BANYUMASEKSPRES.ID, PURWOKERTO – Musim kemarau mulai berdampak terhadap pasokan air baku Perumdam Tirta Satria Banyumas.
Sejumlah sumber air mengalami penurunan debit cukup signifikan, bahkan mencapai 60 persen di sumber Kawuncarang.
Kondisi tersebut membuat distribusi air kepada pelanggan berpotensi terganggu, terutama pelanggan yang mengandalkan pasokan dari sumber mata air.
Untuk mengantisipasi gangguan distribusi, Perumdam Tirta Satria Banyumas mengimbau pelanggan menyiapkan tandon air di rumah.
Direktur Teknik Perumdam Tirta Satria Banyumas Wipi Supriyanto mengatakan, penurunan debit air baku terjadi di sejumlah sumber akibat kondisi kemarau.
Selain Kawuncarang yang mengalami penurunan hingga 60 persen, beberapa sumber lainnya mengalami penurunan debit sekitar 30 hingga 40 persen.
“Kami menyampaikan permohonan maaf kepada pelanggan, akhir-akhir ini pelayanan sering terganggu karena datangnya musim kemarau. Beberapa sumber kita mengalami penurunan sumber air baku yang sangat drastis seperti Kawuncarang itu bisa sampai 60 persen,” kata Wipi.
Menurut Wipi, pelanggan yang menggunakan pasokan dari mata air banyak berada di wilayah Utara Banyumas.
Sementara itu, pelanggan yang memperoleh air dari Sungai Serayu lebih banyak berada di wilayah Selatan.
Saat musim kemarau, sumber mata air mengalami penurunan debit sehingga pasokan kepada pelanggan dapat berkurang.
Sebaliknya, Sungai Serayu cenderung memiliki debit yang lebih stabil ketika kemarau, meski menghadapi tantangan berbeda saat musim hujan.
“Kalau musim kemarau seperti ini, dari mata air tentu mengalami gangguan kekurangan air bakunya. Sebaliknya kalau di musim hujan, malah justru air Sungai Serayu yang keruh, banjir, banyak kotoran, stop produk, hingga kekeruhan tinggi, dan lain sebagainya,” jelasnya.
Karena debit sumber menurun, aliran air kepada pelanggan tidak selalu dapat berjalan optimal selama 24 jam.
Perumdam pun meminta pelanggan memanfaatkan waktu ketika tekanan air lebih tinggi untuk mengisi tandon.
Wipi menyebut pasokan air biasanya lebih lancar pada malam hingga dini hari.
Pelanggan disarankan menyimpan air pada waktu tersebut sebagai persediaan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
“Mengimbau kepada semuanya, para pelanggan untuk bisa punya tandon air. Karena biasanya di malam hari itu air nyala, dan sampai ke pelanggan dengan bagus. Kesempatan itulah untuk menyimpan air,” ujarnya.
Perumdam Tirta Satria mencatat waktu pemakaian air tertinggi terjadi pada pagi dan sore hingga malam hari. Pemakaian puncak biasanya berlangsung pukul 04.00-08.00 dan 17.00-20.00.
Pada jam-jam tersebut, kebutuhan air pelanggan meningkat sehingga tekanan air dapat lebih rendah dibandingkan waktu lainnya.
Sementara itu, periode pukul 22.00 hingga 03.00 menjadi waktu ketika tekanan air biasanya lebih tinggi.
Kondisi tersebut terjadi karena sebagian besar kebutuhan pelanggan telah terpenuhi.
Karena itu, pelanggan yang mengalami gangguan pasokan disarankan memanfaatkan periode tersebut untuk mengisi tandon.
Persediaan air yang ditampung dapat digunakan ketika tekanan air kembali menurun pada jam pemakaian tinggi.
Menghadapi penurunan debit selama musim kemarau, Perumdam Tirta Satria Banyumas terus mengoptimalkan sumber air yang masih tersedia.
Beberapa sumber mata air yang dioptimalkan antara lain Curug Telu, Kawungcarang, Kaliumbul, Tonjong, dan Rancah.
Optimalisasi dilakukan untuk memaksimalkan debit yang masih tersedia sehingga pelayanan kepada pelanggan dapat tetap berjalan.
Selain mengoptimalkan sumber utama, Perumdam juga menyiapkan sumber air alternatif.
Salah satunya dengan menghidupkan sumur dalam cadangan, yakni Sumur Dalam PH dan Sumur Dalam Kutasari.
“Menghidupkan sumur dalam cadangan, yaitu Sumur Dalam PH Sumur Dalam Kutasari, sebagai sumber alternatif untuk memperkuat pasokan air apabila terjadi penurunan debit pada sumber utama,” jelas Wipi.
Langkah tersebut dilakukan sebagai bagian dari strategi menjaga pasokan air selama kondisi kemarau masih berlangsung.
Perumdam juga melakukan pengaturan aliran air berdasarkan data tekanan di masing-masing wilayah pelayanan. Pengaturan tersebut dilakukan agar distribusi air dapat lebih merata.
Selain itu, sebanyak 50 titik injeksi dibuat pada pipa distribusi yang tersebar di lima cabang pelayanan.
Titik injeksi tersebut menjadi bagian dari upaya Perumdam mengoptimalkan distribusi air ke wilayah pelanggan.
“Langkah ini dilakukan agar distribusi air dapat lebih optimal dan menjangkau pelanggan secara merata. Kita juga lakukan pembuatan titik injeksi pada pipa distribusi, sebanyak 50 titik yang tersebar di 5 cabang,” kata Wipi.
Dengan berbagai pengaturan tersebut, Perumdam berupaya menjaga agar penurunan debit sumber air tidak terlalu berdampak terhadap pelayanan pelanggan.
Untuk wilayah yang mengalami keterbatasan pasokan, Perumdam Tirta Satria juga menyiapkan distribusi atau dropping air bersih.
Dropping dilakukan sebagai langkah untuk memenuhi kebutuhan dasar pelanggan yang tidak mendapatkan pasokan secara optimal akibat penurunan debit sumber.
Langkah tersebut menjadi bagian dari penanganan selama musim kemarau, bersamaan dengan optimalisasi sumber air, pengaturan tekanan jaringan, dan pemanfaatan sumur cadangan.
“Sehingga kebutuhan dasar pelanggan tetap dapat dilayani selama kondisi debit sumber mengalami penurunan,” paparnya.
Dengan debit sejumlah sumber air baku yang turun hingga 60 persen, pelanggan Perumdam Tirta Satria Banyumas diimbau ikut mengantisipasi gangguan pasokan.
Salah satu cara yang dapat dilakukan adalah menyediakan tandon dan mengisinya pada malam hingga dini hari, terutama sekitar pukul 22.00-03.00 ketika tekanan air biasanya lebih tinggi.
Sementara itu, Perumdam terus melakukan berbagai langkah teknis agar pelayanan air bersih tetap berjalan selama musim kemarau, termasuk mengoptimalkan sumber mata air, mengaktifkan sumur cadangan, mengatur distribusi berdasarkan tekanan, serta melakukan dropping air ke wilayah yang membutuhkan. (res/stch/dda)














