Banyumas Ekspres
Dark ModeLight Mode
DPRD Banyumas Desak Transparansi Data Pegawai Jelang Penyusunan APBD 2027
Kelas Industri SMKN 1 Bawang Gandeng Alfamart hingga Yamaha, Siapkan Siswa Hadapi Dunia Kerja

Kelas Industri SMKN 1 Bawang Gandeng Alfamart hingga Yamaha, Siapkan Siswa Hadapi Dunia Kerja

Siswa Rasakan Dunia Kerja Lewat Kelas IndustriSiswa Rasakan Dunia Kerja Lewat Kelas Industri
SAMPAIKAN MATERI: Launching kelas industri yang diglar di SMKN 1 Bawang Banjarnegara

BANYUMASEKSPRES.ID, BANJARNEGARA – Siswa Jurusan Pemasaran SMK Negeri 1 Bawang Banjarnegara kini tidak hanya mempelajari teori pemasaran melalui buku teks.

Mereka mulai mendapatkan pengalaman pembelajaran yang lebih dekat dengan kondisi dunia kerja melalui program Kelas Industri.

Program tersebut diluncurkan di Aula SMKN 1 Bawang pada Selasa (1/9/2026).

Kelas Industri menjadi bagian dari upaya sekolah untuk memperkuat kompetensi siswa sekaligus menyesuaikan materi pembelajaran dengan kebutuhan dunia usaha dan dunia industri yang terus berkembang.

Program ini melibatkan sejumlah perusahaan dan pelaku usaha sebagai mitra sekolah.

Melalui kerja sama tersebut, siswa diharapkan dapat memahami bagaimana proses kerja yang sebenarnya berlangsung di perusahaan, khususnya pada bidang ritel, pemasaran, dan bisnis digital.

Plt Kepala SMKN 1 Bawang, Khairul Sholih Retno Broto, mengatakan Kelas Industri dirancang agar pembelajaran siswa sedekat mungkin dengan kondisi perusahaan.

Dengan konsep tersebut, berbagai aktivitas yang ditemui siswa di lingkungan kerja dapat diperkenalkan sejak masih berada di bangku sekolah.

Siswa tidak hanya mendapatkan teori, tetapi juga memperoleh kesempatan untuk mempraktikkan pengetahuan tersebut dalam situasi yang menyerupai dunia usaha.

“Dengan adanya kelas industri, anak-anak bisa praktik dalam keseharian secara nyata sebagaimana di perusahaan. Segala hal yang ada di dunia usaha dan dunia industri diminiaturkan di sini,” ujarnya, Selasa (1/9/2026).

Menurutnya, pendekatan pembelajaran seperti ini penting bagi pendidikan vokasi.

Sebab, lulusan SMK nantinya dituntut memiliki keterampilan yang sesuai dengan kebutuhan industri.

SMKN 1 Bawang sendiri telah menjalin kerja sama dengan puluhan mitra industri.

Khusus untuk Jurusan Pemasaran, sekolah memperkuat kemitraan dengan sejumlah perusahaan dan pelaku usaha yang dinilai relevan dengan kompetensi siswa.

Kepala Program Studi Pemasaran SMKN 1 Bawang, Niniek Mardianti, menjelaskan Jurusan Pemasaran memiliki dua konsentrasi keahlian utama.

Kedua konsentrasi tersebut adalah ritel dan bisnis digital. Masing-masing konsentrasi mendapatkan dukungan dari mitra industri yang disesuaikan dengan bidang pembelajaran.

“Untuk konsentrasi ritel, kelas industrinya bekerja sama dengan Alfamart. Sedangkan untuk konsentrasi digital, kami bermitra dengan CKS dan Yamaha,” katanya.

Kerja sama tersebut diharapkan memberikan gambaran yang lebih nyata mengenai aktivitas pemasaran kepada para siswa.

Dalam pembelajaran berbasis industri, siswa akan dikenalkan dengan berbagai aspek yang berkaitan dengan dunia usaha.

Mulai dari standar operasional, pelayanan konsumen, pola kerja, hingga strategi pemasaran yang diterapkan perusahaan.

Dengan demikian, siswa diharapkan tidak hanya memahami bagaimana sebuah produk dipasarkan secara teori, tetapi juga mengetahui bagaimana proses pemasaran dilakukan dalam praktik.

Perkembangan teknologi turut mengubah cara pelaku usaha memasarkan produk.

Karena itu, kemampuan pemasaran digital menjadi salah satu kompetensi yang penting bagi siswa Jurusan Pemasaran.

Melalui Kelas Industri, siswa SMKN 1 Bawang juga mendapatkan wawasan mengenai pemanfaatan berbagai platform digital untuk mendukung kegiatan bisnis.

Media sosial seperti Instagram dan TikTok tidak lagi hanya digunakan sebagai sarana komunikasi dan hiburan.

