BANYUMASEKSPRES.ID, Kimpul menjadi salah satu bahan pangan lokal yang kembali ramai dibicarakan setelah muncul dalam berbagai konten TikTok pada Agustus 2026. Umbi yang selama ini lebih dikenal di sejumlah daerah tersebut menarik perhatian karena bisa digunakan sebagai bahan pengganti dalam berbagai kreasi makanan.
Fenomena ini membuat kimpul semakin dikenal masyarakat luas, termasuk generasi muda yang sebelumnya mungkin belum pernah mengolahnya. Tren tersebut sekaligus membuka kembali pembahasan mengenai potensi umbi lokal sebagai bagian dari diversifikasi pangan Indonesia.
Kimpul memiliki nama ilmiah Xanthosoma sagittifolium dan sering disebut sebagai talas Belitung. Tanaman ini masih satu famili dengan talas, tetapi secara ilmiah berbeda dari talas yang umum dikenal sebagai Colocasia esculenta.
Sebagai bahan pangan, kimpul mengandung karbohidrat yang cukup tinggi sehingga berpotensi menjadi sumber energi alternatif. Data penelitian menunjukkan 100 gram kimpul mengandung sekitar 145 kalori, 34,2 gram karbohidrat, 1,2 gram protein, 0,4 gram lemak, serta sekitar 1,5 gram serat.
Kimpul juga memiliki sejumlah mineral dan vitamin yang dibutuhkan tubuh. Penelitian mengenai kandungan gizinya mencatat adanya kalsium, magnesium, fosfor, kalium, zat besi, vitamin C, niasin, serta vitamin B1 dan B2 dalam umbi tersebut.
Kandungan tersebut membuat kimpul menarik untuk dikembangkan sebagai bahan pangan alternatif. Pemanfaatannya juga dapat mendukung upaya memperkenalkan kembali sumber karbohidrat lokal yang selama ini belum banyak digunakan masyarakat.
Kimpul termasuk umbi yang cukup fleksibel untuk diolah menjadi makanan sehari-hari. Umbi ini dapat direbus atau digoreng, kemudian dikembangkan menjadi keripik, getuk, tepung, kue, biskuit, hingga berbagai produk pangan modern.
Pengolahan menjadi tepung membuat pemanfaatan kimpul semakin luas karena bahan tersebut dapat digunakan sebagai campuran berbagai produk makanan. Sejumlah penelitian bahkan telah mengkaji pati kimpul untuk pengembangan produk pangan dan teknologi pengolahan.
Potensi tersebut membuat kimpul tidak hanya menarik sebagai makanan tradisional, tetapi juga sebagai bahan baku inovasi kuliner. Kreativitas masyarakat di media sosial kemudian dapat membantu memperkenalkan bahan pangan tersebut kepada konsumen yang lebih muda.
Di balik kandungan gizinya, kimpul memiliki satu hal penting yang harus diperhatikan, yaitu kandungan oksalat. Senyawa tersebut dapat menimbulkan rasa gatal atau iritasi pada mulut dan tenggorokan apabila kimpul tidak diolah dengan tepat.
Karena itu, kimpul sebaiknya tidak dikonsumsi dalam keadaan mentah dan perlu melalui proses pengolahan yang sesuai. Penelitian menunjukkan bahwa perendaman dapat membantu menurunkan kadar oksalat pada umbi kimpul sebelum bahan tersebut dimasak atau diolah menjadi produk pangan.
Sebuah penelitian mengenai pengurangan oksalat menemukan bahwa perlakuan perendaman menggunakan larutan asam asetat dapat menurunkan kadar oksalat pada kimpul secara signifikan. Temuan tersebut memperlihatkan bahwa proses pengolahan memiliki peran penting dalam meningkatkan keamanan dan kualitas bahan pangan.
Kepopuleran kimpul di TikTok menunjukkan bahwa media sosial dapat membantu mengangkat kembali bahan pangan yang sebelumnya kurang mendapat perhatian. Bahan sederhana seperti kimpul dapat terlihat lebih menarik ketika diolah menjadi makanan yang sesuai dengan tren kuliner masa kini.
Potensi kimpul sebenarnya telah lama menjadi perhatian dalam penelitian pangan, terutama terkait kandungan pati, karakteristik tepung, serta pemanfaatannya dalam berbagai produk. Artinya, tren media sosial tersebut dapat menjadi pintu masuk untuk mengenalkan hasil penelitian dan potensi kimpul kepada masyarakat secara lebih luas.
Pengembangan kimpul juga sejalan dengan kebutuhan diversifikasi pangan agar masyarakat tidak hanya bergantung pada satu jenis sumber karbohidrat. Dengan pengolahan yang tepat, umbi lokal ini dapat memiliki nilai ekonomi lebih tinggi sekaligus membuka peluang usaha bagi masyarakat. (mdr)
















