Banyumas Ekspres
Dark ModeLight Mode

Longsor Gerus Halaman Rumah Warga di Cangkring Kebumen

Longsor Ancam Pemukiman Warga Desa CangkringLongsor Ancam Pemukiman Warga Desa Cangkring
LONGSOR: BPBD Kebumen bersama warga memasang bronjong untuk mengantisipasi longsor susulan yang terjadi di Desa Cangkring Kecamatan Sadang

BANYUMASEKSPRES.ID, KEBUMEN – Warga Desa Cangkring, Kecamatan Sadang, Kabupaten Kebumen, mengajukan permohonan bantuan kawat bronjong kepada Pemerintah Kabupaten Kebumen melalui Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD).

Permintaan tersebut dilakukan setelah wilayah tersebut dilanda bencana tanah longsor yang menggerus sebagian halaman rumah warga.

Tidak ada korban jiwa dalam peristiwa tersebut. Namun, longsor menyebabkan kerugian material yang ditaksir mencapai puluhan juta rupiah.

Warga juga masih dihantui kekhawatiran akan terjadinya longsor susulan, terutama karena terdapat pemukiman penduduk di sekitar lokasi.

Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Kebumen telah menerima laporan mengenai kejadian tersebut.

Bako Humas BPBD Kebumen Heri Purwoto mengatakan, laporan bencana diterima pada 7 September 2026, sedangkan peristiwa longsor terjadi pada Sabtu (5/9).

“Sebagai tindak lanjut dari bencana tersebut, warga meminta bantuan kawat bronjong untuk pengaman agar tidak terjadi longsor susulan,” ujar Heri, Selasa (8/9).

Peristiwa longsor terjadi di RT 02/RW 03, Dukuh Kalipoh, Desa Cangkring, Kecamatan Sadang.

Lokasi tersebut merupakan kawasan yang memiliki kondisi permukaan tanah cukup tinggi.

Salah satu warga yang terdampak adalah Sumedi. Rumahnya berada di kawasan yang lebih tinggi dan sebagian halaman rumahnya mengalami amblas setelah diterjang longsor.

Berdasarkan laporan yang diterima BPBD Kebumen, bagian halaman rumah Sumedi yang terdampak longsor memiliki panjang sekitar 10 meter.

Material tanah kemudian bergerak ke bagian bawah sehingga menyebabkan sebagian halaman rumah tersebut tergerus dan amblas.

Kondisi tersebut membuat warga perlu melakukan penanganan untuk mengurangi risiko terjadinya pergerakan tanah kembali.

Terlebih, area yang terdampak berada tidak jauh dari pemukiman warga.

Heri menjelaskan, berdasarkan keterangan warga, kejadian longsor tersebut didahului oleh adanya getaran yang dirasakan masyarakat. Setelah itu, tidak lama kemudian terjadi longsor di sekitar rumah warga.

“Menurut laporan warga, longsor terjadi setelah mereka merasakan gempa. Tak lama kemudian terjadi longsor dengan panjang 10 meter dan ketinggian 2,5 meter,” ujar Heri.

Informasi mengenai getaran atau gempa tersebut merupakan keterangan yang disampaikan warga dalam laporan kejadian.

Penyebab teknis longsor masih perlu dilihat berdasarkan kondisi lapangan.

Setelah kejadian, penanganan awal langsung dilakukan warga bersama BPBD Kebumen.

Salah satu langkah yang dilakukan adalah kerja bakti untuk membersihkan material tanah yang berada di sekitar lokasi terdampak.

Selain membersihkan material longsor, warga juga membuat pengaman darurat. Upaya tersebut dilakukan sebagai langkah sementara untuk mengantisipasi kemungkinan terjadinya pergerakan tanah kembali.

Kerja bakti menjadi bentuk penanganan awal sembari menunggu dukungan pengamanan yang lebih memadai.

Warga berharap kondisi area terdampak dapat segera diperkuat sehingga risiko longsor susulan bisa diminimalkan.

Kekhawatiran warga cukup beralasan karena longsor telah menyebabkan bagian halaman rumah mengalami amblas.

Jika pergerakan tanah kembali terjadi, dampaknya dikhawatirkan dapat meluas dan mengancam rumah warga di sekitar lokasi.

Untuk memperkuat area tersebut, warga mengajukan bantuan sebanyak 25 kawat bronjong kepada Pemkab Kebumen melalui BPBD.

Heri mengatakan, permintaan tersebut sedang ditindaklanjuti. Nantinya, kawat bronjong akan digunakan sebagai bagian dari pengamanan area pemukiman penduduk yang berada di sekitar lokasi longsor.

“Bantuan kawat bronjong 25 buah sedang ditindaklanjuti. Nantinya kawat bronjong ini untuk pengaman area pemukiman penduduk,” ujar Heri.

Bronjong diharapkan dapat membantu memperkuat area yang rawan mengalami pergerakan tanah.

Dengan adanya pengamanan tersebut, warga berharap risiko longsor susulan dapat ditekan, terutama pada bagian lahan yang telah mengalami longsor.

Permintaan bantuan ini juga menjadi bagian dari upaya penanganan pascabencana.

Selain pengamanan sementara yang telah dilakukan melalui kerja bakti, warga membutuhkan perlindungan yang lebih kuat untuk mengurangi potensi dampak jika terjadi pergerakan tanah kembali.

Meski tidak ada korban jiwa dalam kejadian tersebut, warga Desa Cangkring masih harus mewaspadai kondisi di sekitar lokasi longsor.

Sebagian halaman rumah yang sudah amblas menunjukkan adanya perubahan kondisi tanah setelah kejadian.

Apalagi, rumah warga berada di kawasan yang memiliki perbedaan ketinggian.

Kondisi tersebut membuat pengamanan area menjadi penting untuk mengantisipasi kemungkinan pergerakan tanah berikutnya.

BPBD bersama warga telah melakukan langkah awal di lokasi. Namun, permintaan 25 kawat bronjong menunjukkan bahwa masyarakat membutuhkan dukungan lanjutan untuk memperkuat area yang terdampak.

Dengan adanya bantuan pengamanan tersebut, diharapkan kawasan pemukiman di Dukuh Kalipoh, Desa Cangkring, dapat menjadi lebih aman.

Warga pun dapat kembali beraktivitas dengan lebih tenang sembari tetap memperhatikan kondisi lingkungan, terutama apabila terjadi hujan maupun perubahan kondisi tanah.

Penanganan longsor di Desa Cangkring menjadi perhatian karena selain menimbulkan kerugian material, bencana tersebut juga berdampak pada halaman rumah warga.

Pemerintah dan masyarakat diharapkan dapat terus berkoordinasi dalam upaya mitigasi agar potensi bencana susulan dapat diminimalkan. (*/stch/ddaL

Berita Sebelumnya
Modus Dana Talangan Rp745 Juta Raib

Warga Baturraden Ditangkap Terkait Penipuan Dana Talangan 745 Juta, Polisi Sita Bukti WhatsApp