Banyumas Ekspres
Dark ModeLight Mode

Warga Swadaya Perkuat Pondasi Jembatan Darurat Watuagung Banyumas

Rogoh kocek pribadi buat pondasiRogoh kocek pribadi buat pondasi

BANYUMASEKSPRES.ID, BANYUMAS – Akses utama jalan kabupaten di ruas Kamulyan–Watuagung, Kecamatan Tambak, Banyumas, kini kembali menjadi fokus perhatian.

Setelah sebelumnya mengalami kerusakan parah akibat amblasnya tembok penahan saluran air, warga secara swadaya melakukan aksi nyata untuk memperbaiki jembatan darurat yang menjadi jalur alternatif utama.

Jembatan sementara yang sebelumnya dibangun menggunakan batang pohon kelapa kini tengah digeser dan diperkuat pondasinya. Hal ini dilakukan agar akses kendaraan roda empat yang sebelumnya terputus bisa segera kembali normal.

“Kami warga pemilik kendaraan swadaya lagi membuat pondasi,” kata Suwaryo, anggota Badan Permusyawaratan Desa (BPD) Watuagung, saat ditemui Selasa (10/6).

Menurut Suwaryo, keberadaan jalan ini sangat vital. Selain sebagai penghubung antar desa dan kecamatan, jalur Kamulyan–Watuagung juga merupakan akses penting antar kabupaten, yaitu antara Banyumas dan Banjarnegara.

Tidak hanya menunjang mobilitas warga, tetapi juga penting untuk aktivitas ekonomi, transportasi hasil pertanian, hingga kedaruratan kesehatan.

Karena itu, warga tidak tinggal diam setelah jembatan sebelumnya ambrol akibat longsor pada akhir Mei 2025. Batang pohon kelapa yang menjadi badan jembatan darurat memang tidak cukup stabil jika tidak diperkuat.

Maka, pondasi baru kini dibangun sebagai penopang utama agar lintasan sementara tersebut bisa digunakan secara lebih aman.

Dengan pergeseran posisi jembatan dan pembangunan pondasi ini, masyarakat berharap kendaraan roda dua dan empat bisa kembali melintas dengan lancar.

Secara terpisah, Nawito, salah satu pekerja yang ikut membangun pondasi jembatan darurat, menjelaskan bahwa proses pembangunan sudah berjalan selama tiga hari terakhir.

“Kami yang membuat pondasi untuk jembatan darurat dihitung bekerja, dapat bayaran,” ucapnya.

Ia menambahkan, meskipun progres cukup lancar, belum bisa dipastikan kapan jembatan akan difungsikan secara penuh, karena ketahanan pondasi masih perlu dipastikan benar-benar kuat agar tidak kembali mengalami kerusakan saat dilintasi kendaraan berat.

Selama proses pembangunan berlangsung, kendaraan roda empat terpaksa harus memutar melalui jalan desa yang lebih jauh dan sempit.

Sementara itu, jalan kabupaten Kamulyan–Watuagung sendiri dikenal sebagai jalur utama bagi masyarakat di wilayah perbatasan, menghubungkan sisi selatan Kabupaten Banyumas dengan sisi utara Banjarnegara.

Kerusakan jembatan di titik ini sangat serius. Hampir seluruh bagian jembatan ambrol, menyisakan struktur yang tidak bisa lagi menopang kendaraan, terlebih roda empat.

Maka, upaya pembangunan pondasi saat ini bukan sekadar perbaikan sementara, tetapi langkah penting untuk memulihkan konektivitas yang terganggu.

Dalam konteks infrastruktur daerah, peran partisipasi masyarakat seperti ini menjadi bentuk nyata kolaborasi pembangunan berbasis kebutuhan lokal.

Pemerintah desa, tokoh masyarakat, dan warga pemilik kendaraan saling bergotong royong menyelesaikan persoalan yang langsung berdampak pada aktivitas harian.

Sementara itu, kebutuhan akan infrastruktur jalan dan jembatan yang andal di wilayah perbatasan kabupaten semakin mendesak.

Tidak hanya untuk mendukung logistik dan transportasi hasil bumi, tetapi juga penting dalam menunjang sektor pariwisata dan pengembangan kawasan ekonomi terpadu.

Dengan upaya penguatan pondasi yang kini tengah berlangsung, harapan warga Watuagung dan sekitarnya adalah agar jalur Kamulyan–Watuagung bisa segera difungsikan kembali secara optimal, sekaligus menjadi pengingat pentingnya keberlanjutan pemeliharaan infrastruktur jalan kabupaten yang menyambungkan wilayah pedesaan dengan pusat ekonomi. (fij/stch)

Berita Sebelumnya
Perang dagang mobil china

Pemerintah China Sendiri Minta Produsen Hentikan Perang Harga Mobil Murah yang Merugikan Industri

Berita Selanjutnya
Anggaran mobdin dinilai pemborosan

Biaya Pengadaan Mobil Dinas Pejabat Eselon I Dinilai Tidak Efisien, Menteri Prasetyo Tegaskan Ini Hanya Standar Acuan