Sugiyo jera untuk kembali ke Tanah Suci.
“Kalau punya rezeki, pengen ke sana lagi,” katanya penuh harap.
Ia juga memberikan pesan penting kepada para jemaah umroh Indonesia agar senantiasa membawa ID card kemanapun mereka pergi selama berada di Tanah Suci.
Di rumahnya, istri Sugiyo Siti Hidayati menyatakan rasa syukurnya atas kembalinya sang suami dalam keadaan sehat walafiat.
“Bapak ini punya riwayat darah tinggi dan biasa minum obat. Kemarin di sana tidak makan dan hanya minum air saja. Alhamdulillah sehat,” ungkap Siti saat mendampingi suaminya.
Kembali ke kehidupan normalnya usai pengalaman yang penuh tantangan ini tentu bukanlah hal mudah bagi Sugiyo.
Setelah kembali ke rumahnya di Magelang saudara-saudara serta tetangga berdatangan silih berganti untuk melihat kondisi Sugiyo sekaligus berbagi rasa syukur atas keselamatannya.
Peristiwa ini menyadarkan kita betapa pentingnya persiapan matang sebelum melaksanakan ibadah haji atau umroh terutama dalam hal dokumentasi diri serta kemampuan berkomunikasi dalam bahasa asing guna menghindari hal serupa terjadi pada jemaah lainnya.
Kasus seperti yang dialami Sugiyo ini memang jarang terjadi namun bukan berarti bisa dianggap remeh begitu saja oleh calon-calon jemaah lainnya dari berbagai daerah termasuk Magelang ataupun wilayah-wilayah lainnya di Indonesia. (*stch/dda)
















