Banyumas Ekspres
Dark ModeLight Mode

Aktivitas Belanja Keperluan Lebaran di Purwokerto Meningkat Meski E-Commerce Semakin Populer

Online Tinggal Klik, Offline Tetap AsyikOnline Tinggal Klik, Offline Tetap Asyik
BELANJA LEBARAN: Warga memadati toko pakaian di kawasan pertokoan di kawasan pertokoan ruko eks-Kodim Purwokerto, Senin (16/3/2026). Mereka berburu kebutuhan Lebaran

BANYUMASEKSPRES.ID, PURWOKERTO – Menjelang Lebaran 2026, suasana keramaian di pusat perbelanjaan Purwokerto semakin terasa.

Meskipun belanja daring saat ini semakin mudah dengan sistem “tinggal klik”, banyak warga yang tetap memilih untuk datang langsung ke toko guna memenuhi kebutuhan Lebaran mereka.

Pantauan awak media di beberapa kawasan perdagangan seperti Jalan H.R. Bunyamin, Kebondalem, dan ruko eks Kodim menunjukkan bahwa toko pakaian, sepatu, dan hijab dipadati pengunjung pada sore hingga malam hari.

Kegiatan belanja ini tidak hanya sekedar untuk memenuhi kebutuhan Lebaran, tetapi juga menjadi momen bagi keluarga untuk bersantai dan berjalan-jalan bersama.

Windu Widodo, seorang warga Kebondalem berusia 35 tahun, mengungkapkan bahwa keramaian di Purwokerto mulai terasa selama bulan Ramadan.

“Ramai, tapi ramai bagaimana ya? Tidak seperti zaman sebelum pandemi. Dulu bisa ramai dari awal Ramadan sampai akhir,” ungkapnya.

Ia menilai bahwa dalam beberapa tahun terakhir, lonjakan pengunjung biasanya baru terasa pada pertengahan hingga menjelang akhir Ramadan.

“Beberapa tahun belakangan ini, sampai sekarang, ramai itu biasanya di pertengahan sampai akhir saja. Tidak tahu juga ya, mungkin banyak yang sudah belanja online,” ucapnya sambil merenung tentang perubahan kebiasaan masyarakat dalam berbelanja.

Meski tren belanja online semakin menguat dan menjadi pilihan bagi banyak orang, sebagian warga masih lebih suka berbelanja secara langsung di toko.

Lia, seorang ibu berusia 30 tahun dari Purbalingga, mengaku sengaja datang ke Purwokerto bersama keluarganya untuk memanfaatkan libur sekolah anak serta mencari kebutuhan Lebaran.

“Sengaja ke Purwokerto, jalan-jalan untuk buka bersama bareng keluarga. Sekalian cari sandal dan sepatu untuk anak,” jelasnya dengan semangat.

Menurut Lia, ia sudah membeli sebagian besar kebutuhan Lebaran melalui toko daring.

Namun untuk beberapa barang tertentu seperti alas kaki anak, ia memilih untuk berbelanja langsung agar bisa mendapatkan ukuran yang lebih sesuai.

“Baju baru sebagian sudah beli online. Niatnya mau beli online semua, tapi untuk sandal dan sepatu anak ukuran yang pas habis,” katanya menceritakan pengalamannya.

“Jadi sekalian cari di Purwokerto sambil jalan-jalan, karena sekolah juga sudah libur,” tambah Lia dengan senyuman.

Hal ini menunjukkan bagaimana momen Ramadan dan persiapan Lebaran tidak hanya berfungsi sebagai waktu untuk berbelanja, tetapi juga sebagai kesempatan untuk mempererat hubungan keluarga.

Di tengah meningkatnya aktivitas masyarakat dalam melakukan belanja menjelang Lebaran tersebut, Dinas Perhubungan Banyumas memastikan bahwa arus lalu lintas di kawasan pusat perdagangan masih terpantau lancar.

Kepala Seksi Rekayasa Lalu Lintas Dinas Perhubungan Banyumas, Oktavia Yulianto mengatakan bahwa pihaknya terus memantau kondisi lalu lintas di sejumlah titik keramaian yang ada di Purwokerto.

Dishub Banyumas juga melakukan upaya antisipasi terhadap potensi parkir liar di kawasan pertokoan dan pusat keramaian.

“Sabtu (14/3) kemarin pembinaan juru parkir di depan pertokoan Duta Mode,” katanya kepada awak media pada Senin (16/3).

