Banyumas Ekspres
Dark ModeLight Mode
Guru Sekolah Bisa Raih Gelar S2 dalam 18 Bulan, Ini Detail Programnya
Arti Kemerdekaan bagi Mereka di HUT RI ke-81: Dari Kebebasan Berpendapat hingga Upah yang Layak

Arti Kemerdekaan bagi Mereka di HUT RI ke-81: Dari Kebebasan Berpendapat hingga Upah yang Layak

Kemerdekaan di Mata MerekaKemerdekaan di Mata Mereka

BANYUMASEKSPRES.ID, PURWOKERTO – Peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia menjadi momentum untuk kembali mempertanyakan makna kemerdekaan dalam kehidupan masyarakat saat ini.

Setelah 81 tahun Indonesia merdeka dari penjajahan, persoalan yang dihadapi masyarakat kini tidak lagi berupa ancaman penjajahan fisik, tetapi juga tekanan ekonomi, kesenjangan sosial, keterbatasan pekerjaan, hingga ketidakpastian kesejahteraan.

Istilah in this economy yang belakangan ramai digunakan di media sosial seolah menggambarkan kondisi tersebut.

Bagi sebagian masyarakat, kemerdekaan tidak cukup hanya dimaknai sebagai bebas dari penjajahan.

Kemerdekaan juga berarti memiliki kesempatan untuk bekerja, memperoleh penghasilan yang layak, mengembangkan usaha, menyampaikan pendapat, serta menjalani kehidupan dengan lebih sejahtera.

Pandangan tersebut muncul dalam berbagai refleksi masyarakat di wilayah Banyumas, Purbalingga, dan Banjarnegara dalam momentum HUT ke-81 Kemerdekaan RI, Senin (17/8/2026).

Kemerdekaan dan Kemandirian Ekonomi

Bupati Banyumas Sadewo Tri Lastiono yang memimpin Upacara Kemerdekaan RI di Alun-Alun Purwokerto mengajak masyarakat memperkuat persatuan dan gotong royong dalam menghadapi berbagai tantangan pembangunan.

Menurutnya, peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan RI tidak seharusnya hanya menjadi kegiatan seremonial.

Momentum tersebut harus menjadi kesempatan untuk memperkuat kemandirian bangsa sekaligus memastikan pembangunan dapat dirasakan secara adil oleh seluruh masyarakat.

Tema “Indonesia Berdaulat, Adil, dan Makmur” menjadi pengingat bahwa kemerdekaan juga berkaitan dengan kemampuan bangsa menghadapi ketidakpastian ekonomi global.

Sadewo menekankan pentingnya menjaga kemandirian Indonesia di berbagai sektor, mulai dari ekonomi, pangan, energi hingga teknologi.

“Sudah banyak tantangan yang kita lalui bersama. Namun, semua itu tidak pernah sedikit pun merapuhkan semangat kita,” ujarnya.

Veteran: Kemerdekaan Diraih dengan Perjuangan

Bagi para veteran, makna kemerdekaan memiliki akar sejarah yang sangat kuat. Rakiswo, veteran berusia 61 tahun, memandang kemerdekaan secara sederhana.

“Merdeka ya merdeka,” katanya.

Menurutnya, kehidupan yang dinikmati masyarakat saat ini merupakan hasil perjuangan para pendahulu. Tanpa kemerdekaan, generasi sekarang tidak akan memiliki kesempatan untuk menjalani kehidupan seperti saat ini.

Namun, perjuangan tidak berhenti setelah Indonesia bebas dari penjajahan. Generasi penerus memiliki tanggung jawab untuk mengisi kemerdekaan dengan hal-hal positif.

Ia mencontohkan, generasi muda harus memiliki cita-cita dan bekerja keras untuk mewujudkannya, termasuk menghormati orang tua dan guru.

Pandangan serupa disampaikan veteran lainnya, Tiswan. Menurut dia, kemerdekaan Indonesia bukanlah hadiah, melainkan hasil perjuangan yang mengorbankan jiwa dan raga.

Generasi Muda Memaknai Kemerdekaan sebagai Kebebasan

Bagi generasi muda, makna kemerdekaan mulai bergeser sesuai dengan tantangan zaman.

Sukmo (20), mahasiswa Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) asal Bogor, Jawa Barat, memaknai kemerdekaan sebagai kebebasan berpendapat.

Menurutnya, masyarakat harus memiliki ruang untuk menyampaikan gagasan dan pandangan tanpa merasa terbelenggu.

Sementara itu, Calista (19), mahasiswi asal Kecamatan Bukateja, menilai Indonesia memang telah merdeka secara kedaulatan sejak 17 Agustus 1945. Namun, persoalan lain masih dihadapi masyarakat.

Ia menyoroti ketimpangan ekonomi dan kesenjangan sosial antara kelompok masyarakat kaya dan masyarakat kecil.

Pandangan tersebut menunjukkan bahwa bagi generasi muda, kemerdekaan tidak hanya berkaitan dengan sejarah, tetapi juga kesempatan menentukan masa depan.

Pekerja Ingin Bebas dari Tekanan Ekonomi

Bagi kelompok pekerja, persoalan ekonomi menjadi salah satu ukuran penting dalam memaknai kemerdekaan.

