Banyumas Ekspres
Dark ModeLight Mode
Harga Telur Anjlok di Bawah HAP, Pemerintah Tambah 150 Ribu Ton Jagung untuk Peternak
OTT KPK Gegerkan Unsoed, Mahasiswa Kecewa dan Mulai Soroti Tata Kelola Kampus

OTT KPK Gegerkan Unsoed, Mahasiswa Kecewa dan Mulai Soroti Tata Kelola Kampus

BEM Soroti Integritas KampusBEM Soroti Integritas Kampus

BANYUMASEKSPRES.ID, PURWOKERTO – Operasi tangkap tangan (OTT) Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) yang menyeret Rektor Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) Prof. Akhmad Sodiq dan sejumlah pejabat kampus membuat mahasiswa terkejut.

Kabar tersebut tidak hanya menjadi perhatian publik, tetapi juga memunculkan keresahan di lingkungan kampus.

Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Unsoed memastikan akan terus mengikuti dan mengawal perkembangan perkara yang saat ini masih ditangani aparat penegak hukum.

Presiden BEM Unsoed Azza Febra Pramudika mengatakan mahasiswa cukup khawatir dengan situasi yang terjadi.

Menurutnya, persoalan tersebut menjadi serius karena menyangkut lingkungan perguruan tinggi serta kepercayaan masyarakat terhadap institusi pendidikan.

“Kurang lebih memang kita cukup khawatir dengan kondisi hari ini. Kita melihat ini jadi persoalan serius, karena terjadi di lingkungan perguruan tinggi dan menyangkut kepercayaan publik terhadap institusi pendidikan,” kata Azza, Jumat (21/8).

Meski menyatakan keprihatinan, BEM Unsoed menegaskan tidak ingin mengambil kesimpulan sebelum proses hukum berjalan dan aparat penegak hukum memberikan keterangan resmi.

Mahasiswa tetap menjunjung asas praduga tak bersalah terhadap pihak-pihak yang saat ini diperiksa atau diamankan.

“Pertama kami menghormati proses hukum yang sedang berjalan dan tetap menjunjung asas praduga tak bersalah. Kami sendiri tidak ingin mendahului proses hukum dengan memberikan penilaian terhadap siapa pun sebelum ada keterangan dan bukti yang jelas dari pihak berwenang,” ujar Azza.

Namun, sikap menghormati proses hukum tersebut bukan berarti mahasiswa akan memilih diam.

BEM Unsoed tetap merasa memiliki tanggung jawab untuk mengawasi berbagai persoalan di lingkungan kampus, terutama apabila berkaitan dengan tata kelola dan integritas institusi pendidikan.

“Ya, saya tegas. Kita menghormati proses hukum, bukan berarti mahasiswa hanya diam. Mahasiswa tetap memiliki tanggung jawab untuk mengawal dan mengkritisi persoalan yang terjadi di lingkungan kampus,” katanya.

Jika Berkaitan dengan Penerimaan Mahasiswa, BEM Soroti Transparansi

Salah satu hal yang menjadi perhatian mahasiswa adalah dugaan perkara yang berkaitan dengan proses penerimaan mahasiswa baru.

Azza menegaskan, apabila perkara tersebut memang berkaitan dengan penerimaan mahasiswa, maka persoalan tersebut harus menjadi perhatian serius.

Menurutnya, proses penerimaan mahasiswa semestinya dilakukan berdasarkan prinsip keadilan, transparansi, dan meritokrasi.

“Setiap calon mahasiswa harus mendapatkan kesempatan yang sama melalui proses yang bersih dan dapat dipertanggungjawabkan,” ujarnya.

BEM Unsoed kemudian mendorong KPK untuk mengusut perkara secara profesional, objektif, dan tuntas.

Di sisi lain, pihak universitas juga diminta terbuka kepada civitas akademika serta melakukan evaluasi terhadap sistem dan tata kelola kampus.

Azza menilai menjaga nama baik perguruan tinggi tidak berarti menutup mata terhadap persoalan yang terjadi.

“Menjaga nama baik kampus berarti bukan menutup mata ketika ada persoalan. Justru keberadaan untuk melihat, mengkritisi, dan memperbaiki persoalan yang ada adalah bagian dari upaya kami menjaga marwah kampus,” tegasnya.

“Unsoed Bukan Milik Rektor”

Azza juga menegaskan bahwa Unsoed bukan milik rektor atau kelompok tertentu.

Menurutnya, perguruan tinggi merupakan institusi yang menjadi bagian dari seluruh civitas akademika sekaligus memiliki tanggung jawab kepada masyarakat.

“Unsoed bukan milik satu atau beberapa orang. Bukan milik Pak Rektor. Maksudnya adalah institusi pendidikan yang menjadi milik seluruh civitas akademika dan memiliki tanggung jawab pada masyarakat,” jelasnya.

