Banyumas Ekspres
Dark ModeLight Mode

Pemerintah China Sendiri Minta Produsen Hentikan Perang Harga Mobil Murah yang Merugikan Industri

Perang dagang mobil chinaPerang dagang mobil china

BANYUMASEKSPRES.ID, JAKARTA – Perang harga mobil buatan China semakin memanas dan dianggap sudah melampaui batas kewajaran. Beberapa produsen kendaraan di Negeri Tirai Bambu kini mematok harga jauh di bawah standar pasar, yang memicu kekhawatiran dari pemerintah dan regulator setempat.

Pemerintah China telah mengambil langkah serius dengan memanggil petinggi beberapa perusahaan otomotif ke Beijing.

Tujuannya adalah untuk menghentikan praktik perang harga yang merugikan industri secara keseluruhan dan mengajak produsen melakukan self-regulation sebelum situasi makin memburuk.

Meski perang harga ini sempat memberikan efek positif dalam mendorong peningkatan penjualan mobil di pasar domestik China, pemerintah menilai bahwa persaingan yang berlebihan berisiko memicu ‘race to the bottom’ atau kompetisi merugikan yang justru melemahkan seluruh ekosistem industri.

Regulator pasar China juga menyuarakan seruan agar persaingan yang tidak sehat ini dapat dihentikan. Mereka menyerukan perlunya “secara komprehensif merapikan kompetisi yang involusioner” untuk menciptakan iklim bisnis yang lebih stabil dan produktif.

Istilah “involusioner” sendiri digunakan oleh Perdana Menteri Li Qiang dalam laporan kerja tahunan sebagai gambaran dinamika pasar yang kian merugikan para pelaku industri, karena persaingan yang tidak sehat justru menimbulkan kerugian bersama.

Dalam dua tahun terakhir, harga mobil listrik dan hybrid baru di China tercatat mengalami penurunan yang cukup signifikan. Menurut Asosiasi Produsen Mobil China (CAAM), perang harga yang tidak masuk akal ini dapat memperburuk kondisi kompetisi pasar lokal dan menimbulkan dampak negatif bagi keberlangsungan produsen mobil.

Kementerian Industri dan Teknologi Informasi China (MIIT) menyatakan akan memperketat regulasi guna menekan persaingan yang tidak produktif.

Pemerintah berupaya menegakkan aturan hukum yang dapat mendorong persaingan sehat dan mencegah kerugian lebih lanjut bagi industri otomotif nasional.

Namun, sejumlah pengamat dan pelaku industri masih meragukan keberhasilan langkah tersebut. Mereka justru memperkirakan perang harga akan semakin sengit seiring bertambahnya jumlah produsen mobil di China dalam beberapa tahun mendatang.

He Xiaopeng, CEO Xpeng, salah satu perusahaan otomotif terkemuka di China, mengungkapkan kekhawatirannya mengenai masa depan kompetisi industri otomotif domestik. Menurutnya, persaingan akan makin intens dalam lima tahun ke depan.

“Persaingan akan menjadi lebih intens dalam lima tahun ke depan. Ini baru hidangan pembuka,” ujar Xiaopeng, menggambarkan potensi perang harga yang belum berakhir.

Selama dua tahun terakhir, data menunjukkan rata-rata harga ritel mobil baru di China turun sekitar 19 persen. Saat ini, harga mobil rata-rata berada di kisaran 165 ribu yuan, atau sekitar Rp 370 jutaan.

Penurunan harga yang drastis ini, meskipun menguntungkan konsumen dalam jangka pendek, juga menimbulkan tantangan besar bagi keberlanjutan bisnis produsen mobil di China.

Pemerintah dan pelaku industri kini berada pada titik krusial untuk menentukan arah persaingan dan regulasi yang akan membentuk masa depan pasar otomotif China. (*/stch)

Berita Sebelumnya
Kounde raja baru mode sepak bola

Gaya Jules Kounde, Bek Barcelona yang Menyatukan Sepak Bola dan Mode

Berita Selanjutnya
Rogoh kocek pribadi buat pondasi

Warga Swadaya Perkuat Pondasi Jembatan Darurat Watuagung Banyumas