BANYUMASEKSPRES.ID, Kondisi bencana banjir dan longsor di Sumatera Utara (Sumut) memaksa pemerintah daerah untuk memperpanjang masa tanggap darurat hingga dua pekan ke depan, terhitung mulai tanggal 10 hingga 23 Desember 2025.
Sejumlah 18 kabupaten/kota yang terdampak bencana tersebut masih belum sepenuhnya aman dari ancaman yang ada.
Ketua Harian Posko Darurat Bencana Sumut, Basarin Yunus Tanjung, menegaskan bahwa perpanjangan ini diperlukan untuk menyempurnakan dan mempercepat tindakan tanggap darurat di wilayah-wilayah terdampak yang sangat membutuhkan perhatian serius.
“Kami merekomendasikan untuk memperpanjang status tanggap darurat bencana selama dua minggu ke depan,” ujar Basarin saat diwawancarai awak media usai mengikuti Rapat Evaluasi Penanganan Bencana pada Rabu (10/12).
“Hasil rapat evaluasi menunjukkan masih ada 18 kabupaten/kota yang melaporkan bahwa daerah mereka belum aman dari ancaman bencana ini,” tambahnya.
Beberapa wilayah yang disebutkan oleh Basarin memerlukan perhatian ekstra, termasuk Kabupaten Tapanuli Selatan (Tapsel).
Curah hujan tinggi yang terus mengguyur daerah seperti Desa Garoga menjadikan langkah tanggap darurat sebagai kebutuhan mendesak yang tidak bisa diabaikan.
“Daerah-daerah yang direkomendasikan untuk perpanjangan status Tanggap Darurat Bencana antara lain adalah Tapsel, Tapanuli Tengah (Tapteng), Sibolga, dan Langkat,” ungkap Basarin dengan nada prihatin.
Langkah strategis lainnya yang disusun dalam rapat evaluasi adalah persiapan logistik untuk mengantisipasi prakiraan cuaca ekstrem.
Basarin menegaskan pentingnya kesiapan distribusi logistik mulai dari posko di tingkat provinsi hingga kabupaten dalam menghadapi curah hujan tinggi yang diprediksi terjadi antara tanggal 8 hingga 15 Desember 2025.
“Kami mempersiapkan langkah distribusi logistik agar bisa berjalan lancar meskipun cuaca ekstrem melanda,” ujarnya.
Saat ini, prioritas utama dalam penanganan bencana adalah percepatan penanganan pengungsi serta pemulihan fasilitas di area terdampak banjir dan longsor.
“Pemulihan fasilitas yang belum normal menjadi fokus utama kami,” jelas Basarin.
Pentingnya pemulihan ini tidak hanya terbatas pada tempat tinggal warga tetapi juga mencakup pelayanan kesehatan dan pendidikan agar proses belajar-mengajar dapat kembali berjalan seperti semula.
Di tengah situasi sulit ini, masyarakat di daerah terdampak berusaha tetap bertahan.
Seperti terlihat di Desa Lubok Pusaka, Kecamatan Langkahan, Aceh Utara, warga terlihat mencari barang-barang berharga di reruntuhan rumah mereka yang hancur diterjang banjir bandang.
Gambar ini menggambarkan betapa dahsyatnya dampak bencana ini terhadap kehidupan sehari-hari mereka.
Sementara itu, pemerintah pusat dan daerah terus berkoordinasi untuk memastikan semua bantuan dapat tersalurkan dengan baik dan tepat sasaran.
Bantuan berupa makanan, obat-obatan, dan kebutuhan dasar lainnya menjadi prioritas dalam penyaluran logistik kali ini.
Dukungan dari berbagai pihak diharapkan dapat membantu meringankan beban para korban dan mempercepat proses pemulihan wilayah.
Kesadaran akan pentingnya mitigasi bencana juga semakin meningkat seiring dengan seringnya terjadi bencana alam belakangan ini.
Pemerintah daerah bersama masyarakat setempat terus berupaya melakukan langkah-langkah mitigasi untuk mengurangi risiko bencana di masa depan.
Edukasi mengenai penanggulangan bencana mulai digalakkan demi membangun kesiapsiagaan masyarakat menghadapi kondisi-kondisi darurat serupa.
Selain langkah-langkah tersebut, pemerintah juga mengajak seluruh elemen masyarakat untuk bersatu padu dalam menghadapi masa sulit ini. Solidaritas antarwarga menjadi kunci penting dalam usaha pemulihan pascabencana.
Dengan semangat gotong royong dan kebersamaan, diharapkan seluruh lapisan masyarakat dapat bangkit kembali dan membangun kehidupan mereka setelah musibah berlalu.
Keputusan perpanjangan status tanggap darurat oleh pemerintah Sumatera Utara menunjukkan betapa seriusnya situasi saat ini serta upaya maksimal yang dilakukan demi keselamatan warga dan pemulihan wilayah terdampak.
Meskipun tantangan masih banyak menghadang, harapan akan pulihnya kondisi tetap terjaga berkat kerja sama berbagai pihak dalam menangani bencana alam ini.
Melihat kondisi cuaca yang tidak menentu akhir-akhir ini, kewaspadaan harus tetap dijaga oleh seluruh masyarakat Sumatera Utara dan sekitarnya.
Kesigapan dalam menghadapi segala kemungkinan menjadi salah satu kunci agar dampak buruk bisa diminimalisir seefektif mungkin.
Dengan demikian, harapan akan situasi yang lebih baik dapat perlahan terwujud meskipun jalan menuju pemulihan masih panjang. (*/dda)
















