BANYUMASEKSPRES.ID, PURWOKERTO – Tidak ada yang istimewa dari langkah pertama Ridho Rizqi Firmansyah. Hanya tiga kilometer.
Jarak yang kini terasa sangat pendek bagi pelari ultra trail asal Purwokerto itu justru menjadi awal dari perjalanan panjang hingga menembus salah satu ajang ultra trail paling bergengsi di dunia, Ultra-Trail du Mont-Blanc (UTMB) di Chamonix, Prancis.
Perjalanan Ridho menuju Mont Blanc tidak dibangun dalam semalam. Bertahun-tahun sebelumnya, olahraga lari bahkan bukan bagian dari kehidupannya.
Pria asal Purwokerto Utara tersebut pernah menjadi perokok berat dengan pola hidup yang tidak sehat.
Perubahan mulai dilakukan sekitar 2020-2021 ketika ia memutuskan menurunkan berat badan sekaligus menjalani kehidupan yang lebih sehat.
Ridho tidak langsung mengejar jarak panjang. Ia memulai dari tiga kilometer, kemudian meningkat menjadi lima kilometer, 10 kilometer, dan seterusnya.
Baginya, pada tahap awal bukan kecepatan yang menjadi tujuan. Ia lebih memilih membangun kebiasaan hingga olahraga lari perlahan menjadi bagian dari kesehariannya.
“Dari mulai jarak 3 km, 5 km, 10 km dan seterusnya. Saya bangun habit dulu, lama-lama saya menyukai olahraga lari,” kata Ridho.
Kecintaan Ridho terhadap alam yang tumbuh sejak berkuliah di Bandung kemudian membawanya mengenal dunia trail run.
Debutnya di ajang trail running terjadi pada Siksorogo Lawu Ultra 7K pada 2022. Setelah itu, jarak perlombaan yang diikutinya terus bertambah.
Dari 20 kilometer, Ridho mulai mencoba 30 kilometer. Tantangan kemudian meningkat menjadi 50-60 kilometer, 80 kilometer hingga 100 kilometer.
Ia bahkan berhasil menyelesaikan lomba 100 kilometer sebanyak tiga kali.
Dari pengalaman tersebut muncul pertanyaan baru dalam dirinya: sejauh apa kemampuan fisik dan mentalnya dapat membawa langkah?
Jawaban atas pertanyaan itu kemudian mengarah ke Mont Blanc.
UTMB di Chamonix, Prancis, menjadi tantangan berikutnya. Ajang ultra trail 100 miles atau sekitar 175 kilometer tersebut merupakan salah satu perlombaan paling bergengsi dalam dunia ultra trail.
Bagi Ridho, UTMB bahkan memiliki makna khusus bagi para pelari trail.
“UTMB itu idaman semua pelari di dunia. Seperti ibadah naik haji-nya para pelari trail,” ujarnya.
Kesempatan tampil di UTMB tidak datang begitu saja. Ridho terlebih dahulu mengikuti dua lomba seri UTMB World Series, yakni Trail of the Kings Toba 100K dan Chiang Mai by UTMB 100K pada Oktober dan November 2025.
Dari dua perlombaan tersebut, ia mengumpulkan Running Stones yang kemudian digunakan untuk mengikuti sistem lottery.
Perjuangannya membuahkan hasil. Ridho akhirnya mendapatkan slot untuk tampil di UTMB.
Setelah mendapatkan kesempatan tersebut, ia masih harus memilih tantangan yang akan diikuti, antara CCC 100K atau UTMB 175K.
Setelah berdiskusi dengan teman dan keluarga, terutama sang istri, Ridho akhirnya memilih tantangan terbesar.
“Saya ingin mencoba sesuatu yang benar-benar baru dan menantang,” katanya.
Keputusan itu membuat persiapannya harus dilakukan dengan serius.
Ridho tidak hanya mengandalkan latihan lari dengan menambah jarak. Ia juga mengikuti sejumlah perlombaan untuk menguji kesiapan fisik dan mental.
Salah satunya adalah Jakim 2026 Full Marathon. Lomba tersebut menjadi marathon pertamanya dan berhasil ia selesaikan dalam waktu 3 jam 44 menit.
Ia kemudian mengikuti Rinjani 100K dan Mantra 116K.
Berbagai perlombaan tersebut menjadi bagian dari persiapan menuju UTMB.
Ridho menggunakannya untuk menguji kondisi fisik, mental, strategi nutrisi, perlengkapan atau gear, hingga pengaturan pace selama perlombaan jarak jauh.
