Suhardiman/SMK Negeri 2 Banyumas
CGP Angkatan 11
BANYUMASEKSPRES.ID, Seorang pendidik yang berkomitmen pada pengembangan budaya posistif di sekolah, harus bisa mengintegrasikan berbagai konsep penting dalam praktik pembelajaran.
Antara lain disiplin positif, motivasi perilaku, posisi kontrol restitusi, keyakinan sekolah/kelas, dan segitiga restitusi yang menjadi landasan dalam menciptakan lingkungan belajar yang kondusif dan inspiratif.
Keterkaitan Budaya Positif dengan Filosofi Pendidikan Ki Hajar Dewantara adalah sangat penting untuk menuntun siswa agar mencapai kemerdekaan.
Segitiga restitusi, misalnya, memungkinkan untuk menuntun siswa dalam memahami kesalahan mereka dan mencari solusi.
Keterkaitan Budaya Posistif dengan Nilai dan Peran Guru Penggerak adalah memberikan alat dan pengetahuan yang diperlukan untuk menjadi guru penggerak yang dapat menginspirasi dan memfasilitasi pembelajaran siswa.
Disiplin positif dan posisi kontrol restitusi membantu membangun hubungan yang positif dengan siswa. Sedangkan keterkaitan dengan visi penggerak adalah untuk mewujudkan dan menciptakan perubahan positif serta membangun budaya sekolah yang berpusat pada siswa.
Dalam menerapkan disiplin positif harus fokus pada pengembangan karakter siswa daripada sekedar memberikan hukuman.
Dengan memberikan pilihan dan tanggung jawab, siswa diajak untuk belajar dari kesalahan dan mengembangkan perilaku positif.
Motivasi siswa sangat dipengaruhi oleh faktor internal dan eksternal, oleh karena itu seorang pendidik harus bisa menciptakan lingkungan belajar yang mendukung dan memberikan penghargaan yang sesuai atas prestasi siswa.
Dalam menghadapi masalah perilaku siswa juga pendidik menempatkan sebagai fasilitator daripada sebagai pihak yang menyalahkan dengan menggunakan pendekatan segitiga restitusi yakni siswa diajak untuk bertanggung jawab atas tindakan mereka dan mencari solusi yang tepat.
Dalam menerapkan peraturan sekolah dan kelas perlu dibuat keyakinan sekolah/kelas yang bertujuan untuk membangun budaya positif.
Adanya segitiga restitusi dapat digunakan sebagai alat untuk membantu siswa memahami dampak dari tindakan mereka, bertanggung jawab, dan berkomitmen untuk memperbaiki kesalahan.
Adanya perubahan paradigma dalam memandang hukuman menjadi fokus pengembangan karakter dapat menciptakan budaya positif dan lebih mudah mempengaruhi perilaku siswa.
Karena dalam proses pembuatan keputusan dan pemecahan masalah siswa merasa dihargai dan memiliki rasa baik di sekolah maupun di kelas.
Dampak yang timbul sangat positif antara lain siswa menjadi lebih aktif, kreatif, dan bertanggung jawab serta merasa lebih nyaman dan aman baik di sekolah maupun di kelas.
Selain itu juga siswa akan mudah berpartisipasi dalam pembelajaran yang mengakibatkan hubungan antara guru dan siswa menjadi lebih baik dan mudah untuk dibimbing.
Akan tetapi dalam penerapan tersebut dibutuhkan kesabaran, dukungan rekan guru sejawat serta sumber daya yang cukup , baik dalam bentuk waktu, materi, maupun dukungan dari sekolah.
Salah satu contoh penerapan budaya positif yang bisa dilaksanakan adalah dalam membuat kesepakatan kelas siswa selalu dilibatkan, sehingga apabila ada siswa yang melanggar kesepakatan, guru tidak langsung memberikan hukuman, melainkan mengajak siswa untuk berdiskusi tentang dampak perbuatannya dan mencari solusi bersama. Dalam merumuskan keyakinan kelas harus mengutamakan saling menghormati, kerja sama, dan integritas.
Adanya budaya positif sangat berpengaruh dalam proses pembelajaran karena dapat memberikan respon baik pada guru tersebut, yakni guru merasa senang dan puas melihat siswa mampu menyelesaikan konflik secara damai, kondusif dan positif.
Selain respon guru juga siswa merasa dihargai dan diterima apa adanya karena ikut terlibat dalam proses pembelajaran serta memiliki kesempatan untuk mengembangkan potensi diri.
Penerapan konsep-konsep Budaya positif dapat menciptakan hal-hal positif, antara lain: peningkatan iklim kelas menjadi menyenangkan, motivasi belajar siswa meningkat, mengembangkan ketrampilan sosial emosional siswa dan kedisplinan meningkat serta hubungan antara guru dan siswa terjalin dengan baik.
Budaya positif yang sering dipakai oleh guru adalah posisi kontrol penghukum atau pemantau.
Hal itu terjadi karena adanya tekanan untuk menjaga ketertiban, kurangnya pemahaman tentang motivasi siswa serta kurangnya ketrampilan dalam membangun hubungan antara guru dan siswa.
Akan tetapi seiring dengan perubahan waktu seorang guru akan menggunakan posisi kontrol sebagai manajer atau teman karena adanya peningkatan pemahaman tentang motivasi, hubungan yang baik serta fokus pada solusi jangka panjang.
Hal tersebut dipengaruhi oleh pergeseran paradigma tentang pendalaman kurikulum merdeka.















