BANYUMASEKSPRES.ID, BANYUMAS – Di Grumbul Suka Damai, Desa Pasir Wetan, Karanglewas, suasana pagi berlangsung sebagaimana desa-desa lain di pelosok Jawa Tengah. Suara ayam, denting panci dari dapur, dan sapaan warga menjadi latar kehidupan sehari-hari.
Namun, ada satu aktivitas yang berbeda di RT 04 RW 03. Dari sebuah bangunan kecil berukuran dua kali tiga meter, Umi Rochayati dan suaminya, Aji Pramularso, menggerakkan upaya pengelolaan sampah yang kini menjadi contoh di Kabupaten Banyumas.
Bangunan sederhana itu adalah markas Bank Sampah Suka Mandiri, yang sejak hampir satu dekade terakhir menjadi pionir gerakan lingkungan berbasis masyarakat.
Alih-alih menyimpan uang, bank ini menyimpan harapan bahwa perubahan bisa dimulai dari rumah, bahkan dari sisa-sisa konsumsi sehari-hari.
“Kalau dilihat dari ukurannya mungkin biasa saja. Tapi dari sinilah kami belajar bahwa perubahan besar bisa dimulai dari tempat sekecil ini,” kata Umi Rochayati, sambil menata timbangan besi yang digunakan untuk menimbang sampah warga.
Inisiatif ini lahir pada tahun 2014, berawal dari keprihatinan Umi terhadap kondisi lingkungan sekitar rumahnya. Sampah rumah tangga menumpuk, sebagian dibakar, dan lainnya dibiarkan membusuk.
“Saya pikir, kalau tidak ada yang memulai memilah, sampai kapan pun keadaan akan sama,” ujar Umi.
Ia pun mulai mengajak tetangga untuk memilah dan mengumpulkan sampah anorganik. Responsnya cukup positif. Dukungan warga pun mengalir, hingga pada tahun berikutnya Bank Sampah Suka Mandiri resmi berdiri dengan Surat Keputusan dari Kepala Desa Pasir Wetan.
Kini, meskipun jumlah anggotanya berkisar 60–70 orang, keberadaan bank sampah tersebut telah menjadi magnet pembelajaran dari berbagai daerah.
“Kemarin ada tamu dari Bangka Belitung yang ingin tahu bagaimana cara kerja kami. Padahal ya beginilah adanya, sederhana,” tutur Umi, tersenyum.
Salah satu program utama Bank Sampah Suka Mandiri adalah penukaran sampah dengan sembako.
Warga bisa menukar botol plastik, kardus, kaleng, logam bekas, bahkan ember rusak, dengan kupon sembako. Sampah ditimbang dan dicatat dalam buku tabungan. Jika saldo cukup, warga bisa menukarkannya.
“Di sini, bahkan yang punya saldo Rp 26 pun ada. Tidak masalah. Yang penting mereka mau mengumpulkan sampah, itu sudah membantu lingkungan,” kata Umi.
Setiap kupon bernilai Rp 2.500. Meskipun nominalnya kecil, program ini secara konsisten membangun kesadaran dan kebiasaan warga dalam memilah sampah.
Tak hanya mengelola sampah padat, Bank Sampah Suka Mandiri juga mengolah minyak jelantah.
Bersama kelompok dasawisma (dawis), Umi membeli minyak bekas dari warga seharga Rp 2.500 per liter. Minyak tersebut kemudian diolah menjadi sabun batangan, sabun bubuk, dan lilin aromaterapi.
Satu paket sabun dan lilin dijual Rp 15.000. Seluruh keuntungan kembali digunakan untuk mendukung operasional bank sampah.
Hingga pertengahan 2025, total minyak jelantah dan sampah yang berhasil dikumpulkan mencapai 666,9 kilogram. Meski terkesan kecil, bagi Umi, angka tersebut adalah bukti nyata kesadaran warga terhadap pengelolaan limbah rumah tangga.
Bagi Umi, bank sampah ini bukan hanya tempat menabung sampah, tetapi juga ruang edukasi. Ia kerap mengajak anak-anak yang datang bersama orang tuanya untuk melihat langsung proses pemilahan dan penimbangan sampah.
“Kalau sejak kecil mereka tahu bahwa sampah itu punya nilai, mereka akan lebih bijak mengelolanya ketika dewasa,” ujarnya.
Umi menyadari bahwa gerakan ini tidak selalu berjalan mulus. Harga jual barang bekas yang fluktuatif, semangat warga yang naik-turun, serta keterbatasan ruang dan sumber daya sering menjadi tantangan.
“Kalau kita berhenti, habis sudah. Jadi ya dijalani saja, sambil terus mencari ide baru,” tuturnya.
Meski kini hanya bermarkas di gubuk sederhana, Umi memiliki harapan besar. Ia ingin Bank Sampah Suka Mandiri berkembang menjadi pusat pelatihan pengelolaan sampah untuk tingkat desa, bahkan grumbul.
“Saya ingin orang datang ke sini bukan hanya untuk menabung sampah, tapi juga belajar mengolahnya menjadi produk bermanfaat,” ujarnya menutup percakapan.
Saat siang menjelang dan sinar matahari menyusup masuk melalui celah dinding papan, karung-karung berisi sampah anorganik tertata rapi di sudut bangunan.
Dari tempat yang mungkin tampak biasa di mata banyak orang, Umi Rochayati terus menyalakan api perubahan, bahwa dari sudut desa pun, masa depan bisa dijaga, dimulai dari sehelai plastik yang dipungut dan tidak dibuang sembarangan. (*stch)
