Fentiana (24), buruh pabrik rokok asal Padamara, Purbalingga, mengaku belum sepenuhnya merasakan kemerdekaan dalam kehidupan sehari-hari.

Ia menggambarkan tekanan pekerjaan dan target produksi sebagai salah satu persoalan yang membuat pekerja sulit menikmati waktu untuk dirinya sendiri.

“Kita memang bebas dari penjajah, tapi sekarang rasanya ‘dijajah’ sama target pabrik,” ungkapnya.

Menurut Fentiana, kemerdekaan juga berarti memperoleh upah yang layak dan sebanding dengan kenaikan harga kebutuhan pokok. Ia berharap kesejahteraan pekerja menjadi perhatian dalam pembangunan ekonomi.

Guru Honorer Masih Menanti Kepastian

Makna kemerdekaan juga dirasakan berbeda oleh tenaga pendidik.

Mutia Afifatur Rahmah (29), guru honorer asal Kedungjati, menilai kemerdekaan bukan sekadar upacara atau perayaan setiap 17 Agustus. Baginya, kemerdekaan juga berarti terbebas dari kecemasan finansial.

Ia berharap tenaga pendidik memperoleh kepastian status pekerjaan melalui pengangkatan resmi sebagai PPPK, mendapatkan penghasilan yang layak, serta memperoleh jaminan kesehatan.

Khikmah Mijil Pawestri (26), pendidik asal Majasari, juga berharap guru yang memiliki kualifikasi mendapatkan hak, peluang, dan jaminan keamanan kerja yang lebih baik.

Menurutnya, guru memiliki tanggung jawab besar karena berhadapan langsung dengan generasi penerus bangsa.

UMKM Ingin Kesempatan Berkembang

Pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) juga memiliki perspektif tersendiri mengenai kemerdekaan ekonomi.

Ferdi Albahar (26), pengrajin souvenir asal Kutasari, memandang kemerdekaan sebagai kesempatan untuk mengembangkan usaha tanpa terlalu banyak hambatan.

Menurutnya, pelaku UMKM masih menghadapi berbagai tantangan, seperti keterbatasan modal dan akses pasar.

Karena itu, ia berharap pemerintah memberikan dukungan berupa akses modal yang lebih mudah, pelatihan, serta kebijakan yang mendukung usaha kecil.

Sementara itu, Esa, pelaku UMKM asal Masaran, Kecamatan Bawang, Banjarnegara, mengartikan kemerdekaan sebagai kebebasan untuk berkarya sekaligus menciptakan peluang bagi diri sendiri dan orang lain.

Ia bersyukur usaha Coco House yang dijalankannya telah berkembang. Namun, ia menyadari masih banyak potensi yang perlu dikembangkan.

Esa berharap semakin banyak UMKM memperoleh bantuan agar dapat naik kelas, memperluas pasar, dan membuka lapangan pekerjaan.

Pengemudi Ojek Daring: Kemerdekaan Juga Soal Perhatian Pemerintah

Perspektif lain datang dari pengemudi ojek daring.

Kiki (30), pengemudi ojek daring asal Karangmangu, Baturraden, memaknai kemerdekaan sebagai kebanggaan sekaligus motivasi untuk terus bekerja dan tidak mudah menyerah.

Sementara Yuda (47), pengemudi ojek daring asal Karangklesem, Purwokerto, melihat kemerdekaan dari hubungan antara pemerintah dan masyarakat.

Baginya, perhatian pemerintah melalui kebijakan yang memberikan dampak positif terhadap kehidupan masyarakat merupakan salah satu bentuk kemerdekaan yang bisa dirasakan secara langsung.

Kemerdekaan Bukan Sekadar Upacara

Berbagai pandangan tersebut menunjukkan bahwa makna kemerdekaan Indonesia terus berkembang mengikuti tantangan zaman.

Bagi veteran, kemerdekaan merupakan hasil perjuangan jiwa dan raga untuk membebaskan Indonesia dari penjajahan.

Bagi generasi muda, kemerdekaan berarti kebebasan menyampaikan pendapat dan kesempatan menentukan masa depan.

Sementara bagi pekerja, guru, pengemudi ojek daring, dan pelaku UMKM, kemerdekaan juga berkaitan erat dengan kesejahteraan ekonomi, pekerjaan layak, kepastian penghasilan, akses usaha, dan kesempatan untuk berkembang.

Karena itu, 81 tahun setelah Proklamasi Kemerdekaan Indonesia, pertanyaan mengenai arti “merdeka” masih relevan untuk dibicarakan.

Di tengah tekanan ekonomi dan ketidakpastian kehidupan, kemerdekaan bagi sebagian masyarakat mungkin memiliki makna yang sederhana: memiliki pekerjaan yang layak, mendapatkan penghasilan yang cukup, dapat mengembangkan usaha, memperoleh pendidikan yang baik, bebas menyampaikan pendapat, serta memiliki kesempatan untuk hidup lebih sejahtera.

Kemerdekaan pada akhirnya bukan hanya tentang mengenang perjuangan masa lalu, tetapi juga tentang memastikan setiap warga memiliki kesempatan untuk membangun kehidupan yang lebih baik di masa depan. (dda/stch)

Berita Sebelumnya
Beasiswa BPI

Guru Sekolah Bisa Raih Gelar S2 dalam 18 Bulan, Ini Detail Programnya