Selain itu, Seksi Dalops Dishub Banyumas secara rutin melakukan patroli di sejumlah titik rawan parkir liar seperti Komplek Kebondalem, depan pertokoan Duta Mode serta kawasan barat Alun-alun Purwokerto.

Langkah-langkah tersebut dilakukan demi menjaga kelancaran arus lalu lintas dan memastikan bahwa aktivitas belanja masyarakat menjelang Lebaran dapat berlangsung dengan tertib dan aman.

Keberadaan pengawasan ini sangat penting mengingat tingginya volume pengunjung yang datang ke pusat perbelanjaan saat musim Lebaran.

Berdasarkan pengamatan lebih lanjut mengenai fenomena belanja menjelang Lebaran ini, tampak bahwa meskipun ada perubahan dalam pola perilaku konsumen akibat adanya pilihan belanja daring yang semakin praktis, ketertarikan masyarakat untuk datang langsung ke toko tetap tinggi.

Hal ini menunjukkan bahwa pengalaman berbelanja secara langsung masih dianggap memiliki nilai tersendiri oleh banyak orang.

Ada sebuah nuansa nostalgia ketika kita melihat keramaian pusat perbelanjaan menjelang Hari Raya Idul Fitri ini.

Warga tidak hanya sekadar mencari barang-barang kebutuhan tetapi juga merasakan atmosfer Ramadan yang penuh berkah dan kebersamaan.

Tradisi berkumpul bersama keluarga saat berbuka puasa atau saat memilih baju baru sebelum lebaran telah menjadi bagian penting dari budaya lokal.

Dalam konteks ekonomi lokal, fenomena tersebut memberikan dampak positif bagi pedagang kecil maupun besar yang mengandalkan momen-momen spesial seperti ini untuk meningkatkan penjualan mereka.

Keberadaan berbagai jenis barang mulai dari pakaian hingga aksesori membuat para pengunjung memiliki banyak pilihan saat belanja.

Penjual pun berlomba-lomba menawarkan berbagai promo menarik demi menarik perhatian konsumen agar memilih produk mereka.

Namun demikian, perlu dicatat pula bahwa tantangan bagi para pelaku usaha harus tetap diperhatikan terutama dengan adanya kemungkinan lonjakan jumlah pengunjung yang bisa menyebabkan kepadatan luar biasa pada area-area tertentu jika tidak dikelola dengan baik oleh pihak terkait.

Dengan meningkatnya kesadaran akan pentingnya protokol kesehatan pasca-pandemi COVID-19, para pelaku usaha juga mulai menerapkan berbagai langkah pencegahan agar tetap bisa melayani pelanggan dengan aman tanpa mengurangi kenyamanan mereka saat berbelanja.

Protokol kesehatan seperti penggunaan masker dan penyediaan hand sanitizer di area publik menjadi hal yang lumrah ditemukan pada masa sekarang ini.

Melihat dinamika yang terjadi dalam masyarakat menjelang Lebaran 2026 ini memberi gambaran jelas tentang bagaimana kebiasaan belanja dapat berubah seiring waktu namun tetap mempertahankan nilai-nilai tradisional yang telah ada sejak lama.

Dengan demikian kita bisa melihat bahwa meskipun teknologi telah memudahkan banyak aspek dalam hidup kita termasuk dalam hal berbelanja, interaksi sosial dan pengalaman nyata ternyata masih menjadi daya tarik yang sulit tergantikan oleh platform daring semata.

Kegiatan belanja menjelang Lebaran bukan sekadar transaksi ekonomi tetapi merupakan ritual sosial yang mengikat komunitas satu sama lain dalam kebersamaan serta keseruan menyambut hari raya penuh makna ini.

Dengan harapan besar dapat menyambut Hari Raya Idul Fitri tahun ini dengan penuh sukacita dan keceriaan serta semangat kebersamaan bersama keluarga tercinta di rumah atau saat berkunjung ke tempat-tempat favorit kita saat belanja kebutuhan lebaran ataupun sekadar berjalan-jalan menikmati suasana Ramadan yang sakral sebelum menyambut hari kemenangan nanti. (dms/yda/bay/dda)

Berita Sebelumnya
Ditemukan Teri dan Cumi Kering Mengandung Formalin

Sidak di Pasar Klampok Banjarnegara, BBPOM Temukan Teri dan Cumi Mengandung Formalin

Berita Selanjutnya
12 Bus Mudik Gratis Disiapkan

Mudik Gratis Banyumas 2026: 12 Armada Bus Siap Angkut Ratusan Perantau