BANYUMASEKSPRES.ID, BANYUWANGI – Operasi pencarian dan penyelamatan korban akibat tenggelamnya KMP Tunu Pratama Jaya di Selat Bali secara resmi mendapatkan perpanjangan waktu selama tiga hari, dimulai Rabu (9/7) hingga Jumat (11/7).
Keputusan ini diambil dengan mempertimbangkan aspek kemanusiaan, mengingat masih banyak korban yang belum ditemukan.
Sesuai Undang-Undang Nomor 29 Tahun 2014 tentang Pencarian dan Pertolongan, operasi semacam ini biasanya dilakukan selama tujuh hari.
Pada Selasa (8/7), operasi tersebut telah mencapai batas tujuh hari yang ditetapkan. Namun, karena kondisi di lapangan yang memerlukan perhatian lebih, masa pencarian pun diperpanjang.
Bupati Banyuwangi, Ipuk Fiestiandani, mengungkapkan harapannya agar perluasan operasi ini dapat memberikan hasil optimal dalam pencarian dan penyelamatan korban.
“Kami berharap yang terbaik. Mudah-mudahan lebih banyak korban ditemukan sebelum batas waktu selesai. Terima kasih atas kerja keras seluruh pihak terkait dalam upaya penyelamatan dan pencarian korban,” kata Ipuk.
Deputi Bidang Operasi Pencarian dan Pertolongan serta Kesiapsiagaan Basarnas, Ribut Eko Suyanto, menyatakan bahwa perpanjangan ini dilakukan atas dasar kemanusiaan.
“Atas dasar kemanusiaan dan arahan pimpinan di Jakarta, operasi SAR kami perpanjang hingga tiga hari ke depan,” ujar Eko.
Sebagai Search Mission Coordinator (SMC), Eko meminta dukungan dan doa masyarakat agar tim hidrografi dapat segera menemukan lokasi kapal yang tenggelam pada Rabu malam (2/7).
“Fokus utama kami saat ini adalah mengevakuasi korban serta mewujudkan hasil pemetaan bawah air yang dilakukan tim SRU laut dan tim hidrografi,” tegasnya.
Eko juga memerintahkan On Scene Coordinator (OSC) dan Search and Rescue Unit (SRU) untuk menyesuaikan taktik pencarian agar lebih efektif dan efisien.
Selain itu, SRU bawah air telah disiapkan untuk menyusun rencana penyelamatan atau dive plan dengan tetap mengedepankan prinsip safety first.
“Mudah-mudahan dalam tiga hari perpanjangan ini kita bisa mencatat kemajuan yang signifikan,” harap Eko.
KMP Tunu Pratama Jaya mengalami musibah tenggelam pada Rabu (2/7) sekitar pukul 23.35 WIB saat berlayar dari Pelabuhan Ketapang di Banyuwangi menuju Pelabuhan Gilimanuk di Bali.
Kapal tersebut membawa total 65 orang yang tercatat dalam manifes, terdiri dari 53 penumpang dan 12 kru, serta 22 unit kendaraan.
Hingga memasuki hari ketujuh pencarian, tim SAR gabungan telah menemukan total 40 korban. Dari jumlah tersebut, 30 orang berhasil diselamatkan sementara 10 orang lainnya ditemukan dalam keadaan meninggal dunia.
Pada update pencarian Rabu pagi (9/7), dua jenazah laki-laki kembali ditemukan di perairan Jembrana, Bali.
Jenazah pertama ditemukan sekitar pukul 07.00 WITA di Pantai Pebuahan, berjarak sekitar 2 kilometer dari garis pantai. Korban mengenakan celana pendek biru dan kaos hitam.
Jenazah kedua ditemukan sekitar pukul 06.00 WITA di Pantai Pengambengan, Bali. Diduga berjenis kelamin laki-laki, korban mengenakan celana pendek hitam tanpa baju.
“Kedua jenazah telah dievakuasi ke rumah sakit di Jembrana. Selanjutnya pada pukul 11.12 WITA dibawa ke RSUD Blambangan Banyuwangi untuk proses identifikasi oleh tim Disaster Victim Identification (DVI),” jelas Eko.
Dalam situasi darurat seperti ini, setiap detik sangat berharga untuk keselamatan para korban yang masih hilang. Tim SAR bekerja tanpa kenal lelah meski menghadapi berbagai tantangan alam di laut lepas Bali tersebut.
Kolaborasi antarlembaga serta dukungan masyarakat menjadi kunci penting bagi keberhasilan misi pencarian ini.
Dengan cuaca yang berubah-ubah serta medan laut yang tidak mudah diprediksi, tim turut memanfaatkan teknologi modern untuk mendukung usaha mereka.
Proses pemetaan bawah laut menjadi salah satu elemen krusial dalam menentukan titik lokasi kapal karam sebagai basis utama pelaksanaan misi penyelamatan berikutnya.
Semoga jerih payah semua pihak terlibat membuahkan hasil maksimal secepat mungkin guna memberikan kepastian bagi keluarga para penumpang maupun kru KMP Tunu Pratama Jaya tentang nasib orang-orang tercinta mereka setelah tragedi memilukan tersebut terjadi pekan lalu malam hari tanggal dua bulan Juli lalu itu. (*)
















