BANYUMASEKSPRES.ID, BANJARNEGARA – Musim kemarau dan keterbatasan sumber air tidak selalu menjadi hambatan bagi masyarakat yang ingin menjalankan usaha budidaya ikan.
Teknologi bioflok dapat menjadi salah satu solusi untuk tetap membudidayakan ikan dengan penggunaan air yang lebih hemat dibandingkan sistem kolam konvensional.
Sistem budidaya ikan bioflok memungkinkan air dalam kolam digunakan kembali selama siklus pemeliharaan.
Teknologi tersebut dinilai cocok diterapkan oleh masyarakat yang memiliki keterbatasan sumber air, terutama ketika musim kemarau berlangsung cukup panjang.
Ketua Kompetensi Keahlian Perikanan SMKN 1 Bawang, Jauhar Fadli, mengatakan teknologi bioflok relatif sederhana sehingga dapat dipelajari dan diterapkan masyarakat tanpa harus memiliki latar belakang khusus di bidang perikanan.
“Bioflok ini merupakan solusi bagi masyarakat yang membutuhkan teknologi ringan, sederhana, dan mudah diterapkan. Keunggulannya, airnya sedikit dan bisa digunakan kembali untuk siklus berikutnya,” ujar Jauhar, Kamis (3/8/2026).
Salah satu keunggulan utama sistem bioflok adalah kebutuhan air yang relatif sedikit.
Dalam kondisi normal, pembudidaya tidak perlu melakukan penggantian air secara keseluruhan.
Perawatan dapat dilakukan dengan membersihkan tong filter dan menambahkan air sekitar 10 persen dalam satu bulan.
Dengan pola tersebut, kebutuhan air dapat ditekan sehingga lebih sesuai untuk diterapkan ketika ketersediaan air terbatas.
Air irigasi juga masih dapat digunakan untuk budidaya ikan setelah melewati proses penyaringan dan pengendapan.
Sementara itu, apabila menggunakan air PDAM, air sebaiknya diendapkan terlebih dahulu sebelum dimasukkan ke dalam kolam.
Pengelolaan air menjadi salah satu faktor penting dalam keberhasilan budidaya ikan nila bioflok.
Dengan perawatan yang tepat, penggunaan air dapat lebih efisien sekaligus membantu menjaga kondisi lingkungan kolam.
Selain hemat air, teknologi bioflok juga dinilai menarik dari sisi modal usaha.
Untuk satu kolam berdiameter tiga meter dengan kapasitas sekitar tujuh ton, kebutuhan biaya hingga masa panen diperkirakan sekitar Rp5 juta.
Biaya tersebut mencakup sejumlah kebutuhan utama dalam proses budidaya.
Di antaranya kerangka besi wiremesh, pompa air berdaya 70 watt, blower 100 watt, instalasi filter, benih ikan, serta pakan.
Kolam berukuran tersebut dapat diisi sekitar 300 hingga 500 ekor ikan nila ukuran konsumsi.
Jumlah ikan yang ditebar tentu tetap perlu disesuaikan dengan kondisi kolam dan sistem pemeliharaan agar pertumbuhan ikan tetap optimal.
Bagi masyarakat yang ingin memulai usaha budidaya ikan nila, skala tersebut dapat menjadi salah satu pilihan karena dapat dilakukan dengan lahan yang relatif terbatas.
Masa pemeliharaan ikan nila menggunakan sistem bioflok diperkirakan berlangsung sekitar 2,5 hingga 3 bulan. Setelah mencapai ukuran yang sesuai, ikan dapat dipanen.
Ukuran ikan ketika panen diperkirakan sekitar lima hingga enam ekor per kilogram.
Dengan siklus pemeliharaan yang relatif singkat, pembudidaya dapat mengatur pola produksi agar panen bisa dilakukan secara berkala.
Dari sisi keuntungan, budidaya satu kolam berpotensi menghasilkan keuntungan sekitar 30 persen dari omzet.
Nominal keuntungan diperkirakan berada di kisaran Rp1 juta hingga Rp1,5 juta per kolam.
“Untuk total cost (modal benih dan pakan) per kolam ukuran 3 meter berkisar Rp5 jutaan sampai panen. Keuntungannya bisa mencapai sekitar 30 persen dari omzet,” jelas Jauhar.
