BANYUMASEKSPRES.ID, JAKARTA – Kementerian Pekerjaan Umum (PU) terus mempercepat penanganan permanen sejumlah jembatan di Provinsi Aceh yang mengalami kerusakan akibat bencana.
Langkah ini dilakukan untuk memulihkan konektivitas antarwilayah, memperlancar distribusi logistik, sekaligus mendukung pertumbuhan ekonomi masyarakat.
Perbaikan infrastruktur tersebut menjadi bagian dari komitmen pemerintah dalam memastikan jalan dan jembatan nasional kembali berfungsi secara optimal sehingga aktivitas masyarakat tidak lagi terganggu akibat kerusakan pascabencana.
Menteri Pekerjaan Umum, Dody Hanggodo, menegaskan bahwa pemerintah memberikan perhatian serius terhadap pemulihan infrastruktur di Aceh, khususnya pada ruas jalan nasional dan jembatan yang terdampak bencana maupun memerlukan penanganan darurat.
Menurutnya, aspek keselamatan masyarakat menjadi prioritas utama dalam setiap pelaksanaan pembangunan infrastruktur.
“Perbaikan dilakukan agar jembatan kembali aman dilalui, sehingga konektivitas masyarakat dan distribusi logistik tetap terjaga,” ujar Dody.
Seluruh pekerjaan dilaksanakan melalui Balai Pelaksana Jalan Nasional (BPJN) Aceh, yang bertanggung jawab mempercepat proses rehabilitasi dan pembangunan kembali infrastruktur strategis di berbagai wilayah provinsi tersebut.
Salah satu proyek yang menunjukkan perkembangan paling signifikan adalah pembangunan Jembatan Lawe Mengkudu I di Kabupaten Aceh Tenggara.
Jembatan ini memiliki peran penting karena menghubungkan wilayah Aceh Tenggara dengan Kabupaten Gayo Lues.
Hingga awal Juli 2026, progres pembangunan jembatan tersebut telah mencapai 83,72 persen.
Jembatan lama yang sebelumnya rusak akibat bencana dibongkar dan diganti dengan konstruksi baru yang dirancang lebih kuat, aman, dan mampu mendukung mobilitas masyarakat dalam jangka panjang.
Selain Jembatan Lawe Mengkudu I, pembangunan permanen Jembatan Lumut di Kabupaten Aceh Tengah juga terus dipercepat. Berdasarkan laporan terbaru, progres fisik proyek telah mencapai 73,80 persen.
Saat ini pekerjaan difokuskan pada pemasangan batu di sisi kiri dan kanan jalan pendekat jembatan.
Tahapan tersebut bertujuan meningkatkan stabilitas konstruksi sekaligus melindungi badan jalan dari potensi kerusakan akibat aliran air maupun kondisi cuaca ekstrem.
Sementara itu, proses rehabilitasi Jembatan Ulee Langa di Kabupaten Aceh Utara juga menunjukkan perkembangan positif. Hingga 1 Juli 2026, progres pembangunan telah mencapai 72,79 persen.
Pekerjaan yang masih berlangsung meliputi proses curing beton untuk menjaga kualitas struktur bangunan serta fabrikasi besi pelat injak sebagai bagian dari tahap akhir penyelesaian konstruksi jembatan.
Tidak hanya fokus pada pembangunan jembatan, Kementerian PU juga mempercepat penanganan permanen sejumlah ruas jalan nasional di Aceh yang terdampak bencana.
Salah satu prioritas adalah Koridor Lintas Timur Aceh, yang mencakup 13 ruas jalan nasional strategis, antara lain ruas Beureunuen–Batas Pidie Jaya, Meureudu–Bireuen, Peureulak–Langsa, hingga Kuala Simpang–Batas Sumatera Utara.
Dari sejumlah lokasi tersebut, pemerintah menargetkan 10 jembatan dapat ditangani secara permanen sepanjang tahun 2026.
Pekerjaan dilakukan di berbagai kabupaten seperti Aceh Tengah, Gayo Lues, Aceh Tenggara, hingga Bener Meriah yang memiliki peran penting sebagai jalur penghubung masyarakat dan distribusi barang.
Melalui percepatan pembangunan infrastruktur ini, pemerintah berharap aktivitas ekonomi masyarakat dapat kembali berjalan normal.
Jalan dan jembatan yang berfungsi dengan baik dinilai menjadi faktor penting dalam memperlancar transportasi hasil pertanian, perdagangan, hingga pelayanan publik di berbagai daerah.
Kementerian PU menegaskan akan terus mengawal penyelesaian seluruh proyek sesuai target agar masyarakat Aceh dapat kembali menikmati akses transportasi yang aman, nyaman, dan andal setelah terdampak bencana. (*/stch/dda)
















