Banyumas Ekspres
Dark ModeLight Mode

Gempa NTT M 7,7 Berdampak pada Pariwisata, Sejumlah Destinasi Ditutup Sementara

Goa Rangko hingga Kelimutu Tutup SementaraGoa Rangko hingga Kelimutu Tutup Sementara
RUNTUH: Rumah ambruk akibat gempa M 7,7 di NTT

BANYUMASEKSPRES.ID, JAKARTA – Gempa bumi berkekuatan M 7,7 yang mengguncang Nusa Tenggara Timur (NTT) pada Sabtu, 15 Agustus 2026, tidak hanya menimbulkan kerusakan dan korban jiwa, tetapi juga berdampak terhadap sektor pariwisata.

Sejumlah destinasi wisata di NTT harus ditutup sementara untuk memastikan keamanan wisatawan dan melakukan pemeriksaan terhadap kondisi infrastruktur.

Penutupan sementara sejumlah objek wisata mulai dilakukan pada Selasa (18/8/2026).

Langkah tersebut diambil sebagai bagian dari pemeriksaan keselamatan struktur bangunan serta perbaikan fasilitas yang mengalami kerusakan akibat gempa.

Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Berton Panjaitan, mengatakan beberapa destinasi wisata yang terdampak harus ditutup sampai proses pemeriksaan selesai.

“Beberapa objek wisata saat ini ditutup sementara, seperti Goa Rangko di Manggarai Barat, Desa Adat Wae Rebo di Manggarai, dan Taman Nasional Kelimutu di Ende,” ujar Berton Panjaitan di Jakarta, Rabu (19/8/2026).

Sejumlah destinasi yang ditutup sementara merupakan lokasi wisata populer di NTT.

Penutupan dilakukan bukan berarti destinasi tersebut mengalami kerusakan total, melainkan untuk memastikan kondisi kawasan benar-benar aman setelah gempa.

Pihak berwenang akan melakukan verifikasi terhadap struktur bangunan dan fasilitas wisata sebelum memberikan keputusan mengenai pembukaan kembali.

Informasi mengenai operasional kembali destinasi wisata akan disampaikan setelah seluruh proses pemeriksaan keselamatan selesai dilakukan.

Pemerintah menempatkan keselamatan wisatawan sebagai prioritas dalam proses pemulihan pascagempa.

Sementara itu, Taman Nasional Komodo dan wilayah perairan di sekitarnya tetap beroperasi penuh.

Berdasarkan penilaian awal, kawasan tersebut tidak mengalami kerusakan akibat gempa.

BNPB juga melaporkan adanya kerusakan ringan pada delapan lokasi wisata di wilayah terdampak. Selain fasilitas wisata, sektor akomodasi turut mengalami dampak akibat gempa bumi NTT.

Tercatat dua hotel dan tiga homestay mengalami dampak yang cukup parah. Sementara itu, sebanyak 10 hotel dan lima homestay mengalami dampak struktural ringan.

Kerusakan akomodasi tersebut terutama dilaporkan terjadi di Kabupaten Nagekeo.

Pemerintah bersama pihak terkait masih melakukan pendataan dan pemeriksaan untuk mengetahui tingkat kerusakan secara lebih menyeluruh.

“Memastikan keselamatan dan keamanan seluruh wisatawan, serta kelayakan infrastruktur pariwisata, merupakan prioritas kami,” kata Berton.

Kondisi tersebut menjadi perhatian penting mengingat NTT merupakan salah satu daerah tujuan wisata unggulan Indonesia.

Penutupan sementara sejumlah destinasi diharapkan dapat mencegah risiko kecelakaan selama proses pemeriksaan dan pemulihan berlangsung.

Selain berdampak terhadap sektor pariwisata, gempa M 7,7 juga menimbulkan korban jiwa dan luka-luka.

Direktur Operasi Basarnas Laksamana Pertama TNI Bramantyo melaporkan terdapat 70 korban meninggal dunia dan 132 korban luka-luka berdasarkan data tim SAR per Senin (17/8/2026) pukul 23.30.

Dari total korban luka, sebanyak 40 orang mengalami luka berat dan 92 orang mengalami luka ringan.

“Total korban adalah 202 orang, kemudian meninggal dunia 70 orang dan luka-luka 132 orang. Kemudian, luka berat 40, luka ringan 92,” ujar Bramantyo dalam konferensi pers, Selasa (18/8/2026).

Jumlah korban tersebut menunjukkan besarnya dampak gempa terhadap masyarakat di sejumlah wilayah NTT.

Gempa juga menyebabkan masyarakat harus meninggalkan rumah dan mengungsi ke lokasi yang dianggap lebih aman.

Data yang disampaikan menunjukkan pengungsi tersebar di sejumlah kabupaten.

Manggarai Timur menjadi wilayah dengan jumlah pengungsi terbesar, yakni sekitar 15.465 jiwa.

Berikut rincian pengungsi di sejumlah wilayah:

  • Manggarai Timur: sekitar 15.465 jiwa
  • Manggarai: 6.847 jiwa
  • Nagekeo: 6.221 jiwa
  • Sikka: 5.681 jiwa
  • Ende: 3.666 jiwa
  • Ngada: 1.920 jiwa
  • Manggarai Barat: 600 jiwa

Pemerintah daerah dan tim penanganan bencana masih melakukan proses evakuasi, pendataan, serta pemenuhan kebutuhan masyarakat terdampak.

Sebagai bagian dari penanganan bencana, Pemerintah Provinsi NTT menetapkan Status Tanggap Darurat Bencana Gempa Bumi selama 14 hari.

Status tersebut berlaku mulai 15 Agustus hingga 28 Agustus 2026. Selama masa tanggap darurat, pemerintah bersama BNPB, Basarnas, TNI, Polri, pemerintah daerah, dan berbagai unsur terkait melakukan penanganan terhadap korban serta pemulihan wilayah terdampak.

Di sektor pariwisata, pemeriksaan keamanan destinasi menjadi bagian penting dalam proses pemulihan.

Pembukaan kembali tempat wisata akan dilakukan setelah kondisi fasilitas dinyatakan aman.

Dengan demikian, wisatawan yang berencana berkunjung ke NTT perlu memperhatikan informasi terbaru dari pemerintah daerah maupun pengelola destinasi sebelum melakukan perjalanan.

Penutupan sejumlah objek wisata bersifat sementara dan bertujuan memastikan keselamatan pengunjung setelah gempa besar melanda wilayah tersebut. (*/stch/dda)

Berita Sebelumnya
Mendadak Absen di GP Belanda

Isack Hadjar Absen di F1 Belanda 2026, Liam Lawson Disiapkan Jadi Pengganti

Berita Selanjutnya
63 Mobil Hias Pamer Kreativitas

63 Mobil Hias Meriahkan HUT ke-81 RI di Cilacap, PSCS Ikut Tampil