Banyumas Ekspres
Dark ModeLight Mode
Kasus Dugaan Suap Masuk Unsoed, KPK Amankan Rektor dan 13 Orang Lainnya
Korban Gempa NTT Bertambah Jadi 83 Orang, 110 Ribu Warga Mengungsi

Korban Gempa NTT Bertambah Jadi 83 Orang, 110 Ribu Warga Mengungsi

Korban Gempa NTT Masih BertambahKorban Gempa NTT Masih Bertambah
KERUSAKAN PASCA GEMPA: BNPB melaporkan jumlah korban meninggal akibat gempa NTT meningkat menjadi 83 jiwa

BANYUMASEKSPRES.ID, KUPANG – Dampak gempa bumi berkekuatan magnitudo 7,7 yang mengguncang Nusa Tenggara Timur (NTT) terus bertambah.

Hingga Jumat (21/8/2026) pukul 16.00 WIB, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat 83 orang meninggal dunia akibat bencana tersebut.

Jumlah korban meninggal dunia tersebut meningkat delapan orang dibandingkan data sehari sebelumnya yang mencatat 75 korban meninggal.

Plt Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Berton SP Panjaitan mengatakan, tambahan korban meninggal tersebut tercatat sebagai dampak tidak langsung dari gempa bumi yang melanda NTT.

“Pada hari ini pukul 16.00 WIB, Jumat, 21 Agustus 2026, jumlah yang meninggal menjadi 83 jiwa. Yang semula, yang kemarin kami sampaikan 75 jiwa bertambah 8 jiwa dengan rincian bahwa yang meninggal adalah akibat dampak tidak langsung dari gempa,” ujar Berton dalam konferensi pers, Jumat (21/8).

Penambahan korban meninggal dunia tersebar di sejumlah wilayah terdampak gempa NTT.

BNPB mencatat dua korban tambahan berada di Kabupaten Manggarai, dua korban di Manggarai Timur, dua korban di Nagekeo, dan satu korban di Ngada.

Selain korban meninggal dunia, jumlah warga yang mengalami luka-luka juga mengalami peningkatan cukup signifikan.

Hingga Jumat sore, BNPB mencatat sebanyak 986 orang mengalami luka-luka. Angka tersebut bertambah 79 orang dibandingkan laporan sebelumnya.

Kondisi tersebut menunjukkan dampak gempa NTT masih membutuhkan penanganan serius, terutama di wilayah yang mengalami kerusakan infrastruktur dan kesulitan akses akibat bencana.

Dampak gempa juga menyebabkan jumlah warga yang harus meninggalkan rumah dan mengungsi terus meningkat.

BNPB mencatat hingga Jumat (21/8) sore terdapat 110.785 jiwa yang mengungsi.

Jumlah tersebut meningkat sebanyak 18.050 jiwa dibandingkan data sebelumnya yang mencapai 92.735 jiwa.

Meningkatnya jumlah pengungsi menjadi salah satu tantangan utama dalam penanganan pascagempa.

Kebutuhan dasar seperti makanan, air bersih, tempat tinggal sementara, layanan kesehatan, serta perlindungan bagi kelompok rentan menjadi bagian penting dalam penanganan bencana.

Kerusakan bangunan juga menjadi salah satu dampak terbesar dari gempa NTT.

BNPB melaporkan sebanyak 44.946 unit rumah mengalami kerusakan akibat gempa.

Rinciannya terdiri dari:

  • 17.176 rumah rusak berat
  • 9.758 rumah rusak sedang
  • 18.013 rumah rusak ringan

Wilayah dengan jumlah rumah rusak terbanyak berada di Manggarai Timur, Manggarai Barat, dan Manggarai.

Kerusakan tersebut membuat sebagian masyarakat tidak dapat kembali ke rumah dan harus bertahan di lokasi pengungsian sampai kondisi dinyatakan aman.

Ancaman belum sepenuhnya berakhir setelah gempa utama berkekuatan M 7,7 mengguncang NTT pada Sabtu (15/8/2026).

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat 4.258 gempa susulan telah terjadi sejak gempa utama hingga Jumat (21/8) pukul 16.00 WIB.

Dari ribuan gempa susulan tersebut, magnitudo terbesar mencapai M 6,2, sedangkan gempa susulan dengan magnitudo terkecil tercatat sebesar M 1,1.

Sebanyak 118 gempa susulan dirasakan oleh masyarakat di wilayah terdampak.

Aktivitas gempa susulan yang masih berlangsung membuat masyarakat dan petugas tetap perlu meningkatkan kewaspadaan.

Warga di wilayah terdampak juga diimbau mengikuti informasi resmi dari pemerintah dan lembaga terkait.

Data korban dan kerusakan akibat gempa NTT masih dapat berubah seiring proses pendataan serta verifikasi di lapangan.

Peningkatan jumlah korban, pengungsi, maupun kerusakan rumah menunjukkan bahwa penanganan bencana masih berlangsung.

Petugas di lapangan terus melakukan pendataan terhadap dampak gempa sekaligus memberikan bantuan kepada masyarakat terdampak.

Gempa M 7,7 yang mengguncang NTT pada 15 Agustus 2026 telah menimbulkan dampak luas di sejumlah kabupaten.

Selain korban jiwa dan kerusakan rumah, masyarakat juga masih menghadapi ancaman gempa susulan.

Dengan jumlah pengungsi yang telah mencapai lebih dari 110 ribu jiwa dan puluhan ribu rumah mengalami kerusakan, kebutuhan terhadap penanganan darurat dan pemulihan pascabencana menjadi semakin besar. (*/stch/dda)

Berita Sebelumnya
Rektor Unsoed Terjaring OTT

Kasus Dugaan Suap Masuk Unsoed, KPK Amankan Rektor dan 13 Orang Lainnya