Banyumas Ekspres
Dark ModeLight Mode

Rencana Pemasangan Chattra di Borobudur Masuk Tahap Uji dan Kajian Mendalam

Chattra Borobudur Belum Dipasang Saat WaisakChattra Borobudur Belum Dipasang Saat Waisak
BUDAYA: Replika chattra yang dibawa saat kirab pusaka di kawasan Candi Borobudur, Kabupaten Magelang

BANYUMASEKSPRES.ID, MAGELANG – Proses pemasangan chattra di puncak Candi Borobudur masih dalam tahap kajian mendalam.

Menteri Kebudayaan Republik Indonesia, Fadli Zon, mengungkapkan bahwa pihaknya menargetkan pemasangan chattra ini dapat terealisasi pada tahun ini.

“Kita berharap mudah-mudahan bisa segera. Namun, saat ini masih dalam proses karena harus ada melalui impact assessment, kemudian ada uji ada ini dan sebagainya, tapi semuanya kita lakukan secara prosedural, secara prudent,” jelasnya setelah mengikuti kirab pusaka yang berlangsung pada Jumat malam, 17 April 2026.

Dalam acara kirab pusaka tersebut, terlihat adanya miniatur chattra yang turut dihadirkan dalam rombongan kirab.

Fadli Zon menjelaskan bahwa tujuan membawa miniatur tersebut adalah untuk menyosialisasikan pentingnya chattra kepada masyarakat.

Hal ini dianggap penting, terutama karena merupakan bagian dari aspirasi yang telah lama disampaikan oleh masyarakat, khususnya umat Buddha.

“Menurut saya itu sah-sah saja karena UNESCO tahun ini kalau tidak salah mendorong supaya situs-situs itu menjadi living heritage. Jadi bukan hanya monumen yang mati, tetapi harus menjadi living heritage,” tambahnya.

Menyoal waktu pemasangan chattra ini, Fadli Zon menyatakan bahwa pemasangan tersebut akan dilakukan tepat pada waktunya, meskipun ia memastikan bahwa pada momen Waisak nanti chattra belum terpasang.

Saat ini, pihaknya masih terus melakukan diskusi dengan berbagai pihak terkait rencana pemasangan chattra ini.

“Kami juga terus berdiskusi dengan para ahli, sejarawan, budayawan, dan sejumlah elemen masyarakat lainnya,” ujarnya.

Fadli Zon menjelaskan lebih lanjut mengenai bahan yang akan digunakan untuk membuat chattra tersebut.

Ia menegaskan bahwa bahan yang digunakan tidak terbuat dari batu. Meskipun demikian, ia memastikan bahwa bahan yang akan digunakan sama seperti yang dipakai di sejumlah situs bersejarah lainnya.

“Bahannya nanti jauh lebih ringan. Dan itu semua dipakai di seluruh situs ya bahkan di tempat lahirnya Sang Buddha juga digunakan, begitu juga di India, di Thailand, di Vietnam, di Kamboja, di Myanmar,” ungkapnya.

Pemasangan chattra ini tidak hanya bertujuan untuk memperindah Candi Borobudur sebagai salah satu warisan dunia tetapi juga untuk menarik lebih banyak wisatawan baik domestik maupun internasional.

“Kita harapkan dengan begitu akan semakin banyak yang hadir baik wisatawan karena alasan sejarah dan religi. Ya mudah-mudahan semakin banyak juga nanti umat Buddha dari seluruh dunia yang datang ke sini,” pungkas Fadli Zon.

Keberadaan Candi Borobudur sebagai situs warisan budaya dunia tidak dapat dipisahkan dari upaya pelestarian dan pengembangan nilai-nilai budaya yang terkandung di dalamnya.

Dalam konteks ini, pemasangan chattra diharapkan dapat menjadi simbol keberlangsungan tradisi dan praktik keagamaan yang hidup serta relevan dengan zaman modern.

Chattra sendiri merupakan payung suci dalam tradisi Buddha yang melambangkan perlindungan dan kemuliaan.

Keberadaan chattra di puncak candi penting sebagai representasi spiritual dan budaya bagi umat Buddha.

Dengan pemikiran tersebut, pemerintah berupaya agar penempatan chattra bukan sekadar penambahan elemen fisik namun memiliki makna mendalam bagi masyarakat. (*/stch/dda)

Berita Sebelumnya
Pasar Kambing Karangpucung Berbenah

Pasar Kambing Karangpucung Bersiap Sambut Lonjakan Pembeli Jelang Iduladha 1447 H

Berita Selanjutnya
Pelaku Usaha Keberatan Kenaikan LPG

Harga LPG 12 Kg Naik Jadi 234 Ribu, UMKM di Kebumen Terpukul