Banyumas Ekspres
Dark ModeLight Mode

BMKG Prediksi Musim Kemarau Cilacap Mulai Mei 2026, Masyarakat Diminta Waspada Kekeringan

Musim Kemarau Diprediksi Mulai MeiMusim Kemarau Diprediksi Mulai Mei
TUNJUKKAN : Teguh Wardoyo tunjukkan prakiraan cuaca untuk wilayah Cilacap

BANYUMASEKSPRES.ID, CILACAP – Musim kemarau di Kabupaten Cilacap diperkirakan akan dimulai pada Mei 2026, dan masyarakat setempat diimbau untuk mewaspadai potensi kekeringan, terutama di daerah-daerah yang selama ini dikenal rawan mengalami kekurangan air.

Ketua Tim Kerja Pelayanan Data dan Diseminasi Informasi BMKG Stasiun Meteorologi Tunggul Wulung, Teguh Wardoyo, menyampaikan bahwa awal musim kemarau di wilayah Cilacap diprediksi akan terjadi pada dasarian kedua bulan Mei.

Ia menjelaskan, “Untuk wilayah pesisir tenggara seperti Binangun dan Nusawungu, diperkirakan lebih awal, yakni pada dasarian pertama Mei,” kata Teguh dalam sebuah konferensi pers yang berlangsung pada Senin (16/3).

Durasi musim kemarau tahun ini diperkirakan akan berlangsung antara 14 hingga 18 dasarian, atau sekitar 140 hingga 180 hari.

Menurut prediksi yang ada, puncak musim kemarau akan terjadi pada bulan Agustus 2026.

Hal ini menjadi perhatian penting bagi masyarakat dan pemerintah daerah, karena musim kemarau yang akan datang diprakirakan berada di bawah kondisi normal.

Teguh menegaskan bahwa curah hujan selama periode ini diprediksi lebih rendah dibandingkan dengan rata-rata kondisi normal.

“Sifat musim kemarau tahun ini di bawah normal, sehingga kemungkinan kondisi kemarau akan lebih kering dari biasanya,” ujarnya.

Sebagai langkah antisipasi, Teguh mengingatkan agar masyarakat serta pemerintah daerah mulai mengambil tindakan sejak dini untuk meminimalisir dampak yang ditimbulkan selama musim kemarau.

Ia juga menambahkan bahwa sebelum memasuki fase musim kemarau, wilayah Cilacap dan sekitarnya akan mengalami masa peralihan atau pancaroba yang diperkirakan terjadi antara April hingga Mei 2026.

“Pada periode tersebut, masyarakat diminta untuk tetap waspada terhadap potensi cuaca ekstrem, termasuk hujan lebat disertai petir dan angin kencang, angin puting beliung, serta kondisi cuaca panas,” jelasnya.

Masyarakat diharapkan untuk mempersiapkan diri menghadapi segala kemungkinan yang bisa terjadi akibat perubahan iklim dan cuaca ekstrim.

Hal ini menjadi semakin penting mengingat sejumlah daerah di Cilacap telah mengalami masalah serius terkait kekeringan dalam beberapa tahun terakhir.

Menyikapi prediksi tersebut, berbagai upaya mitigasi perlu dilakukan oleh masyarakat maupun pemerintah setempat agar dampak dari kekeringan dapat diminimalisir.

Tindakan pencegahan seperti penyimpanan air hujan dan penggunaan teknologi irigasi yang lebih efisien bisa menjadi solusi untuk menghadapi kekeringan yang mungkin terjadi.

Selain itu, edukasi kepada masyarakat mengenai pengelolaan sumber daya air menjadi sangat vital dalam upaya menjaga ketersediaan air bersih ketika musim kemarau tiba.

Cuaca ekstrem tidak hanya berdampak pada ketersediaan air tetapi juga dapat mengancam keberlangsungan pertanian lokal dan ketahanan pangan.

Oleh karena itu, penting bagi petani untuk melakukan penyesuaian terhadap pola tanam mereka sesuai dengan prediksi cuaca agar hasil panen tetap optimal meskipun dalam situasi kekurangan air.

Penanaman varietas tanaman yang tahan terhadap kekeringan bisa menjadi salah satu alternatif yang bisa diterapkan oleh para petani.

Pemerintah juga memiliki peranan penting dalam memberikan dukungan kepada masyarakat dengan menyediakan infrastruktur pendukung seperti sumur bor atau sumber air alternatif lainnya sebagai langkah mitigasi jangka panjang.

Dengan kolaborasi antara pemerintah dan masyarakat dalam menghadapi tantangan iklim yang semakin tidak menentu ini, diharapkan dampak negatif dari musim kemarau dapat ditekan secara signifikan. (jul/stch/dda)

Berita Sebelumnya
Mudik

Ganjil Genap Mudik Lebaran 2026, Ini Aturan Rute dan Jadwal

Berita Selanjutnya
Aktivitas guru di kelas

97.122 Guru Lulus Sertifikasi 2026, Berapa Tunjangan Profesi yang Diterima?