Banyumas Ekspres
Dark ModeLight Mode
Indonesia Raih Peringkat Kedua Sebagai Destinasi Ramah Muslim Di Dunia
Warisan Keluarga Sejak 1931, Perajin Jaran Kepang Temanggung Kini Pasarkan Produk ke Malaysia

Warisan Keluarga Sejak 1931, Perajin Jaran Kepang Temanggung Kini Pasarkan Produk ke Malaysia

Jaran Kepang Temanggung Tembus MancanegaraJaran Kepang Temanggung Tembus Mancanegara
PRODUKSI: Supriwanto (40), perajin jaran kepang dari Sanggar Kandang Jaran, Dusun Kembang, Desa Dlimoyo, Kecamatan Ngadirejo sedang berkarya di sanggarnya

BANYUMASEKSPRES.ID, TEMANGGUNG – Di tengah derasnya arus modernisasi, mempertahankan kesenian tradisional menjadi tantangan tersendiri.

Namun, bagi Supriwanto (40), membuat jaran kepang bukan sekadar pekerjaan untuk mendapatkan penghasilan.

Kerajinan tersebut menjadi cara untuk menjaga warisan budaya keluarga yang telah berlangsung selama hampir satu abad.

Supriwanto merupakan generasi ketiga perajin jaran kepang di Sanggar Kandang Jaran, Dusun Kembang, Desa Dlimoyo, Kecamatan Ngadirejo, Temanggung.

Usaha yang kini ditekuninya merupakan warisan keluarga yang dirintis sang kakek sejak 1931 dan kemudian dilanjutkan oleh ayahnya pada 1971.

Menariknya, menjadi perajin jaran kepang bukanlah cita-cita Supriwanto sejak awal.

Ia justru mengaku tidak memiliki keinginan untuk meneruskan usaha tersebut. Keputusannya berubah setelah mendapat amanah dari sang ayah sebelum meninggal dunia.

Supriwanto mengatakan, dirinya memilih melanjutkan pembuatan jaran kepang bukan karena dorongan untuk mengejar bisnis semata.

Ada pesan dari orang tua yang membuatnya merasa memiliki tanggung jawab untuk menjaga warisan leluhur.

“Kalau boleh jujur, sebenarnya saya dulu enggak ada kerentek (keinginan) untuk meneruskan. Saya murni menjalankan wasiat dari orang tua untuk melestarikan warisan budaya leluhur agar tidak terputus,” ujar Supriwanto saat ditemui di sanggarnya, Rabu (2/9).

Sejak 2010, terutama setelah menikah, Supriwanto mulai semakin serius menekuni pembuatan jaran kepang.

Ia tidak hanya mempertahankan cara produksi yang diwariskan keluarga, tetapi juga berusaha menyesuaikannya dengan perkembangan zaman.

Salah satu langkah yang dilakukan adalah memanfaatkan media sosial untuk memperkenalkan produk.

Strategi tersebut membuat pemasaran jaran kepang tidak lagi terbatas pada lingkungan sekitar Temanggung.

Perlahan, produk Sanggar Kandang Jaran mulai dikenal di luar daerah. Jaran kepang buatan Supriwanto kini telah dikirim ke berbagai wilayah di Indonesia.

Pasarnya bahkan berhasil menembus luar negeri. Malaysia menjadi salah satu negara tujuan pengiriman produk jaran kepang tersebut.

Tidak hanya melalui pesanan langsung, wisatawan mancanegara yang berkunjung ke Indonesia juga pernah membeli hasil karya Supriwanto.

Wisatawan asal Prancis dan Australia tercatat pernah membeli jaran kepang buatannya untuk dijadikan suvenir.

Perkembangan tersebut menjadi bukti bahwa kerajinan tradisional masih memiliki peluang untuk diterima pasar yang lebih luas ketika dikemas dan dipasarkan dengan cara yang sesuai.

Bagi Supriwanto, media sosial menjadi salah satu sarana penting untuk mengenalkan karakter jaran kepang Temanggung kepada calon pembeli di luar daerah.

Aktivitas produksi di Sanggar Kandang Jaran berlangsung dengan kapasitas yang cukup beragam.

Untuk jaran kepang berukuran besar yang digunakan dalam kebutuhan pementasan, sanggar tersebut mampu memproduksi sekitar 13 hingga 17 buah dalam sebulan.

