BANYUMASEKSPRES.ID, BANJARNEGARA – Momentum Tahun Baru Islam 1447 Hijriah tak hanya menjadi momen spiritual, tetapi juga menyuguhkan potensi besar bagi pengembangan wisata budaya dan religi di wilayah Banyumas Raya.
Dari Banjarnegara hingga Kebumen, tradisi turun-temurun yang sarat makna seperti Grebeg Suran dan Ruwat Kabumian menjadi magnet yang menarik ribuan pengunjung.
Perpaduan antara ritual sakral dan warisan budaya lokal ini menyajikan pengalaman unik yang tidak hanya mempererat nilai-nilai kebersamaan, tetapi juga berpotensi mendongkrak ekonomi masyarakat melalui sektor pariwisata.
Di Desa Gumelem Kulon, Kecamatan Susukan, Kabupaten Banjarnegara, Grebeg Suran Sunan Geseng menjadi daya tarik bagi ribuan warga pada Sabtu (28/6/2025).
Acara ini menampilkan empat gunungan berisi hasil bumi dan makanan tradisional yang diarak menuju kompleks Makam Sunan Geseng. Gunungan tersebut bukan sekadar pemandangan, tetapi simbol rasa syukur dan keberkahan yang mendalam.
Puncak acara ditandai dengan prosesi “ngalap berkah” ketika warga berebut isi dari gunungan. Mereka meyakini bahwa apa pun yang mereka peroleh dari gunungan dapat membawa keberuntungan, kelancaran rezeki, dan keselamatan sepanjang tahun.
Tradisi ini bukan hanya bentuk perayaan, tetapi juga sarana untuk memupuk kebersamaan dan mempererat tali silaturahmi antarwarga.
Kepala Desa Gumelem Kulon, Arief Machbub, menjelaskan bahwa Grebeg Suran adalah cara bagi warga untuk menghormati Sunan Geseng. Sunan Geseng dikenal sebagai murid Sunan Kalijaga dan penyebar Islam di wilayah Banjarnegara.
“Ini bukan sekadar budaya, tapi juga bentuk rasa syukur dan penghormatan kepada tokoh yang berjasa membawa Islam ke sini,” ucap Arief.
Tradisi ini telah berlangsung lima kali berturut-turut dan selalu menjadi ajang pertemuan antarwarga serta peneguhan identitas budaya desa.
Keberlangsungan acara ini menunjukkan bagaimana nilai-nilai lokal dapat terus dipertahankan di tengah perubahan zaman.
Wakil Bupati Banjarnegara, Wakhid Jumali, turut hadir dalam Grebeg Suran. Ia menekankan pentingnya menjadikan tahun baru hijriah sebagai momentum untuk memperbarui niat.
“Ini soal menyatukan doa dan ikhtiar agar desa semakin maju dan masyarakat makin guyub,” katanya.
Sementara itu di Kebumen, nuansa sakral terasa dalam Ruwat Kabumian yang digelar oleh Pemerintah Kabupaten Kebumen di Pendopo Kabumian pada Kamis (26/6/2025).
Tradisi dimulai dengan doa akhir dan awal tahun Hijriah sebelum dilanjutkan dengan prosesi basuh kaki yang unik: Wiji Winaras membasuh kaki Bupati Lilis Nuryani menggunakan air dari tujuh mata air.
“Maknanya adalah harapan agar langkah Ibu Bupati dalam memimpin Kebumen selalu dimudahkan, dan daerah ini diberi keberkahan,” ujar Wiji.
Setelah itu, tombak pusaka diarak mengelilingi alun-alun bersama gunungan hasil bumi yang kembali menjadi rebutan warga dalam prosesi ngalap berkah.
Acara ini tidak hanya menonjolkan kebudayaan lokal tetapi juga menyampaikan nilai-nilai filosofis tentang hubungan antara manusia, alam, dan Tuhan.
“Melalui kegiatan ini, kita belajar kembali tentang cinta terhadap daerah, pentingnya menjaga alam, dan merawat warisan budaya yang menyatukan kita,” tutur Bupati Lilis.
Rangkaian Ruwat Kabumian turut dimeriahkan oleh doa lintas agama, seni tradisional cowongan serta pelepasan unggas sebagai simbol kebebasan.
Malam satu suro yang bertepatan dengan malam Jumat Kliwon ditutup dengan pembacaan Yasin dan Tahlil. Suasana hening, penuh refleksi dan doa, menyelimuti jantung kota Kebumen.
Dari Grebeg Suran di Banjarnegara hingga Ruwat Kabumian di Kebumen, Tahun Baru Islam 1447 H menjadi bukti bahwa budaya lokal masih hidup dan terus dirawat.
Lebih dari sekadar upacara adat, perayaan ini menyimpan nilai spiritual, kebersamaan, serta potensi besar dalam memperkuat identitas daerah melalui jalur pariwisata berbasis budaya.
Jika digarap secara serius dan konsisten, tradisi semacam ini bisa berkembang menjadi agenda wisata unggulan yang mendatangkan manfaat ekonomi bagi masyarakat, sekaligus memperkenalkan kekayaan budaya kepada dunia. (jud/fur/stch)
















