BANYUMASEKSPRES.ID, BANJARNEGARA – Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) Klampok, yang terletak di Kecamatan Purwareja Klampok, Banjarnegara, terus menunjukkan inovasi dalam menggerakkan roda perekonomian desa.
Setelah sukses menjalankan program budidaya burung puyuh, BUMDes ini kini memperluas aktivitasnya dengan mengelola limbah sampah rumah tangga menjadi sumber ekonomi baru bagi warga setempat.
Ketua BUMDes Klampok, Agus Sutikno, menjelaskan bahwa budidaya burung puyuh menjadi salah satu program unggulan yang dikembangkan karena memiliki prospek pasar yang stabil dan kebutuhan modal yang relatif terjangkau.
Selain itu, usaha ini tidak membutuhkan lahan yang luas dan bisa dilakukan secara efisien di lingkungan desa.
“Budidaya puyuh ini tidak memerlukan lahan luas dan modal besar, tapi hasilnya cukup menjanjikan. Permintaan telur puyuh di pasaran juga terus meningkat, sehingga prospek usahanya stabil,” ujar Agus saat ditemui, Jumat (10/10).
Saat ini, BUMDes Klampok mengelola sekitar 2.500 ekor burung puyuh, dengan produksi telur mencapai rata-rata 24 kilogram per hari. Jumlah ini sudah mencakup sekitar 95 persen dari kapasitas produksi ideal yang ditargetkan.
Melihat hasil yang cukup positif, program ini kemudian diperluas dengan menambah sekitar 1.800 ekor puyuh berusia 46 hari. Dari penambahan tersebut, diperoleh tambahan produksi sekitar 12 kilogram telur setiap harinya.
Dalam hal pemasaran, Agus menyebut tidak ada kendala berarti. Telur-telur hasil budidaya langsung diserap oleh para pedagang dan sebagian dijual secara eceran kepada masyarakat.
“Harga jual kami kompetitif, yakni Rp 27.500 per kilogram, lebih murah dibandingkan harga pasar tradisional,” jelasnya.
Menariknya, BUMDes Klampok tidak hanya fokus pada hasil utama berupa telur. Limbah dari budidaya puyuh, seperti kotorannya, juga dimanfaatkan secara produktif.
Limbah ini digunakan sebagai media budidaya kutu air dan cacing sutra yang memiliki nilai ekonomi cukup tinggi, khususnya sebagai pakan alami untuk budidaya ikan.
“Seluruh hasil dari kegiatan budidaya ini bisa memberikan manfaat ekonomi berkelanjutan. Tidak ada yang terbuang sia-sia,” kata Agus.
Inovasi BUMDes tidak berhenti di sektor peternakan saja. Mereka juga mulai aktif mengelola sampah rumah tangga dengan pendekatan ekonomi sirkular.
Setiap limbah yang dihasilkan masyarakat desa diolah kembali menjadi sesuatu yang memiliki nilai guna.
Misalnya, pengolahan sampah organik menjadi kompos atau pakan magot untuk mendukung budidaya ikan dan ternak.
Kepala Desa Klampok, Agus Supriyono, menegaskan bahwa seluruh program BUMDes ini merupakan bagian dari strategi besar desa dalam memperkuat ketahanan pangan dan ekonomi masyarakat.
Menurutnya, pengembangan usaha seperti budidaya burung puyuh, ikan mujair, pengolahan sampah, hingga budidaya magot adalah upaya konkret untuk menciptakan kemandirian desa.
“Dengan pengembangan usaha ini, kami berharap dapat memperkuat ketahanan pangan sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat Klampok secara berkelanjutan,” pungkasnya. (jud/dda)
