“Persiapannya bukan hanya soal menambah kilometer, tetapi juga membangun mental, mencoba strategi nutrisi dan gear, serta belajar bagaimana tubuh merespons long-distance race,” tuturnya.
Ketika tidak sempat berlari pada pagi hari, Ridho berlatih pada malam hari setelah pulang kerja. Sementara akhir pekan dimanfaatkan untuk melakukan long run.
Hingga akhirnya, seluruh persiapan tersebut membawanya berdiri di garis start UTMB Chamonix.
Di hadapan Ridho terbentang perjalanan sekitar 175 kilometer melalui jalur pegunungan yang melintasi Prancis, Italia, dan Swiss.
Namun, perjalanan tersebut jauh dari mudah.
Sekitar kilometer 40, cedera lutut kembali terasa, terutama ketika ia melewati jalur menurun. Tantangan semakin berat ketika memasuki kilometer 83.
Setelah berlari sekitar 17 jam dengan elevasi mencapai 5.500 meter, tubuh Ridho mulai terkuras.
Ujian paling berat datang sekitar kilometer 155, setelah melewati Aid Station Vallorcine.
Kaki terasa sakit. Tenaga hampir habis. Namun, garis finis masih berjarak sekitar 20 kilometer.
Pada titik tersebut, pikiran untuk berhenti sempat muncul.
“Saya sempat merasa, sudah, mungkin cukup sampai di sini,” kenangnya.
Ridho kemudian menghubungi teman dan keluarga melalui pesan serta voice note.
Ia kembali mengingat seluruh latihan, perlombaan yang pernah dilewati, dukungan keluarga, dan proses panjang yang telah membawanya sampai ke Mont Blanc.
Di tengah kondisi tersebut, ia mencoba meyakinkan dirinya sendiri untuk terus bergerak.
“Coba lanjut satu langkah lagi,” katanya kepada dirinya sendiri.
Satu langkah kemudian menjadi dua. Dua langkah berlanjut menjadi langkah-langkah berikutnya.
Hingga akhirnya, Ridho berhasil menyelesaikan UTMB Mont-Blanc 175K.
Keberhasilan menyelesaikan UTMB menjadi pencapaian penting bagi Ridho. Ia disebut sebagai pelari asal Banyumas pertama yang berhasil menyelesaikan ajang tersebut.
Namun, bagi Ridho, pencapaian tersebut bukan hanya mengenai prestasi pribadi.
Ia merasa bangga karena dapat membawa nama Banyumas ke panggung ultra trail dunia. Baginya, keberhasilan tersebut juga menjadi bukti bahwa mimpi besar dapat tumbuh dari daerah.
“Saya merasa senang karena bisa membawa nama Banyumas dan menunjukkan bahwa dari daerah pun kita bisa punya mimpi yang besar,” ujarnya.
Pengalaman di Mont Blanc juga memperkenalkan Ridho pada apa yang dikenal sebagai pain cave, sebuah kondisi ketika tubuh mengalami kelelahan berat, kaki terasa sakit, energi menurun, dan keinginan untuk berhenti semakin kuat.
Dari pengalaman tersebut, ia belajar bahwa rasa sakit tidak selalu berarti tubuh sudah mencapai batas kemampuannya.
“Kadang itu hanya tanda bahwa kita sedang memasuki wilayah yang belum pernah kita alami sebelumnya,” katanya.
Meski demikian, Ridho menekankan pentingnya memahami kondisi tubuh.
Menurutnya, pelari harus mampu membedakan rasa lelah yang masih dapat ditoleransi dengan kondisi yang memang mengharuskan seseorang berhenti.
Perjalanan Ridho menuju UTMB Mont-Blanc menjadi gambaran perubahan besar dalam hidupnya.
Ia memulai semuanya dari tiga kilometer ketika berusaha mengubah pola hidup. Dari sana, jarak terus bertambah hingga akhirnya mampu menyelesaikan lomba ultra trail sejauh 175 kilometer di kawasan Mont Blanc.
Bagi Ridho, perjalanan tersebut mengajarkan banyak hal, mulai dari disiplin, konsistensi, persiapan, kesabaran hingga kekuatan mental.
Ia berharap pencapaiannya dapat menjadi pemantik bagi pelari lain di Banyumas untuk berani memiliki mimpi yang lebih besar.
Sebab, sesuatu yang luar biasa tidak selalu dimulai dengan langkah besar. Dalam perjalanan Ridho, semuanya justru bermula dari tiga kilometer sederhana.
“Jangan terlalu cepat mengatakan saya tidak bisa. Kadang kita memang belum tahu sejauh apa sebenarnya kita mampu berjalan,” pungkasnya. (*/stch/dda)
















