Banyumas Ekspres
Dark ModeLight Mode
Rupiah Diprediksi Kembali Melemah, Dolar AS Berpotensi Tembus Rp17.680
Sebelum Dikembalikan ke Hutan Kalimantan, Dua Orangutan Serulingmas Jalani Tes Kesehatan

Sebelum Dikembalikan ke Hutan Kalimantan, Dua Orangutan Serulingmas Jalani Tes Kesehatan

Dua Orangutan Serulingmas Periksa KesehatanDua Orangutan Serulingmas Periksa Kesehatan
PERIKSA KESEHATAN: Dua Orangutan disiapkan untuk Kembali ke habitat alaminya

BANYUMASEKSPRES.ID, BANJARNEGARA – Dua orangutan koleksi Serulingmas Zoo Banjarnegara, Martin dan Naufal, mulai menjalani rangkaian pemeriksaan kesehatan sebagai tahap awal sebelum dipersiapkan untuk kembali ke habitat alaminya di Kalimantan.

Pemeriksaan kesehatan menjadi bagian penting dalam proses persiapan pelepasliaran satwa.

Kondisi Martin dan Naufal harus dipastikan terlebih dahulu sebelum keduanya memasuki tahap rehabilitasi untuk mengembalikan kemampuan hidup secara mandiri di alam.

Dokter hewan Serulingmas Zoo, Muhammad Tauhid Nursalim, mengatakan pemeriksaan dilakukan dengan mengambil sampel darah dari kedua orangutan.

Sampel tersebut selanjutnya diperiksa untuk mengetahui kondisi kesehatan secara lebih menyeluruh.

“Hari ini kami melakukan pengambilan sampel darah di dua orangutan yang ada di Serulingmas. Ini kerja sama dengan BKSDA Jawa Tengah dan Center for Orangutan Protection (COP) untuk memeriksa kesehatan orangutannya,” kata Tauhid, Selasa (8/9/2026).

Berdasarkan pemeriksaan awal, kondisi fisik Martin dan Naufal dinilai sehat. Namun, kondisi fisik yang terlihat secara langsung belum cukup untuk memastikan keduanya benar-benar terbebas dari penyakit.

Karena itu, pemeriksaan laboratorium tetap dilakukan melalui sampel darah. Langkah tersebut diperlukan untuk mendeteksi kemungkinan adanya penyakit atau gangguan kesehatan yang tidak terlihat secara kasatmata.

Hasil pemeriksaan nantinya akan menjadi salah satu pertimbangan dalam menentukan apakah Martin dan Naufal dapat melanjutkan ke tahapan berikutnya.

Jika hasil pemeriksaan memenuhi persyaratan, kedua orangutan tersebut akan dibawa ke lokasi rehabilitasi milik Center for Orangutan Protection (COP).

Di lokasi tersebut, Martin dan Naufal akan menjalani proses rehabilitasi yang dikenal sebagai “sekolah hutan”.

Sekolah hutan menjadi tahap penting sebelum orangutan yang sebelumnya berada dalam pengelolaan manusia dikembalikan ke lingkungan alaminya.

Dalam proses tersebut, orangutan akan dilatih kembali untuk melakukan berbagai perilaku alami yang dibutuhkan ketika hidup di hutan.

Beberapa kemampuan yang perlu dikuasai antara lain membuat sarang, mengenali sumber pakan di hutan, serta menghadapi berbagai ancaman dan predator.

Kemampuan tersebut penting karena kehidupan orangutan di alam berbeda dengan kondisi ketika berada di kebun binatang atau fasilitas konservasi.

Martin dan Naufal harus mampu mencari makanan, berpindah tempat, membuat sarang, dan menghadapi kondisi lingkungan secara mandiri sebelum benar-benar dinyatakan siap untuk dilepasliarkan.

Karena itu, proses rehabilitasi tidak dapat dilakukan secara terburu-buru.