Karena itu, ketika integritas institusi dipertanyakan, mahasiswa memiliki hak sekaligus tanggung jawab untuk menyampaikan sikap.

BEM Unsoed juga tidak ingin persoalan tersebut hanya berakhir pada siapa yang diamankan atau siapa yang nantinya ditetapkan dalam proses hukum.

Menurut Azza, pembenahan sistem justru menjadi hal penting agar persoalan serupa tidak kembali terjadi.

“Jadi kami tidak ingin persoalan ini hanya berhenti pada siapa yang diamankan atau siapa yang nanti ditetapkan dalam proses hukum,” ujarnya.

Ia berharap tata kelola kampus ke depan dapat semakin transparan dan akuntabel sehingga celah penyalahgunaan dapat diminimalkan.

BEM Unsoed memastikan akan terus mengikuti perkembangan perkara. Namun, langkah mahasiswa berikutnya akan disesuaikan dengan kepastian dan informasi resmi dari aparat penegak hukum.

Kabar OTT KPK juga mengejutkan mahasiswa secara langsung.

Naila Alia, mahasiswi Agroteknologi Fakultas Pertanian Unsoed, mengaku tidak menyangka mendengar kabar pemeriksaan terhadap jajaran pimpinan kampus.

“Jujur kayak, kenapa sih kaget, terus kacau sih. Kita sebagai warga kampus (bagian) belakang, fasilitasnya jujur agak kurang, janggal,” kata Naila saat ditemui di kampus, Jumat (21/8/2026).

Naila kemudian menyoroti kondisi fasilitas kampus yang menurutnya belum sebanding dengan jumlah mahasiswa yang diterima Unsoed setiap tahun.

Ia berharap kampus dapat menyediakan fasilitas yang lebih layak untuk menunjang proses perkuliahan.

“Itu kayak langsung kecewa banget sama Unsoed. Mereka bisa menerima mahasiswa banyak-banyak, tapi untuk fasilitasnya kayak kurang banget,” ujarnya.

Menurut Naila, mahasiswa merasa membutuhkan sarana yang memadai agar kegiatan akademik dapat berjalan dengan baik.

“Jadi kita merasa, gimana ya sebagai mahasiswa Unsoed, kurang memadai. Kita tuh pinginnya dapat yang layak. Tapi ternyata mahasiswanya banyak, tapi fasilitasnya kurang,” sambungnya.

Kekecewaan serupa disampaikan mahasiswi Agroteknologi lainnya, Adela.

Ia mengaku terkejut ketika mengetahui adanya pemeriksaan KPK terhadap jajaran pimpinan Unsoed.

“Kaget sih. Kita semua pada kaget sih tadi. Kita langsung kayak pada kecewa sih,” kata Adela.

Menurut Adela, rasa terkejut tersebut semakin kuat karena mahasiswa sebelumnya masih berinteraksi secara langsung dengan sejumlah pimpinan kampus dalam berbagai kegiatan.

Ia bahkan mencontohkan Wakil Rektor III Unsoed yang sempat menemui mahasiswa dalam kegiatan Pengembangan Kepribadian dan Karakter Mahasiswa (PKKM).

“Kecewa sama rektornya. Karena kemarin Wakil Rektor III sempat ngunjungin kita pas PKKM,” ujarnya.

Pengalaman tersebut membuat kabar pemeriksaan KPK terasa semakin sulit dipercaya bagi mahasiswa.

“Kita pada salim sama wakil rektor itu. Terus kayak kita langsung speechless, kayak, ‘ah demi apa, ini wakil rektor kemarin yang kita salim-salimin’. Terus kayak nggak bisa berkata-kata,” tuturnya.

Sementara itu, mahasiswa juga mulai menyampaikan kritik melalui pemasangan spanduk di lingkungan kampus.

Dua tulisan yang terlihat mencolok berbunyi “Sodiq Berulah Lagi” dan “Dua Periode Unsoed Masih Problematik”.

Perkembangan perkara tersebut kini masih menjadi perhatian mahasiswa dan publik.

BEM Unsoed menegaskan akan tetap menghormati proses hukum, tetapi pada saat yang sama akan terus mengawal persoalan tata kelola dan integritas kampus.

Bagi mahasiswa, persoalan tersebut bukan semata mengenai siapa yang nantinya diproses secara hukum.

Lebih jauh, mereka berharap kasus ini menjadi momentum untuk melakukan evaluasi menyeluruh sehingga sistem penerimaan mahasiswa dan tata kelola perguruan tinggi dapat berjalan lebih transparan, adil, serta dapat dipertanggungjawabkan. (dms/stch/dda)

Berita Sebelumnya
Harga Telur Peternak Masih di Bawah HAP

Harga Telur Anjlok di Bawah HAP, Pemerintah Tambah 150 Ribu Ton Jagung untuk Peternak