BANYUMASEKSPRES.ID, PURWOKERTO – Peristiwa dramatis terjadi di Sekolah Alam Baturraden, Purwokerto, ketika perayaan Hari Guru berubah menjadi insiden yang mengejutkan.
Pada Senin sore, 25 November 2025, sekitar pukul 15.30 hingga 16.00 WIB, lantai dua ruang serbaguna sekolah tersebut tiba-tiba runtuh.
Momen menegangkan ini berlangsung saat puluhan guru dan fasilitator sedang berkumpul untuk memperingati Hari Guru.
Kegiatan yang seharusnya penuh kebahagiaan ini berubah menjadi bencana ketika sebagian dari mereka baru saja bersiap untuk sesi foto bersama, sementara yang lain sedang mengikuti rapat evaluasi internal sekolah.
Syukur, tidak ada siswa yang berada di lokasi kejadian karena seluruhnya sudah dipulangkan lebih awal.
Dalam insiden itu, sekitar 20 guru dan fasilitator terjatuh bersamaan dengan runtuhnya lantai dan bangunan berbahan kayu tersebut.
Beberapa dari mereka mengalami luka-luka mulai dari ringan hingga berat, bahkan ada yang menderita patah tulang.
Meski begitu, untungnya tidak ada korban jiwa yang dilaporkan akibat kejadian ini.
Para korban segera dilarikan ke berbagai rumah sakit untuk mendapatkan perawatan medis.
Sebagian besar dibawa ke Rumah Sakit Ortopedi Purwokerto, sementara satu orang korban dirawat di RS Wijayakusuma Purwokerto.
Salma Nuriftinan, salah satu guru yang selamat dari insiden tersebut, menceritakan detik-detik sebelum lantai runtuh.
“Tadi ada yang dengar suara krek, terus enggak lama langsung ambrol,” ungkapnya kepada awak media.
Salma sendiri ikut terjatuh dalam insiden itu namun hanya mengalami luka ringan.
“Alhamdulillah saya cuma lebam di lengan dan punggung. Sekarang masih menunggu rontgen,” tuturnya dengan nada lega meski masih terlihat trauma.
Kejadian ini berlangsung beberapa menit setelah azan Asar berkumandang.
Menurut dugaan sementara Salma dan beberapa saksi lainnya, kemungkinan penyebab runtuhnya lantai adalah beban yang terkonsentrasi pada satu titik ketika para guru berkumpul untuk berfoto bersama.
Rido Mai Pratama, petugas kebersihan di sekolah tersebut sekaligus saksi mata lainnya, mengaku baru tiba di lokasi sekitar pukul 15.30 hingga mendekati 16.00 WIB saat insiden terjadi.
“Saya datang sekitar jam 15.30 atau jam 16.00 kurang. Baru sampai terus dengar suara brak dari arah bangunan itu,” jelas Rido saat ditemui awak media di lokasi kejadian.
Ia langsung berlari menuju sumber suara dan mendapati banyak korban tergeletak membutuhkan pertolongan cepat.
“Saya lari ke sana dan ternyata sudah banyak yang terluka. Ada yang luka berat, luka ringan dan ada juga yang patah tulang,” tambah Rido sambil menjelaskan bahwa kurang lebih ada sekitar 20 orang menjadi korban dalam peristiwa ini.
Menurut Rido para korban adalah fasilitator atau guru yang sedang mengikuti kegiatan internal sekolah dalam rangka peringatan Hari Guru.
Ia memastikan bahwa tidak ada murid di area bangunan saat kejadian berlangsung karena semua siswa telah dipulangkan sebelumnya.
Bagian bangunan yang ambruk diketahui merupakan struktur berbahan kayu namun Rido mengaku tidak mengetahui kondisi fisik bangunan sebelumnya apakah keropos atau tidak karena sudah lama tidak memasuki ruangan tersebut.
Sementara itu Kepolisian Sektor Purwokerto Utara langsung melakukan penyelidikan atas insiden ini begitu menerima laporan kejadian tersebut.
Kapolsek Purwokerto Utara Kompol Margono menyatakan pihaknya segera turun ke tempat kejadian perkara (TKP) berkoordinasi dengan tim Inafis Polresta Banyumas untuk mengamankan area serta mengumpulkan keterangan dari para saksi mata.
Terkait penyebab ambruknya lantai dua Kompol Margono belum bisa memberikan kesimpulan pasti karena masih menunggu hasil pengecekan lebih lanjut apakah struktur kayu beton plafon atau bagian lainnya yang menyebabkan runtuhnya lantai tersebut.
Data jumlah korban juga masih terus diperbarui oleh pihak kepolisian dimana informasi awal menyebutkan ada 21 guru menjadi korban namun data resmi masih ditunggu dari pihak rumah sakit tempat para korban dirawat.
“Penyelidikan masih kami lakukan dan semua keterangan sedang kami dalami,” ujar Kompol Margono sambil menambahkan bahwa kegiatan sebenarnya saat kejadian juga belum bisa dikonfirmasi tetapi dipastikan bukan merupakan kegiatan belajar-mengajar rutin sekolah.
Hingga berita ini diturunkan pendataan korban serta penyebab pasti ambruknya lantai dua Sekolah Alam Baturraden masih dalam tahap penyelidikan oleh aparat penegak hukum. (zet/dms/dda)
















