BANYUMASEKSPRES.ID, BANYUMAS – Sebuah barong yang selama bertahun-tahun hanya tersimpan akhirnya kembali menjadi bagian dari pertunjukan.
Benda berbentuk kepala singa tersebut menjadi saksi kebangkitan Paguyuban Kuda Kepang Purbo Turonggo Utomo Desa Nusadadi, Kecamatan Sumpiuh, Banyumas, setelah kesenian ebeg itu sempat mati suri selama hampir 15 tahun.
Selama belasan tahun, suara gamelan dan hentakan kaki para penari tidak lagi terdengar.
Para pemain yang sebelumnya aktif dalam pertunjukan memilih merantau demi mencari penghidupan. Akibatnya, aktivitas paguyuban perlahan berhenti.
Kuda kepang, pakaian pertunjukan, dan sejumlah perlengkapan lainnya juga mulai rusak karena lama tidak digunakan. Namun, sebuah barong masih bertahan.
Benda tersebut seolah menjadi peninggalan yang menyimpan jejak perjalanan kesenian kuda kepang atau ebeg Banyumas di Desa Nusadadi.
Pendamping Paguyuban Kuda Kepang Purbo Turonggo Utomo, Aji Joko Priono, menceritakan bahwa kebangkitan kelompok kesenian tersebut bermula dari cerita yang tidak biasa.
Setelah sekitar 15 tahun kesenian tersebut berhenti, Ade Setiawan (26), cucu penimbul atau pemimpin spiritual dalam pertunjukan ebeg, mengalami sebuah mimpi.
Dalam mimpi tersebut, Ade merasa didatangi barong.
“Setelah lima belas tahun lamanya, cucu penimbul mimpi didatangi barong,” kata Aji, Rabu (26/8/2026).
Saat itu Ade masih berada di perantauan di luar pulau. Mimpi tersebut kemudian menjadi salah satu titik balik yang membuatnya memutuskan untuk kembali ke kampung halaman.
Kepulangannya bukan sekadar untuk berkumpul bersama keluarga. Ade juga membawa keinginan untuk menghidupkan kembali kesenian yang pernah menjadi bagian penting dari kehidupan masyarakat Soka.
Ia kemudian mulai mengumpulkan uang untuk membeli kembali berbagai perlengkapan kuda lumping.
Upaya tersebut tidak mudah karena sebagian besar perlengkapan lama telah rusak setelah bertahun-tahun tidak digunakan.
Namun, kondisi tersebut tidak menyurutkan semangat untuk menghidupkan kembali paguyuban.
Kebangkitan Paguyuban Kuda Kepang Purbo Turonggo Utomo kemudian mendapatkan sambutan dari generasi muda.
Setiap malam Minggu, Sekretariat Paguyuban Kuda Kepang Purbo Turonggo Utomo di Soka Padon RT 7 RW 2 kembali ramai. Anak-anak mulai berdatangan untuk mengikuti latihan.
Mereka berasal dari berbagai jenjang pendidikan, mulai siswa sekolah dasar (SD), SMP hingga SMA.
Para peserta belajar berbagai gerakan, mengenal kuda kepang, serta memahami kesenian yang sebelumnya banyak dimainkan oleh orang tua dan kakek-nenek mereka.
“Ana anak-anak, generasi penerus ini mayoritas merupakan keturunan para pendahulu Paguyuban Kuda Kepang Purbo Turonggo Utomo,” ujar Aji.
Kehadiran anak-anak tersebut menjadi harapan baru bagi keberlangsungan kesenian tradisional Banyumas.
Mereka tidak hanya belajar gerakan tari, tetapi juga mulai mengenal warisan budaya yang sebelumnya hampir hilang dari lingkungan mereka.
Setelah melalui proses latihan, generasi baru Paguyuban Kuda Kepang Purbo Turonggo Utomo mulai tampil dalam berbagai kegiatan.
Salah satunya adalah TASOKARAN Kemerdekaan RI ke-81, hasil kolaborasi KKN Kelompok 23 UIN Saizu Purwokerto dengan masyarakat Gerumbul Soka pada Sabtu (22/8/2026).
Dalam kegiatan tersebut, anak-anak dan anggota paguyuban kembali membawa kesenian kuda kepang ke hadapan masyarakat.
Penampilan tersebut menjadi bukti bahwa kesenian yang sempat berhenti selama sekitar 15 tahun ternyata belum benar-benar hilang.
Tradisi tersebut masih memiliki peluang untuk berkembang ketika ada generasi yang bersedia mempelajari dan meneruskannya.
Kehadiran paguyuban juga menjadi ruang pertemuan antara generasi lama dengan generasi baru.
Anak-anak memperoleh kesempatan untuk belajar dari warisan leluhur, sementara para pendamping memiliki kesempatan untuk kembali menghidupkan kelompok kesenian yang sempat vakum.
Menariknya, kebangkitan Paguyuban Kuda Kepang Purbo Turonggo Utomo tidak hanya menarik perhatian warga Desa Nusadadi.
Sejumlah masyarakat dari desa lain juga ikut bergabung. Mereka berasal dari Desa Bogangin dan Kemiri, Kecamatan Sumpiuh, kemudian Desa Klumprit, Kecamatan Nusawungu, Kabupaten Cilacap, hingga Desa Wagirpandan, Kecamatan Rowokele, Kabupaten Kebumen.
Paguyuban tersebut membuka kesempatan bagi masyarakat yang ingin belajar dan ikut melestarikan kesenian tradisional.
Tidak ada persyaratan khusus untuk bergabung. Hal terpenting adalah kemauan untuk belajar bersama dan membangun kebersamaan.
“Tidak ada syarat khusus bagi yang ingin bergabung dengan Paguyuban Kuda Kepang Purbo Turonggo Utomo, yang penting mau belajar bersama dan brayan,” tandas Aji yang juga merupakan perangkat Desa Nusadadi.
Keterbukaan tersebut membuat paguyuban tidak hanya menjadi kelompok kesenian milik satu desa.
Secara perlahan, kelompok tersebut menjadi ruang bersama bagi masyarakat yang memiliki ketertarikan terhadap ebeg Banyumas dan kuda kepang.
Selama sekitar 15 tahun, barong menjadi salah satu benda yang tetap bertahan ketika aktivitas paguyuban berhenti. Kini, benda tersebut kembali menjadi bagian dari pertunjukan.
Kisah kebangkitan Paguyuban Kuda Kepang Purbo Turonggo Utomo menunjukkan bahwa kesenian tradisional dapat mengalami masa vakum panjang tanpa harus benar-benar kehilangan masa depannya.
Selama masih ada peninggalan, orang-orang yang peduli, serta generasi muda yang mau belajar, peluang untuk menghidupkan kembali sebuah tradisi tetap terbuka.
Setelah belasan tahun tanpa suara, gamelan kembali dimainkan. Kuda kepang kembali dibawa dalam pertunjukan.
Anak-anak muda mulai belajar kesenian yang sebelumnya menjadi bagian dari kehidupan para pendahulu mereka.
Dan barong yang selama ini hanya menjadi saksi bisu akhirnya kembali melihat para penari tampil di hadapannya.
Kebangkitan tersebut bukan sekadar tentang menghidupkan kembali sebuah paguyuban.
Lebih dari itu, Paguyuban Kuda Kepang Purbo Turonggo Utomo menjadi contoh bagaimana gotong royong dan keterlibatan generasi muda dapat menjaga kesenian tradisional Banyumas agar tidak hilang ditelan zaman. (fij/stch/dda)
















