BANYUMASEKSPRES.ID, BANYUMAS – Tidak semua orang mengenali dunia melalui apa yang dilihat mata.
Bagi Dzakira Aftani, suara menjadi cara untuk mengenali, memahami, sekaligus mengekspresikan kehidupan.
Dari kegemarannya bernyanyi sejak kecil, siswa SLB ABCD Kuncup Mas Banyumas itu berhasil mengukir prestasi hingga tingkat nasional.
Dara asal Desa Notog, Kecamatan Patikraja, Banyumas, tersebut baru saja meraih juara pertama lomba menyanyi solo SDLB tingkat nasional dalam Festival Lomba Seni dan Sastra Siswa Nasional (FLS3N) 2026.
Prestasi tersebut diraih pada Jumat, 17 Juli 2026. Saat mengikuti perlombaan, Dzakira atau yang akrab disapa Ira masih duduk di kelas VI SLB ABCD Kuncup Mas Banyumas.
Ajang FLS3N 2026 sekaligus menjadi kesempatan terakhir bagi Ira untuk mengikuti kompetisi pada jenjang sekolah dasar.
Karena itu, kemenangan tersebut terasa semakin istimewa bagi dirinya, keluarga, serta guru yang selama ini mendampinginya.
Target Tiga Besar, Justru Jadi Juara Nasional
Sebelum mengikuti kompetisi tingkat nasional, Ira dan gurunya tidak memasang target terlalu tinggi. Mereka hanya berharap bisa masuk tiga besar.
Namun, hasil yang diraih ternyata jauh melampaui target tersebut. Ira berhasil menjadi juara pertama dan membawa pulang penghargaan dari ajang FLS3N 2026.
“Kami mempunyai mimpi masuk tiga besar di tingkat nasional FLS3N. Tidak menyangka hasilnya melebihi angan, memperoleh juara satu,” ujar Ira bersama Guru SLB ABCD Kuncup Mas Banyumas, Tri Ambar.
Bagi Ira, piala tersebut bukan sekadar penghargaan. Di baliknya terdapat proses latihan panjang, keberanian tampil, serta kemauan untuk terus belajar.
Bernyanyi menjadi ruang bagi Ira untuk menunjukkan kemampuannya. Aktivitas tersebut juga membantunya membangun rasa percaya diri ketika harus tampil di depan banyak orang.
“Percaya diri, bismillah. Dari kecil Ira suka menyanyi,” katanya.
Kecintaan Ira terhadap dunia musik sudah terlihat sejak masih kecil. Kedua orang tuanya melihat adanya bakat tersebut dan kemudian memberikan dukungan dengan memasukkannya ke studio musik.
Sejak saat itu, kemampuan vokalnya terus diasah. Ira tidak hanya bernyanyi untuk kesenangan, tetapi juga mulai mengikuti berbagai perlombaan.
Dari satu panggung ke panggung lainnya, Ira mendapatkan pengalaman menghadapi suasana kompetisi.
Ia juga bertemu dengan peserta lain yang memiliki karakter suara dan kemampuan berbeda.
Pengalaman tersebut kemudian menjadi bekal ketika Ira tampil dalam FLS3N tingkat nasional.
Ia sudah terbiasa menghadapi suasana perlombaan dan memahami pentingnya persiapan sebelum tampil.
Menurut Ira, menjadi penyanyi tidak cukup hanya dengan mampu mencapai nada tertentu. Ada berbagai teknik yang harus terus dipelajari agar penampilan bisa semakin matang.
“Masih terus banyak belajar teknik vokal, cengkok, vibra, dinamika, ekspresi, gerak,” sambungnya.
Keterbatasan penglihatan yang dimiliki Ira tidak membuatnya berhenti belajar. Ia memiliki cara sendiri untuk mengenali lingkungan dan mempersiapkan diri sebelum tampil.
Pendengaran, ingatan, serta latihan menjadi bagian penting dalam proses tersebut.
Ira membangun rasa percaya dirinya melalui berbagai pengalaman di atas panggung.
Baginya, suara bukan hanya bagian dari aktivitas bernyanyi. Suara menjadi salah satu cara untuk mengekspresikan dirinya dan berkomunikasi dengan orang lain.
Di atas panggung, Ira membuktikan bahwa keterbatasan fisik tidak otomatis menjadi penghalang untuk berkarya dan berprestasi.
Kemenangan di FLS3N 2026 juga menunjukkan hasil dari dukungan keluarga dan sekolah.
Proses latihan yang dilakukan secara berkelanjutan membantu Ira mengembangkan kemampuan vokalnya sekaligus mempersiapkan mental menghadapi kompetisi.
Setelah menyelesaikan pendidikan sekolah dasar, perjalanan Ira belum berhenti. Ia kini melanjutkan pendidikan ke kelas VII SMP SLB ABCD Kuncup Mas Banyumas.
Prestasi sebagai juara nasional FLS3N menjadi bekal berharga untuk menghadapi jenjang pendidikan berikutnya. Namun, Ira tidak ingin pencapaiannya berhenti hanya sebagai sebuah piala.
Ia memiliki cita-cita menjadi guru vokal. Keinginan tersebut muncul karena Ira ingin membagikan ilmu dan pengalaman yang telah diperolehnya kepada orang lain.
“Menjadi guru vokal nanti bisa berbagi ilmu dan melatih,” tandasnya.
Cita-cita tersebut menjadi langkah lanjutan dari perjalanan Ira di dunia musik.
Dari kegemaran bernyanyi sejak kecil, latihan di studio musik, mengikuti berbagai perlombaan, hingga akhirnya menjadi juara pertama FLS3N tingkat nasional.
Kisah Dzakira Aftani menjadi gambaran bahwa setiap orang memiliki cara masing-masing dalam menemukan kekuatan.
Bagi Ira, dunia mungkin tidak dikenali melalui pandangan mata, tetapi suara telah menjadi jalan untuk memahami sekaligus mengekspresikan kehidupannya.
Dari ruang latihan hingga panggung nasional, suara Ira menjadi bukti bahwa keterbatasan tidak harus menghentikan langkah seseorang untuk berprestasi.
Kini, piala juara nasional itu menjadi bagian dari perjalanan panjangnya menuju cita-cita sebagai guru vokal. (fij/stch/dda)
















