BANYUMASEKSPRES.ID, JAKARTA – Populasi orangutan Sumatra terus mengalami penurunan dan menjadi perhatian serius bagi upaya konservasi satwa liar Indonesia.
Dalam kurun waktu 12 tahun, jumlah orangutan Sumatra (Pongo abelii) berkurang hampir 20 persen, dari 13.846 individu pada 2011 menjadi sekitar 11.694 individu.
Penurunan tersebut menunjukkan bahwa keberadaan orangutan Sumatra masih menghadapi tekanan besar.
Berdasarkan pengamatan dengan metode dan wilayah yang sebanding, populasinya menyusut sekitar 19,5 persen atau rata-rata 1,8 persen setiap tahun.
Peneliti IPB University dari Departemen Konservasi Sumberdaya Hutan dan Ekowisata, Dede Aulia Rahman, mengatakan penurunan populasi tersebut tidak boleh dianggap sebagai kondisi biasa.
Orangutan memiliki kemampuan reproduksi yang relatif lambat sehingga pemulihan populasi membutuhkan waktu panjang.
“Angka ini sangat serius karena orang utan bukan satwa yang mampu memulihkan populasinya dengan cepat,” kata Dede, dikutip dari keterangan IPB University, Jumat (14/8/2026).
Salah satu kawasan yang memiliki peran besar dalam menjaga keberlangsungan orangutan Sumatra adalah Kawasan Ekosistem Leuser (KEL). Kawasan tersebut menopang sekitar 84 persen populasi orangutan Sumatra.
Besarnya populasi yang berada di kawasan tersebut membuat kondisi habitat di Ekosistem Leuser menjadi sangat penting bagi masa depan spesies yang hanya ditemukan di Pulau Sumatra tersebut.
Selain orangutan Sumatra, Indonesia juga memiliki orangutan Tapanuli (Pongo tapanuliensis) yang memiliki populasi jauh lebih kecil.
Saat ini, orangutan Tapanuli diperkirakan hanya tersisa sekitar 716 individu di Ekosistem Batang Toru.
Kondisi tersebut menunjukkan bahwa tekanan terhadap habitat orangutan tidak hanya berdampak terhadap satu populasi.
Kerusakan hutan dan perubahan fungsi lahan dapat mengancam keberlangsungan berbagai jenis orangutan yang memiliki wilayah sebaran terbatas.
Salah satu ancaman terbesar terhadap keberlangsungan orangutan adalah kehilangan habitat.
Hutan menjadi tempat orangutan mencari makanan, berkembang biak, berlindung, sekaligus menjalankan aktivitas sehari-hari.
Dalam periode 2011 hingga 2023, sekitar 94.399 hektare hutan di wilayah sebaran orangutan hilang.
Penyebabnya antara lain ekspansi perkebunan, pembangunan infrastruktur, aktivitas pertambangan hingga perambahan hutan secara ilegal.
Hilangnya hutan membuat habitat orangutan semakin terbatas dan terfragmentasi.
Ketika kawasan hutan terpecah menjadi bagian-bagian kecil, pergerakan orangutan menjadi lebih sulit dan peluang terjadinya konflik dengan manusia juga dapat meningkat.
Kondisi tersebut menjadi semakin kompleks karena kehilangan habitat tidak berdiri sendiri. Orangutan juga menghadapi berbagai ancaman lain yang saling berkaitan.
Selain kehilangan habitat, orangutan Sumatra menghadapi ancaman perburuan, perdagangan ilegal, konflik dengan manusia dan fragmentasi habitat.
Dede mengatakan berbagai ancaman tersebut tidak seharusnya dipandang sebagai persoalan yang berdiri sendiri.
Kerusakan habitat dapat meningkatkan kemungkinan orangutan masuk ke wilayah yang berdekatan dengan aktivitas manusia.
Sebaliknya, konflik yang terjadi dapat meningkatkan risiko kematian orangutan.
Karena itu, penanganan satu jenis ancaman tanpa menyelesaikan persoalan lainnya dinilai belum cukup untuk menjaga populasi.
“Tidak tepat jika kita mempertentangkan kehilangan habitat dengan pembunuhan atau konflik seolah-olah keduanya merupakan ancaman yang terpisah. Keduanya saling memperkuat,” ujar Dede.
Melihat kondisi tersebut, upaya konservasi orangutan Sumatra perlu dilakukan secara menyeluruh.
Perlindungan terhadap satwa tidak cukup hanya dengan mencegah perburuan, tetapi juga harus memastikan habitatnya tetap tersedia.
Dede menilai langkah konservasi perlu mencakup penghentian kehilangan habitat, pemulihan koridor ekologis hingga menekan angka kematian orangutan akibat aktivitas manusia.
Koridor ekologis menjadi penting karena habitat orangutan yang terfragmentasi membuat kelompok populasi dapat terisolasi.
Pemulihan konektivitas antarkawasan hutan diharapkan dapat membantu orangutan bergerak dan mempertahankan populasi secara lebih berkelanjutan.
Di sisi lain, perlindungan terhadap habitat juga membutuhkan pengawasan terhadap aktivitas yang berpotensi menyebabkan kerusakan hutan.
Penanganan perambahan ilegal dan aktivitas yang mengancam kawasan habitat menjadi bagian penting dalam strategi konservasi.
Upaya menjaga populasi orangutan Sumatra membutuhkan kerja sama berbagai pihak.
Pemerintah, dunia usaha, akademisi, masyarakat hingga lembaga konservasi memiliki peran dalam memastikan habitat dan populasi orangutan tetap terlindungi.
Kolaborasi tersebut diperlukan karena persoalan konservasi berkaitan erat dengan pengelolaan hutan, pembangunan, aktivitas ekonomi serta kehidupan masyarakat di sekitar kawasan habitat.
Dengan populasi yang terus menurun dan kemampuan berkembang biak yang tidak cepat, setiap individu orangutan menjadi bagian penting dalam menjaga keberlangsungan spesies tersebut.
Penurunan hampir 20 persen dalam 12 tahun menjadi peringatan bahwa perlindungan orangutan Sumatra membutuhkan langkah yang lebih serius.
Jika kehilangan habitat dan berbagai ancaman lainnya tidak segera ditekan, populasi orangutan dikhawatirkan terus menyusut pada tahun-tahun mendatang. (*/stch/dda)














