BANYUMASEKSPRES.ID, CILACAP – Melalui upaya untuk memperkuat sinergi dan meningkatkan efektivitas dalam penanganan bencana, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Cilacap telah meluncurkan program inovatif bernama “Si Gula Kopi.”
Kepala BPBD Cilacap, Bayu Prahara, menjelaskan bahwa “Si Gula Kopi” bukan sekadar akronim, tetapi juga mengandung filosofi mendalam.
Filosofi ini dianalogikan seperti gula dan kopi yang bersatu dalam satu cangkir, menggambarkan integrasi dari berbagai elemen penting dalam penanggulangan bencana.
Bayu menuturkan bahwa cangkir diibaratkan sebagai BPBD itu sendiri, sementara gula dan kopi melambangkan instansi atau lembaga terkait yang harus bersinergi dan saling melengkapi dalam upaya menanggulangi bencana.
“Gula dan kopi berada dalam satu cangkir sebagai simbol dari integrasi berbagai elemen penanggulangan bencana,” ungkap Bayu kepada awak media pada Selasa (15/7).
Selama ini, penanganan bencana di Kabupaten Cilacap dilakukan dengan pendekatan berdasarkan klaster masing-masing.
Klaster tersebut mencakup aspek sosial, kesehatan, logistik, dan lainnya. Namun, pendekatan semacam ini dinilai belum sepenuhnya efisien untuk merespons bencana secara menyeluruh dan efektif.
“Dengan adanya Program Si Gula Kopi, kami ingin memastikan seluruh klaster dapat bergerak secara terintegrasi dalam satu sistem. Dengan demikian, respon terhadap kebencanaan dapat menjadi lebih cepat, efektif, dan optimal,” tegas Bayu.
Program ini juga mengusung konsep Penthahelix yang mengedepankan kolaborasi dari lima elemen penting.
Elemen-elemen tersebut meliputi pemerintah, masyarakat, akademisi, dunia usaha, dan media massa. Media massa memegang peranan krusial sebagai penyampai informasi yang tepat waktu dan akurat kepada publik.
“Penyebaran informasi melalui media menjadi bagian vital dari sistem peringatan dini serta edukasi publik tentang kebencanaan,” tambah Bayu.
Melalui program Si Gula Kopi ini, koordinasi internal terkait penanganan bencana akan diperkuat dengan BPBD sebagai sektor utama atau leading sector.
BPBD Cilacap berharap melalui pendekatan integratif ini kesadaran serta kesiapsiagaan masyarakat terhadap ancaman bencana dapat meningkat secara signifikan.
Selain itu, kolaborasi lintas sektor diharapkan akan memperkuat kapasitas daerah dalam menghadapi berbagai risiko bencana yang mungkin terjadi.
Harapan besar dari pelaksanaan program ini adalah terbangunnya kesadaran kolektif serta kesiapan tinggi dari setiap elemen masyarakat dalam menghadapi potensi bencana.
Kesadaran ini tidak hanya terbatas pada tindakan pencegahan tetapi juga mencakup kemampuan untuk merespons dengan cepat dan tepat ketika bencana terjadi.
Sebagai bagian dari penguatan kapasitas daerah dalam menghadapi ancaman bencana alam maupun non-alam, BPBD bersama lembaga terkait terus melakukan pemantauan serta evaluasi terhadap peralatan dan sumber daya manusia yang dimiliki.
Hal ini sejalan dengan tinjauan rutin oleh Bupati Cilacap terhadap kesiapsiagaan alat-alat milik BPBD serta lembaga terkait lainnya.
Pemantauan berkala tersebut bertujuan memastikan bahwa semua peralatan operasional berada dalam kondisi baik dan siap digunakan kapan saja diperlukan.
Kesiapan alat-alat tanggap darurat memainkan peranan penting dalam menentukan seberapa cepat respon bisa dilakukan saat terjadi keadaan darurat.
Menghadapi tantangan kebencanaan yang semakin kompleks akibat perubahan iklim global maupun faktor lain seperti urbanisasi cepat di kota-kota besar termasuk Cilacap sendiri menuntut peningkatan kemampuan adaptif setiap elemen baik di tingkat pemerintah maupun masyarakat umum. (jul/stch)
















