BANYUMASEKSPRES.ID, KEBUMEN – Warga Desa Indrosari, Kecamatan Buluspesantren, Kabupaten Kebumen, berharap pemerintah segera melakukan perbaikan permanen terhadap Jembatan Indrosari yang rusak sejak diterjang banjir pada Oktober 2025.
Hingga kini, jembatan yang menjadi akses utama masyarakat tersebut belum juga mendapatkan penanganan menyeluruh.
Jembatan Indrosari memiliki peran penting sebagai penghubung ruas jalan Arjowinangun–Indrosari.
Selain menjadi jalur mobilitas warga, jembatan juga digunakan untuk menuju area persawahan serta Pasar Hewan Argopeni Kebumen yang menjadi pusat aktivitas ekonomi masyarakat.
Kerusakan bermula ketika hujan deras memicu banjir besar pada akhir Oktober 2025.
Material sampah yang terbawa arus sungai menyumbat aliran air sehingga debit sungai meningkat dan menggerus pondasi jembatan.
Akibatnya, salah satu penyangga bergeser hingga menyebabkan badan jembatan ambrol hampir separuh.
Saat kejadian, tim gabungan dari BPBD dan DPUPR Kabupaten Kebumen sempat melakukan penanganan darurat untuk mengembalikan aliran sungai agar tidak tersumbat.
Namun hingga hampir satu tahun berlalu, perbaikan permanen belum juga terealisasi.
Salah seorang warga, Husni Mubarok, mengaku masyarakat merasa khawatir setiap kali melintasi jembatan tersebut.
Menurutnya, kondisi jembatan yang rusak berpotensi membahayakan keselamatan pengguna jalan, terlebih saat malam hari.
“Sudah hampir setahun belum ada penanganan. Rusaknya karena banjir, banyak sampah terbawa aliran sungai sehingga penyangga di bawah bergeser dan akhirnya ambrol,” ujarnya, Kamis (6/8).
Husni mengatakan dirinya hampir setiap hari menggunakan jembatan tersebut untuk menuju lahan pertanian maupun Pasar Hewan Argopeni.
Ia berharap pemerintah segera melakukan perbaikan karena jembatan tersebut merupakan jalur vital bagi aktivitas masyarakat.
“Kalau lewat pasti ada rasa takut, apalagi jembatan ini bangunan lama peninggalan Belanda. Semoga segera diperbaiki. Kalau malam lebih berbahaya karena gelap dan tidak ada penerangan. Takut ada pengendara yang tidak tahu kondisi jalan lalu terjun ke sungai,” katanya.
Sementara itu, Kepala Desa Indrosari, Chosin, mengungkapkan pemerintah desa sebenarnya telah beberapa kali mengusulkan perbaikan bahkan sebelum jembatan mengalami kerusakan parah akibat banjir.
“Kalau tidak salah waktu itu Desa Indrosari sedang mengadakan Merti Bumi tanggal 12 Oktober 2025. Sekitar seminggu kemudian terjadi banjir, dan akhirnya jembatan ambruk sekitar tanggal 28 Oktober 2025,” jelasnya.
Menurut Chosin, pemerintah desa telah berulang kali melaporkan kondisi jembatan yang mulai mengkhawatirkan kepada pemerintah kabupaten.
Namun hingga jembatan ambrol, usulan tersebut belum mendapat tindak lanjut berupa pembangunan permanen.
“Sebelum ambruk kami sudah beberapa kali mengusulkan agar segera diperbaiki, tetapi belum ada tindak lanjut. Setelah ambruk justru banyak yang datang meninjau. Sampai sekarang belum ada perbaikan,” ujarnya.
Ia menjelaskan kerusakan terjadi pada bagian pelebaran sisi barat jembatan. Penyangga beton di lokasi tersebut tidak mampu menahan derasnya arus banjir yang terus mengikis pondasi.
“Ini murni karena faktor alam. Desa kami memang rawan banjir. Pondasi dihantam arus deras sehingga penyangganya tidak kuat lalu ambruk. Harapannya nanti diperbaiki dengan konstruksi yang lebih kokoh dan dibuat agar aliran sungai tidak mudah tersumbat sampah,” katanya.
Pemerintah Desa Indrosari berharap pemerintah daerah segera merealisasikan pembangunan kembali Jembatan Indrosari.
Selain menunjang aktivitas pertanian dan distribusi hasil panen, keberadaan jembatan juga sangat penting untuk mendukung mobilitas warga antardesa di Kecamatan Buluspesantren.
“Kami dari pemerintah desa memohon dengan hormat agar jembatan ini segera diperbaiki. Jangan menunggu sampai kerusakannya semakin parah. Semoga pemerintah segera merespons sehingga akses kendaraan, terutama roda empat, kembali normal dan aktivitas masyarakat tidak terganggu,” pungkas Chosin. (mam/stch/dda)