Bagi pelaku usaha, kedua platform tersebut dapat dimanfaatkan untuk mempromosikan produk, membangun merek, menjangkau konsumen, serta meningkatkan penjualan.

Pemahaman mengenai pemasaran digital diharapkan membuat siswa lebih siap menghadapi perubahan pola bisnis yang semakin mengandalkan teknologi.

Kompetensi tersebut juga membuka peluang bagi lulusan SMK untuk tidak hanya bekerja di perusahaan, tetapi juga mengembangkan usaha secara mandiri.

Kepala Dinas Perindagkop UKM Banjarnegara, Adi Cahyono, menilai pendekatan pembelajaran berbasis industri penting untuk meningkatkan relevansi pendidikan SMK.

Menurutnya, kompetensi lulusan sekolah kejuruan harus memiliki keterkaitan langsung dengan kebutuhan dunia usaha.

Dengan adanya Kelas Industri, siswa dapat melihat bagaimana ilmu yang dipelajari di sekolah diterapkan dalam kondisi nyata.

“Ini kegiatan yang langsung bersinggungan dengan usaha, di mana para siswa dapat mempraktikkan ilmu sekolah yang dipertemukan dengan realita lapangan,” katanya.

Menurut Adi, keterlibatan pelaku usaha dalam proses pembelajaran juga memberikan manfaat lain.

Siswa dapat memperoleh gambaran langsung mengenai tantangan yang dihadapi pelaku usaha ketika menjalankan bisnis.

Selain perusahaan besar, Kelas Industri di SMKN 1 Bawang juga melibatkan Koperasi CKS yang memiliki anggota dari kalangan pelaku UMKM.

Keterlibatan pelaku UMKM dinilai dapat memperkaya pengalaman siswa. Jika perusahaan besar memberikan gambaran mengenai sistem kerja industri yang lebih terstruktur, pelaku UMKM dapat memperlihatkan bagaimana usaha skala kecil menjalankan kegiatan bisnis dengan berbagai keterbatasan.

Siswa dapat belajar mengenai proses pengelolaan usaha, pemasaran produk, pelayanan pelanggan, hingga tantangan mempertahankan bisnis.

Pengalaman tersebut dinilai penting karena perkembangan dunia kerja tidak hanya berkaitan dengan perusahaan besar.

Sektor UMKM juga memiliki peran besar dalam perekonomian dan membutuhkan sumber daya manusia dengan kemampuan pemasaran yang baik.

Adi Cahyono juga mendorong sekolah dan siswa memanfaatkan berbagai fasilitas pendukung kewirausahaan yang tersedia di Banjarnegara.

Salah satunya adalah Pusat Layanan Usaha Terpadu (PLUT). Fasilitas tersebut dapat dimanfaatkan untuk memperdalam pengetahuan mengenai pengembangan usaha sekaligus menjadi tempat berkonsultasi bagi masyarakat maupun pelaku usaha.

Bagi siswa Jurusan Pemasaran, keberadaan fasilitas tersebut dapat menjadi tambahan ruang belajar di luar lingkungan sekolah.

Siswa dapat mengembangkan wawasan kewirausahaan sekaligus memahami bagaimana sebuah ide bisnis dikembangkan menjadi usaha yang memiliki nilai ekonomi.

Peluncuran Kelas Industri di SMKN 1 Bawang menjadi salah satu langkah sekolah untuk memperkuat pendidikan vokasi yang berorientasi pada kebutuhan dunia kerja.

Pembelajaran yang melibatkan perusahaan dan pelaku usaha memungkinkan siswa mendapatkan pengalaman yang lebih kontekstual.

Mereka tidak hanya belajar mengenai konsep pemasaran, tetapi juga memahami standar kerja, pelayanan konsumen, strategi promosi, serta perkembangan bisnis digital.

Kerja sama dengan mitra industri juga diharapkan dapat memperkecil kesenjangan antara kompetensi yang diperoleh siswa di sekolah dengan keterampilan yang dibutuhkan perusahaan.

Bagi siswa Jurusan Pemasaran, pengalaman tersebut dapat menjadi modal penting sebelum mereka memasuki dunia kerja maupun memutuskan untuk membangun usaha sendiri.

Dengan adanya konsentrasi ritel dan bisnis digital, SMKN 1 Bawang berupaya mempersiapkan lulusan yang mampu mengikuti perkembangan industri.

Kelas Industri diharapkan tidak hanya menjadi program pembelajaran tambahan, tetapi juga menjadi jembatan antara sekolah, dunia usaha, dan dunia industri.

Melalui pendekatan tersebut, siswa SMKN 1 Bawang diharapkan semakin siap menghadapi persaingan kerja sekaligus mampu memanfaatkan peluang bisnis yang terus berkembang di era digital. (jud/stch/dda)

Berita Sebelumnya
DPRD Desak Transparansi Data Pegawai

DPRD Banyumas Desak Transparansi Data Pegawai Jelang Penyusunan APBD 2027