BANYUMASEKSPRES.ID, BANYUMAS – Di Pasar Sumpiuh, terjalin sebuah kerja sama strategis antara Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) program Makan Bergizi Gratis (MBG) dan para pedagang daging ayam broiler.
Kerja sama ini berfokus pada pemenuhan kebutuhan dapur MBG dengan suplai daging ayam secara langsung dari pasar tersebut.
“Saat ini ada satu pedagang di Pasar Sumpiuh yang memasok daging ayam langsung ke dapur MBG,” ungkap Agus Haryanto, Pengelola Pasar Sumpiuh.
Dalam beberapa waktu terakhir, harga daging ayam broiler di Pasar Sumpiuh mengalami kenaikan signifikan. Saat ini, harga mencapai Rp 38 ribu per kilogram.
Kenaikan harga ini menjadi tantangan tersendiri bagi para pedagang untuk tetap memenuhi kebutuhan dari program SPPG MBG.
Salah satu pedagang daging ayam, Sri Wahyuni, menyatakan bahwa pihaknya bertanggung jawab memasok daging ayam ke empat dapur MBG yang berbeda. Tantangan stok sering kali muncul saat harus melayani dua dapur sekaligus.
“Satu dapur MBG membutuhkan daging ayam fillet sebanyak dua kuintal,” jelas Yuni saat ditemui di lapaknya pada Kamis (2/10).
Yuni menjelaskan lebih lanjut bahwa dalam seminggu, pengiriman dilakukan dua kali ke setiap dapur MBG.
Proses pengantaran daging ayam dilakukan pada malam hari untuk memastikan kesegaran produk, sementara pagi hingga siang harinya, Yuni tetap membuka lapaknya di pasar untuk melayani pembeli umum.
Permintaan besar dari program MBG ini memang berpengaruh terhadap kestabilan harga daging ayam di pasaran.
Meski lonjakan harga daging ayam tidak dapat sepenuhnya dihindari, Yuni menekankan bahwa harga di wilayah Banyumas timur seperti Kemranjen, Sumpiuh, dan Tambak masih lebih rendah dibandingkan dengan pasar lain di Kabupaten Banyumas.
“Hari ini harga daging ayam broiler di Pasar Sumpiuh mulai turun ke Rp 37 ribu per kilogram. Semoga ke depannya turun lagi walaupun tetap memasok ke dapur MBG,” tandas Yuni.
Kerja sama antara pedagang dan program pemerintah seperti MBG ini menunjukkan adanya upaya bersama untuk mendukung kesejahteraan masyarakat melalui akses pangan bergizi yang lebih mudah dijangkau.
Dalam konteks sosial ekonomi, langkah ini juga berfungsi sebagai stabilisator dalam menghadapi fluktuasi harga yang kerap terjadi akibat tingginya permintaan.
Tidak hanya berdampak positif pada stabilitas harga, kolaborasi ini juga meningkatkan daya beli masyarakat dengan menghadirkan produk berkualitas yang dapat diperoleh dengan lebih mudah serta terjangkau oleh berbagai kalangan.
Melalui strategi distribusi langsung dari pasar ke dapur MBG, bukan hanya mempersingkat jalur distribusi tetapi juga mengurangi potensi kenaikan harga akibat rantai pasokan yang panjang.
Selain itu kerja sama ini menciptakan ekosistem pasar yang lebih sehat dengan memperkuat posisi pedagang lokal dalam persaingan pasar yang semakin ketat.
Agus Haryanto menambahkan bahwa inisiatif seperti ini tidak hanya memberikan keuntungan bagi para pedagang tetapi juga meningkatkan efisiensi dalam penyediaan bahan pangan bagi masyarakat luas terutama mereka yang tergabung dalam program Makan Bergizi Gratis.
Hal ini tentunya sejalan dengan upaya pemerintah daerah dalam meningkatkan kesejahteraan dan kesehatan masyarakat melalui asupan gizi yang memadai.
Dari perspektif ekonomi lokal, keberadaan program-program seperti MBG merupakan solusi nyata untuk mengatasi tantangan ketahanan pangan sekaligus memberdayakan para pelaku usaha kecil dan menengah (UKM).
Dampaknya dirasakan tidak hanya oleh penerima manfaat langsung tetapi juga oleh semua pihak yang terlibat dalam rantai pasokannya.
Dalam jangka panjang kolaborasi antara pasar tradisional dan inisiatif pemerintah dapat berkembang menjadi model bisnis inklusif yang mampu menjawab kebutuhan pangan masyarakatyang kian kompleks dan dinamis.
Dengan demikian pertumbuhan ekonomi daerah dapat tercapai secara berkelanjutan sekaligus memperkuat ketahanan sosial komunitas lokal.
Melalui kerja sama seperti ini harapannya adalah agar stabilitas harga komoditas pokok seperti daging ayam dapat terus terjaga sehingga tidak membebani masyarakat terutama mereka yang berada pada kelompok rentan atau berpenghasilan rendah.(fij/dda)
