Sementara untuk jaran kepang mainan, produksinya jauh lebih banyak. Dalam satu pekan, sekitar 100 jaran kepang mainan dapat dibuat untuk memenuhi permintaan pasar.

Produk mainan tersebut kemudian dipasarkan melalui jaringan grosir di Wonosobo dan Magelang.

Dengan demikian, produksi sanggar tidak hanya menyasar kebutuhan kelompok kesenian, tetapi juga konsumen yang ingin memiliki jaran kepang dalam bentuk lebih sederhana.

Harga yang ditawarkan pun bervariasi. Penentuan harga mempertimbangkan ukuran, fungsi, bahan yang digunakan, serta tingkat kerumitan pengerjaan.

Untuk jaran kepang mainan anak, harganya mulai sekitar Rp35 ribu. Sedangkan jaran kepang untuk kebutuhan tari profesional memiliki rentang harga sekitar Rp600 ribu hingga Rp6 juta.

Varian dengan harga paling tinggi merupakan produk custom yang menggunakan bulu kuda asli.

Produk tersebut membutuhkan bahan dan pengerjaan khusus sehingga nilainya berbeda dibandingkan jaran kepang mainan.

Supriwanto tidak sekadar mempertahankan usaha keluarga, tetapi juga menjaga karakter khas jaran kepang Temanggung. Salah satu material utama yang digunakannya adalah bambu apus.

Bambu tersebut dipilih karena memiliki karakter kuat sekaligus lentur sehingga dapat diolah menjadi bentuk jaran kepang.

Dari sisi bentuk, jaran kepang Temanggung cenderung memiliki ukuran lebih kecil dibandingkan sejumlah produk dari daerah lain.

Warna yang digunakan juga berani dan beragam sehingga memberikan tampilan khas.

Bagian kaki depan kuda dibuat dalam posisi menekuk. Bentuk tersebut bukan tanpa makna.

Menurut Supriwanto, posisi tersebut menjadi simbol olah kanuragan atau gambaran prajurit yang siap menghadapi peperangan.

Karakter tersebut menjadi bagian dari identitas produk yang terus dipertahankan di tengah tuntutan pasar yang semakin beragam.

Dalam menjalankan Sanggar Kandang Jaran, Supriwanto tidak bekerja seorang diri. Ia mengelola usaha tersebut bersama istrinya, Ayu Ismilatun.

Selain keluarga, sejumlah mitra lokal juga ikut membantu proses produksi hingga pemasaran.

Kolaborasi tersebut membuat aktivitas usaha dapat berjalan sekaligus membuka ruang bagi masyarakat sekitar untuk terlibat dalam rantai produksi kerajinan tradisional.

Bagi Supriwanto, keberlangsungan usaha jaran kepang tidak hanya ditentukan oleh kemampuan membuat produk.

Pemasaran dan kemampuan memperkenalkan nilai budaya di balik produk juga menjadi bagian penting agar kerajinan tersebut tetap memiliki tempat di tengah perubahan zaman.

Hampir satu abad perjalanan usaha keluarga membuat Supriwanto melihat jaran kepang dari perspektif yang lebih luas.

Kerajinan tersebut memang memiliki nilai ekonomi, tetapi di balik itu terdapat sejarah dan identitas budaya yang diwariskan dari generasi ke generasi.

Keputusan untuk meneruskan usaha setelah mendapat amanah dari orang tua membuat Supriwanto tidak ingin tradisi tersebut berhenti pada dirinya.

Pemanfaatan media sosial, pengembangan produk, hingga pemasaran ke luar daerah dan mancanegara menjadi cara yang dilakukan untuk membuat warisan tersebut tetap relevan.

Jaran kepang yang dahulu dibuat dan dipasarkan dalam lingkup terbatas kini dapat menjangkau konsumen dari berbagai daerah, bahkan Malaysia.

Pengalaman tersebut menunjukkan bahwa kesenian tradisional memiliki peluang untuk berkembang tanpa harus kehilangan identitasnya.

Bagi Supriwanto, mempertahankan jaran kepang berarti menjaga bagian dari identitas budaya Temanggung agar tetap hidup.

Warisan yang diterimanya dari sang ayah pun kini terus dilanjutkan melalui karya-karya yang dibuat di Sanggar Kandang Jaran. (*/stch/dda)

Berita Sebelumnya
Destinasi Aman Untuk Muslim

Indonesia Raih Peringkat Kedua Sebagai Destinasi Ramah Muslim Di Dunia