Banyumas Ekspres
Dark ModeLight Mode

Hujan Deras Picu Banjir dan Longsor di Kabupaten Bandung, Ratusan Rumah Terdampak

Bandung Diterjang Banjir dan LongsorBandung Diterjang Banjir dan Longsor
SELAMATKAN BARANG: Sejumlah warga menyelamatkan barang berharga

BANYUMASEKSPRES.ID, BANDUNG – Hujan deras yang disertai angin kencang melanda Kabupaten Bandung pada Selasa (7/4), mengakibatkan bencana alam yang cukup serius.

Banjir terjadi di dua lokasi yang berbeda, sementara longsor dilaporkan di empat wilayah.

Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Bandung, Wahyudin, menjelaskan bahwa salah satu lokasi terdampak banjir adalah Desa Majakerta di Kecamatan Majalaya.

Lokasi kedua yang mengalami banjir adalah Jalan Tanggulun Ibun di Desa Tanggulun, Kecamatan Ibun. Sementara itu, peristiwa longsor terjadi di beberapa titik yang berbeda.

Salah satunya berada di Jalan Raya Pacet-Cibereum, tepatnya di Desa Sukapura, Kecamatan Kertasari.

Longsor juga tercatat di Desa Tribaktimulya, Kecamatan Pangalengan. Di Kecamatan Pacet sendiri, terdapat beberapa titik longsor yang merugikan masyarakat.

Titik-titik tersebut terletak di Desa Pangauban, Desa Cikitu, Desa Girimulya, dan Desa Mandalahaji.

Tidak hanya itu, kejadian longsor lainnya juga terpantau di Kampung Balekambang RT 003 RW 016, Desa Sukamaju, Kecamatan Majalaya.

“Dampak dari longsor yang terjadi di Jalan Raya Pacet-Cibereum membuat material longsoran menutupi sebagian bahu jalan. Dimensi longsor tersebut mencapai panjang 25 meter, tinggi 5 meter dan lebar 5 meter,” ungkap Wahyudin ketika dihubungi pada Rabu (8/4).

Di Desa Sukapura, longsor juga menutupi sebagian bahu jalan dan mengganggu lalu lintas.

Di Desa Tribaktimulya, Kecamatan Pangalengan, longsor terjadi di beberapa titik. Kejadian ini tidak saja merusak jalan lingkungan tetapi juga mengancam beberapa rumah warga setempat.

“Di wilayah Kecamatan Pacet, longsor mengakibatkan dua unit rumah terdampak dan tiga rumah terputus akses jalannya di Desa Pangauban,” lanjutnya.

Lebih lanjut ia menjelaskan dampak longsor lainnya: “Di Desa Cikitu terdapat tiga unit rumah terdampak dan empat rumah terancam untuk ambruk serta dua kepala keluarga harus mengungsi ke rumah warga lainnya.”

Sementara itu, di Desa Girimulya juga terdapat beberapa rumah dalam kondisi yang sangat terancam akibat tanah longsor yang menyapu area sekitarnya.

Di Desa Mandalahaji sendiri satu rumah roboh sementara dua kepala keluarga dengan total sembilan jiwa harus mengungsi akibat bencana ini.

Kejadian serupa terjadi pula di Kampung Balekambang, Desa Sukamaju, Kecamatan Majalaya.

Bantaran sungai mengalami erosi sepanjang sekitar 20 meter dengan kedalaman mencapai 8 meter akibat derasnya aliran air hujan.

Banjir yang melanda wilayah ini juga berdampak pada akses jalan raya yang terendam air hingga menyebabkan aktivitas kendaraan terganggu. Dari laporan BPBD, jumlah warga yang terdampak banjir cukup signifikan.

Di Desa Majakerta, Kecamatan Majalaya saja tercatat sebanyak 406 kepala keluarga atau sekitar 1.413 jiwa dari RW 01 dan RW 02 Kampung Rancabali mengalami dampak langsung dari bencana ini.

Kondisi serupa juga dialami oleh warga di Jalan Tanggulun Ibun di Desa Tanggulun, Kecamatan Ibun yang menggenangi wilayah tersebut.

“Warga RW 04 sebanyak 250 kepala keluarga terkena dampaknya sedangkan RW 05 sebanyak 200 kepala keluarga dan RW 07 sebanyak 150 kepala keluarga juga mengalami hal serupa,” jelas Wahyudin lebih lanjut.

Banjir dan longsor adalah dua jenis bencana alam yang sering kali memperlihatkan dampak merugikan bagi masyarakat terutama saat musim penghujan seperti sekarang ini.

Kejadian ini menunjukkan betapa pentingnya kesadaran akan mitigasi bencana serta persiapan masyarakat dalam menghadapi kemungkinan terburuk akibat perubahan cuaca ekstrem.

Sebagai langkah awal penanggulangan bencana, BPBD Kabupaten Bandung terus melakukan pemantauan terhadap situasi terkini serta memberikan bantuan kepada masyarakat yang membutuhkan.

Dalam situasi darurat seperti ini, informasi akurat dan cepat sangatlah krusial agar aksi respons dapat dilakukan dengan efisien dan efektif.

Wahyudin menambahkan bahwa pihaknya akan terus berkoordinasi dengan instansi terkait untuk memberikan bantuan kepada para korban bencana alam ini serta memperbaiki infrastruktur yang rusak akibat banjir dan longsor.

“Kami memastikan bahwa kebutuhan dasar warga terpenuhi selama masa pemulihan ini,” ujarnya.

Dalam menghadapi tantangan seperti ini, solidaritas antarwarga menjadi hal penting.

Masyarakat diajak untuk saling membantu satu sama lain dalam proses evakuasi serta pemulihan pascabencana.

Selain itu, pemerintah daerah juga berupaya untuk meningkatkan infrastruktur yang dapat meminimalisir dampak bencana serupa di masa mendatang.

Banjir dan tanah longsor menjadi pengingat akan kekuatan alam sekaligus tantangan bagi manusia untuk terus beradaptasi dengan kondisi lingkungan hidup mereka.

Memahami pola perubahan iklim serta perilaku cuaca ekstrem sangatlah penting agar masyarakat bisa lebih siap menghadapi risiko yang mungkin timbul.

Kondisi saat ini menuntut bukan hanya perhatian dari pemerintah tetapi juga partisipasi aktif dari masyarakat dalam membangun ketahanan terhadap bencana alam.

Edukasi mengenai penanganan darurat dan keterampilan hidup dalam kondisi ekstrem perlu ditingkatkan guna mengurangi kerugian baik nyawa maupun harta benda saat bencana melanda kembali.

Dengan upaya bersama antara pemerintah dan masyarakat dalam meningkatkan kesadaran terhadap risiko bencana serta implementasi langkah-langkah preventif dan responsif yang tepat sasaran, harapannya adalah kejadian serupa dapat diminimalisir atau bahkan dicegah sama sekali di masa depan. (*/stch/dda)

Berita Sebelumnya
Warga Keberatan Proyek Pelebaran Jalan

Tak Ada Ganti Untung, Pelebaran Jalan Pandak–Sibalung Banyumas Picu Protes Warga

Berita Selanjutnya
Namanya Dicatut Akun Medsos

Dewi Perssik Geram Namanya Dicatut Akun Facebook Centang Biru