Tingkat kematian ikan juga disebut dapat ditekan di bawah 10 persen apabila proses pemeliharaan dilakukan dengan baik.
Bagi masyarakat yang ingin menjadikan budidaya ikan sebagai usaha rumahan, Jauhar menyarankan tidak hanya mengandalkan satu kolam.
Sedikitnya tiga kolam dapat digunakan agar siklus pemeliharaan dan panen dilakukan secara bergantian.
Dengan pola tersebut, pembudidaya memiliki peluang mendapatkan pemasukan secara lebih berkelanjutan.
Misalnya, ketika satu kolam memasuki masa panen, dua kolam lainnya dapat berada pada tahap pemeliharaan dengan usia ikan yang berbeda. Pola ini memungkinkan produksi tidak berhenti setelah satu kali panen.
Pengaturan siklus tersebut juga dapat membantu pembudidaya mengelola kebutuhan benih, pakan, tenaga, hingga pemasaran hasil panen.
Dalam penerapan sistem bioflok, kondisi lingkungan kolam juga perlu diperhatikan. Kolam disarankan memiliki atap atau penutup berbahan plastik.
Penutup tersebut dapat membantu mengurangi paparan sinar matahari secara langsung sekaligus mencegah terlalu banyak air hujan masuk ke dalam kolam.
Hal ini menjadi semakin penting ketika budidaya dilakukan di lingkungan rumah dengan kondisi cuaca yang tidak menentu.
Pengelolaan kolam yang baik diperlukan untuk menjaga proses pemeliharaan ikan tetap berjalan.
Teknologi bioflok juga menjadi bagian dari pembelajaran di SMKN 1 Bawang.
Fasilitas perikanan yang dimiliki sekolah tidak hanya dimanfaatkan untuk kegiatan pendidikan, tetapi juga terbuka bagi masyarakat yang ingin melihat dan mempelajari secara langsung teknik budidaya ikan nila dan lele.
Masyarakat dapat mempelajari bagaimana sistem bioflok diterapkan, mulai dari persiapan kolam hingga proses pemeliharaan ikan.
Menariknya, produksi ikan dari fasilitas sekolah bahkan belum mampu memenuhi tingginya permintaan pasar lokal.
Kondisi tersebut menunjukkan adanya peluang pasar untuk hasil budidaya ikan di wilayah tersebut.
Menurut Jauhar, masyarakat tidak harus memiliki pendidikan atau pengalaman khusus di bidang perikanan untuk mempelajari teknologi bioflok.
Teknologi tersebut justru dapat menjadi alternatif bagi masyarakat yang ingin tetap produktif ketika menghadapi keterbatasan air pada musim kemarau.
“Harapannya, teknologi ini dapat membantu masyarakat tetap produktif di tengah keterbatasan air pada musim kemarau,” katanya.
Budidaya ikan menggunakan sistem bioflok juga dapat menjadi pilihan bagi masyarakat yang memiliki lahan terbatas.
Kolam dapat ditempatkan di area yang tidak terlalu luas selama memenuhi kebutuhan dasar untuk pemeliharaan ikan.
Dengan kebutuhan air yang lebih hemat, modal sekitar Rp5 juta untuk satu kolam, serta masa panen sekitar tiga bulan, sistem tersebut berpotensi menjadi salah satu peluang usaha perikanan skala rumah tangga.
Namun, keberhasilan usaha tetap bergantung pada pengelolaan kolam, kualitas air, pemberian pakan, kesehatan ikan, tingkat kematian, serta harga jual ketika panen.
Bagi masyarakat Banjarnegara dan wilayah lain yang menghadapi musim kemarau, teknologi bioflok dapat menjadi alternatif untuk menjaga kegiatan budidaya ikan nila tetap berjalan.
Selain membantu menghemat penggunaan air, sistem ini juga membuka peluang usaha dengan memanfaatkan lahan yang relatif terbatas.
Dengan perencanaan siklus produksi yang tepat, pembudidaya bahkan dapat mengatur beberapa kolam untuk menghasilkan panen secara bergantian sehingga peluang mendapatkan pemasukan dapat berlangsung lebih rutin. (jud/stch/dda)














