BANYUMASEKSPRES.ID, BANYUMAS – Menyusuri Riwayat Pasar Koplak di Desa Karangpetir, Banyumas, menjadikan kita tak hanya mengenal istilah ‘koplak’ yang sering dikaitkan dengan sesuatu yang lucu atau menghibur.
Di desa ini, Kecamatan Tambak, kata tersebut menyimpan makna mendalam yang terjalin dengan sejarah ekonomi masyarakat, bahkan sebelum Indonesia meraih kemerdekaannya.
Pasar Koplak bukan sekadar tempat jual beli bagi penduduk setempat, tetapi juga merupakan ruang pertemuan yang menyatukan masyarakat dalam berbagai kegiatan.
Meskipun teknologi telah mengubah cara orang berbelanja, pasar ini masih menjaga fungsinya sebagai lokasi penting dalam kehidupan sehari-hari.
Pedagang di Pasar Koplak tetap setia membuka lapak mereka, sementara masyarakat terus menjadikan pasar ini sebagai area interaksi sosial yang sulit tergantikan oleh kemajuan teknologi.
Menurut Kepala Desa Karangpetir, Djaka Soeprijatno, nama Pasar Koplak memiliki akar sejarah yang kaya dan diwariskan dari generasi ke generasi.
Kisah ini bermula dari cerita sang kakek, H.M. Djadjuli, yang menjabat sebagai Penatus Desa Karangpetir selama 33 tahun antara tahun 1946 hingga 1979.
“Dari cerita mbah saya, sebelum Indonesia merdeka itu ada lokasi yang digunakan sebagai pusat perekonomian, aktivitas perdagangan masyarakat,” ungkap Djaka.
Pada masa lalu, masyarakat dari berbagai wilayah datang ke pasar membawa hasil bumi untuk diperdagangkan.
Pasar menjadi tempat bertemunya petani dan pedagang yang saling memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari.
Dalam konteks tersebut, transportasi utama pada waktu itu masih mengandalkan dokar atau kereta kuda.
Di sekitar pusat perdagangan terdapat lokasi khusus tempat para kusir menunggu penumpang.
“Di lokasi itu ada pangkalan atau andongan dokar untuk menunggu penumpang yang disebut koplak,” jelas Djaka.
Seiring berjalannya waktu dan perkembangan teknologi transportasi, peran dokar perlahan-lahan tergantikan oleh kendaraan bermotor.
Namun demikian, nama “koplak” tetap bertahan sebagai identitas kawasan pasar yang hingga kini masih dikenal oleh masyarakat luas.
Bagi warga Karangpetir, nama tersebut lebih dari sekadar penanda lokasi; ia merupakan bagian tak terpisahkan dari sejarah desa mereka yang terus diwariskan kepada generasi berikutnya.
Pemerintah desa berusaha mempertahankan warisan sejarah tersebut dengan mengalokasikan anggaran untuk rehabilitasi Pasar Koplak.
“Sekarang bangunannya sudah lebih representatif,” ujar Djaka dengan bangga.
Lokasi geografis Pasar Koplak pun cukup strategis; terletak di tepi jalan raya yang menghubungkan berbagai wilayah di Banyumas bagian selatan.
Dari arah timur menuju barat, pasar ini berada tidak jauh dari simpang jalur lingkar utara Sumpiuh-Tambak serta underpass rel kereta api.
Meskipun tidak sebesar pasar modern lainnya, keberadaan Pasar Koplak memiliki peran signifikan dalam perekonomian lokal.
Di dalamnya dijual berbagai kebutuhan rumah tangga, mulai dari bahan pokok hingga barang-barang kebutuhan harian lainnya.
Selain itu, terdapat kios permanen yang menambah aktivitas ekonomi masyarakat setempat.
Malam hari di sekitar kawasan Pasar Koplak pun tetap hidup dengan aktivitas masyarakat yang berkumpul menikmati kopi sambil bercengkerama.
Keberadaan Pasar Koplak semakin terasa istimewa saat bulan Ramadan tiba.
Suasana pasar menjadi lebih semarak dengan munculnya deretan pedagang takjil yang menawarkan beragam hidangan berbuka puasa bagi warga sekitar.
“Pasar Koplak di malam hari masih ramai, ada yang jual kopi di sana,” kata Djaka menambahkan informasi mengenai dinamika pasar saat bulan suci tersebut.
Djaka juga menyebutkan bahwa di Desa Karangpetir terdapat satu lagi pasar desa sebagai pusat perekonomian masyarakat yaitu Pasar Gandeng.
Dengan keberadaan dua pasar ini, kehidupan sosial dan ekonomi warga Karangpetir semakin berwarna dan beragam. (fij/stch/dda)














