BANYUMASEKSPRES.ID, Nicolo Bulega dan Toprak Razgatlioglu, dua rival yang telah bersaing ketat dalam perebutan gelar juara WorldSBK selama dua tahun terakhir, kini menghadapi tantangan baru dalam karier mereka.
Kedua pebalap ini harus beradaptasi dengan motor MotoGP, sebuah transisi yang sering kali menjadi batu sandungan bagi banyak pebalap berbakat.
Bulega memulai debutnya sebagai pengganti Marc Marquez yang cedera di tim pabrikan Ducati, sementara Toprak Razgatlioglu bergabung dengan tim Pramac Yamaha untuk musim 2026 MotoGP secara penuh.
Pada balapan di Portimao Minggu lalu, Bulega tampil untuk pertama kalinya di ajang grand prix kelas premier, sedangkan Razgatlioglu sedang menjalani tes privat dengan motor M1 di Aragon.
Juara tiga kali WorldSBK tersebut kemudian melanjutkan perjalanannya ke Valencia untuk mengikuti balapan pamungkas akhir pekan ini.
Di sini, dia akan membalap bersama grid MotoGP 2026 tanpa kehadiran Marquez namun dengan Bulega kembali sebagai penggantinya pada tes resmi hari Selasa.
Dalam sebuah sesi wawancara setelah balapan di Portimao, Nicolo Bulega berbagi cerita menarik mengenai pertemuannya dengan Toprak Razgatlioglu.
“Kemarin, Toprak datang ke truk saya sebelum balapan [Sprint] dan kami mengobrol sebentar,” ungkap Bulega pada Minggu malam.
“Saya rasa perasaan kami tentang MotoGP sekarang sangat mirip.”
Sang pebalap Italia mengakui bahwa mereka berdua mengalami kesulitan yang sama dalam menyesuaikan diri dengan ban yang berbeda dari yang mereka gunakan di WorldSBK.
“Kami sedikit kesulitan di depan, untuk memahami bannya, karena bannya sangat berbeda [dengan ban Pirelli di WorldSBK]. Anda harus berkendara dalam mode yang berbeda,” jelas Bulega lebih lanjut.
Diskusi antara kedua pebalap itu menunjukkan bahwa meskipun bersaing satu sama lain, ada rasa saling pengertian dan dukungan dalam menghadapi tantangan baru ini.
Meskipun berhasil memperkecil jarak dengan pemenang dari 32 detik menjadi 26 detik pada balapan terakhir di Valencia, Bulega mengungkapkan kekecewaannya karena tidak mampu mempertahankan posisi sebelas yang sempat diraihnya selama pemanasan pagi.
“Kami sudah melakukan beberapa peningkatan, tetapi masih banyak pekerjaan yang harus dilakukan agar lebih kompetitif,” katanya.
Perpindahan dari WorldSBK ke MotoGP bukanlah hal yang mudah bagi setiap pebalap. Tingkat persaingan dan teknologi yang digunakan di MotoGP jauh lebih tinggi dibandingkan dengan WorldSBK.
Banyak faktor seperti penyesuaian terhadap karakteristik motor dan strategi balapan yang perlu diperhatikan oleh para pebalap saat beralih ke kategori ini.
Dalam kasus Bulega dan Razgatlioglu, adaptasi terhadap ban Michelin di MotoGP menjadi salah satu tantangan utama karena perbedaan signifikan dalam performa dan daya cengkeram dibandingkan dengan ban Pirelli yang biasa mereka gunakan.
Melihat perjalanan karier kedua pebalap ini memberikan wawasan mendalam tentang bagaimana persaingan ketat di lintasan dapat berkembang menjadi hubungan saling mendukung ketika menghadapi situasi sulit seperti penyesuaian ke lingkungan baru.
Transisi ke MotoGP menuntut lebih dari sekadar keterampilan balap murni; dibutuhkan juga kemampuan adaptasi cepat serta mentalitas kuat untuk tetap kompetitif. (*/dda)
















