BANYUMASEKSPRES.ID, KEBUMEN – Puluhan calon pekerja migran asal Kabupaten Kebumen diminta tidak hanya mempersiapkan kemampuan kerja dan kondisi ekonomi sebelum berangkat ke luar negeri.
Ketahanan keluarga juga dinilai menjadi hal penting yang perlu diperkuat agar hubungan rumah tangga tetap harmonis meski harus terpisah jarak dan waktu.
Pesan tersebut disampaikan Kepala Subbagian Tata Usaha Kantor Kementerian Agama (Kemenag) Kabupaten Kebumen, H. Salim Wazdy, saat memberikan pembekalan kepada calon pekerja migran di Aula Si Pemikat Kantor Dinas Tenaga Kerja Kabupaten Kebumen, Selasa (11/8/2026).
Menurut Salim, bekerja di luar negeri memang dapat menjadi salah satu pilihan untuk meningkatkan kondisi ekonomi keluarga.
Namun, keputusan tersebut juga membawa konsekuensi karena pekerja harus meninggalkan pasangan maupun anggota keluarga dalam waktu tertentu.
Karena itu, persiapan menjadi pekerja migran tidak cukup hanya dengan mengurus dokumen, meningkatkan keterampilan, atau memahami pekerjaan yang akan dijalani.
Calon pekerja juga perlu membicarakan kondisi keluarga bersama pasangan sebelum keberangkatan.
Salim mengingatkan, jarak yang jauh dapat memunculkan berbagai persoalan dalam rumah tangga.
Mulai dari kecemburuan, miskomunikasi, berkurangnya intensitas komunikasi, hingga munculnya rasa tidak aman dalam hubungan.
“Kepercayaan perlu dibangun melalui kejujuran, keterbukaan, serta kesepakatan bersama sebelum pasangan menjalani kehidupan secara berjauhan,” ujar Salim, Selasa (11/8/2026).
Menurutnya, kepercayaan menjadi salah satu fondasi utama bagi keluarga pekerja migran.
Hubungan jarak jauh membutuhkan komitmen dari kedua pihak agar komunikasi dan keharmonisan keluarga tetap terjaga selama pekerja berada di luar negeri.
Calon pekerja migran juga diminta membuat rencana keluarga bersama pasangan sebelum berangkat.
Pembahasan tersebut dapat mencakup tujuan bekerja, pengelolaan penghasilan, kebutuhan keluarga, pembagian tanggung jawab, hingga pola komunikasi selama menjalani kehidupan secara terpisah.
Perencanaan tersebut dinilai penting agar pasangan memiliki kesepahaman mengenai kehidupan keluarga selama masa bekerja di luar negeri.
Dengan begitu, persoalan yang muncul nantinya dapat dibicarakan berdasarkan kesepakatan yang telah dibuat sejak awal.
Dalam pembekalan tersebut, Salim juga memperkenalkan lima pilar dalam membangun keluarga.
Kelima pilar itu yakni zawaj atau berpasangan, mitsaqan ghalizhan atau janji yang kokoh, mu’asyarah bil ma’ruf atau memperlakukan pasangan secara bermartabat, musyawarah, serta saling rida.
Kelima pilar tersebut dinilai semakin penting diterapkan bagi pasangan yang harus menjalani rumah tangga jarak jauh.
Komunikasi yang terbuka, kesepakatan bersama, serta sikap saling menghargai diperlukan untuk menjaga hubungan tetap sehat.
Selain komunikasi, Salim menekankan pentingnya membangun keluarga berdasarkan prinsip keadilan dan kesalingan.
Menurutnya, suami dan istri perlu menempatkan hubungan rumah tangga sebagai sebuah kemitraan.
“Keluarga harus dibangun atas dasar kemitraan dan kerja sama. Ada keseimbangan, kebersamaan, dan kesepenanggungan antara suami dan istri,” pesannya.
Konsep kemitraan tersebut berarti setiap pihak memiliki peran dan tanggung jawab dalam menjaga keberlangsungan keluarga.
Ketika salah satu pasangan harus bekerja di luar negeri, dukungan dari pasangan yang berada di rumah tetap dibutuhkan.
Bagi calon pekerja migran, persiapan mental dan keluarga menjadi bagian yang tidak kalah penting dibandingkan persiapan pekerjaan.
Kemampuan mengelola komunikasi, keuangan, kepercayaan, dan tanggung jawab keluarga dapat membantu mengurangi potensi konflik selama menjalani kehidupan berjauhan.
Pembekalan tersebut diharapkan menjadi bekal bagi calon pekerja migran asal Kebumen sebelum menjalani pekerjaan di luar negeri.
Mereka diharapkan tidak hanya mampu meningkatkan kesejahteraan ekonomi keluarga, tetapi juga tetap menjaga hubungan dan ketahanan keluarga selama masa bekerja. (*/stch/dda)