Selain kondisi kesehatan dan kemampuan bertahan hidup kedua orangutan, faktor habitat juga menjadi pertimbangan dalam rencana pelepasliaran.

Proses pengembalian Martin dan Naufal ke alam masih harus menunggu kondisi habitat di Kalimantan.

Salah satu persoalan yang menjadi perhatian adalah kebakaran hutan yang terjadi di sejumlah wilayah.

Lokasi pelepasliaran harus dipastikan aman dan kondusif agar orangutan dapat menjalani kehidupan di alam dengan baik.

Kepala Seksi Konservasi Wilayah II BKSDA Jawa Tengah, Dharmawan, mengatakan kebakaran hutan dapat memberikan dampak terhadap keanekaragaman hayati, termasuk satwa orangutan.

Karena itu, Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Jawa Tengah bersama pihak terkait akan melakukan penilaian terhadap habitat yang memungkinkan digunakan sebagai lokasi pelepasliaran.

“Yang kita upayakan bagaimana kebakaran yang terjadi ini tidak mengurangi pelaksanaan konservasi orangutan. Kita akan melakukan penilaian terhadap habitat-habitat yang cocok untuk pelepasliaran,” ujarnya.

Penilaian habitat menjadi bagian penting agar lokasi yang dipilih benar-benar dapat mendukung kehidupan orangutan dalam jangka panjang.

Direktur Serulingmas Zoo, Lulut Yekti, menegaskan bahwa proses pengembalian Martin dan Naufal ke habitat alaminya tidak dapat dilakukan dalam waktu singkat.

Menurutnya, kedua orangutan tersebut harus melalui sejumlah tahapan sebelum benar-benar dinyatakan siap kembali ke alam.

Selain pemeriksaan kesehatan, kemampuan bertahan hidup secara mandiri juga menjadi faktor penting yang harus dipastikan.

“Prosesnya panjang. Bukan saat ini langsung kita lepasliarkan, apalagi kondisi Kalimantan sedang seperti itu. Prosesnya bisa bertahun-tahun,” kata Lulut.

Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa pelepasliaran bukan sekadar memindahkan orangutan dari kebun binatang ke hutan.

Ada proses panjang yang harus dilalui untuk memastikan satwa mampu beradaptasi dengan lingkungan alaminya.

Proses rehabilitasi juga diperlukan untuk mengembalikan perilaku alami yang mungkin berkurang selama berada dalam perawatan manusia.

Serulingmas Zoo selama ini juga memiliki peran dalam pengelolaan populasi orangutan.

Kebun binatang tersebut tercatat telah mengembangbiakkan tujuh orangutan.

Rencana pengembalian satwa ke habitat alaminya menjadi bagian dari upaya pengelolaan populasi sekaligus mendukung konservasi orangutan.

Di sisi lain, pengembalian satwa ke alam juga berkaitan dengan keterbatasan sarana dan ruang dalam jangka panjang.

Pengelolaan populasi harus dilakukan dengan mempertimbangkan kapasitas fasilitas yang tersedia.

Dengan demikian, rencana pelepasliaran Martin dan Naufal menjadi proses yang membutuhkan koordinasi antara Serulingmas Zoo, BKSDA Jawa Tengah, COP, serta pihak terkait lainnya.

Untuk saat ini, fokus utama adalah memastikan kondisi kesehatan kedua orangutan melalui pemeriksaan laboratorium.

Apabila memenuhi persyaratan, keduanya akan melanjutkan proses rehabilitasi melalui sekolah hutan.

Setelah menjalani rehabilitasi dan dinilai mampu hidup mandiri, barulah lokasi pelepasliaran di Kalimantan akan ditentukan berdasarkan hasil penilaian habitat dan kondisi lingkungan. (jud/stch/dda)

Berita Sebelumnya
Rupiah Diprediksi Melemah Dampak Bencana

Rupiah Diprediksi Kembali Melemah, Dolar AS Berpotensi Tembus Rp17.680