Banyumas Ekspres
Dark ModeLight Mode

Sehari Jadi Arkeolog Cilik di Museum Purbalingga, Siswa SD Gali Benda Purbakala

Belajar Ekskavasi hingga Rangkai Tulang DinosaurusBelajar Ekskavasi hingga Rangkai Tulang Dinosaurus
TELITI: Siswa SD mengikuti program Arkeolog Cilik di Museum Prof Dr R Soegarda Poerbakawatja, Purbalingga, Selasa (8/9)

BANYUMASEKSPRES.ID, PURBALINGGA – Biasanya, benda-benda purbakala hanya dapat dilihat dari balik kaca museum.

Namun, suasana berbeda terasa di Museum Prof Dr R Soegarda Poerbakawatja, Purbalingga, Selasa (8/9).

Puluhan siswa sekolah dasar (SD) mendapat kesempatan merasakan pengalaman menjadi arkeolog sehari.

Mereka tidak hanya berkeliling melihat koleksi museum, tetapi juga mengikuti simulasi penggalian benda purbakala, belajar merawat temuan, hingga menyusun potongan miniatur tulang dinosaurus.

Kegiatan tersebut dikemas melalui program Arkeolog Cilik yang digelar Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Dindikbud) Kabupaten Purbalingga.

Suasana museum pun berubah menjadi ruang belajar yang lebih interaktif. Para siswa diajak mengenal sejarah melalui pengalaman langsung, bukan sekadar mendengarkan penjelasan atau melihat benda-benda koleksi.

Kepala Bidang Kebudayaan Dindikbud Purbalingga Wasis Andri Wibowo mengatakan, Arkeolog Cilik merupakan program publik yang bersumber dari Dana Alokasi Khusus (DAK) nonfisik BOP Museum dan Taman Budaya Tahun Anggaran 2026.

Pelajar menjadi sasaran utama kegiatan karena museum dinilai memiliki fungsi lebih luas daripada sekadar tempat menyimpan benda bersejarah.

Museum juga diharapkan dapat menjadi ruang pembelajaran yang mampu menarik minat generasi muda untuk mengenal sejarah dan budaya.

“Tujuannya untuk meningkatkan minat kunjungan ke museum, karena museum merupakan pusat pembelajaran sejarah. Kedua, memancing kreativitas dan keterlibatan pengunjung, khususnya pelajar,” ujar Wasis.

Melalui konsep belajar sambil praktik, siswa mendapatkan gambaran mengenai pekerjaan arkeolog.

Mereka diajak memahami bahwa benda bersejarah yang ditemukan tidak dapat diperlakukan sembarangan.

Ada proses yang membutuhkan ketelitian, kehati-hatian, serta pengetahuan agar sebuah temuan tetap terjaga dan dapat dipelajari.

Program Arkeolog Cilik tahun ini melibatkan perwakilan dari 18 SD yang tersebar di 18 kecamatan di Kabupaten Purbalingga.

Masing-masing sekolah mengirimkan dua kelompok. Setiap kelompok terdiri atas tiga siswa dan didampingi dua guru.

Konsep kegiatan telah dipersiapkan dan disosialisasikan sejak Agustus. Saat pelaksanaan, peserta langsung mengikuti rangkaian praktik yang dirancang menyerupai beberapa tahapan pekerjaan arkeolog.

Kegiatan tersebut tidak sekadar memberikan pengalaman baru bagi siswa, tetapi juga membuat museum menjadi ruang interaksi antara peserta dengan sejarah.

Anak-anak mendapat kesempatan mencoba berbagai aktivitas yang selama ini mungkin hanya mereka lihat melalui buku pelajaran atau media pembelajaran.

Ada tiga kegiatan utama yang menjadi pembeda program Arkeolog Cilik tahun ini, yakni ekskavasi, konservasi, dan rekonstruksi.

Kegiatan pertama adalah ekskavasi atau simulasi penggalian benda purbakala. Dalam kegiatan ini, siswa menggunakan alat peraga untuk mengenal proses penggalian.

Dari simulasi tersebut, peserta belajar bahwa menemukan benda bersejarah bukan sekadar menggali tanah dan mengambil benda yang ditemukan.

Ketelitian dan kehati-hatian menjadi bagian penting dalam proses tersebut. Siswa diperkenalkan pada cara bekerja secara teratur agar temuan tidak rusak.

Kegiatan kedua adalah konservasi. Setelah mengenal proses penggalian, siswa belajar mengenai penanganan benda purbakala.

Mereka dikenalkan pada tahapan perawatan benda agar kondisi temuan tetap terjaga.

Dengan demikian, benda bersejarah dapat terus dipelajari dan diwariskan kepada generasi berikutnya.

Pada tahap ini, peserta menghadapi tantangan untuk merangkai potongan miniatur tulang dinosaurus hingga membentuk susunan yang utuh.

“Yang khas dari tahun ini ada tiga kegiatan pokok. Pertama ekskavasi atau simulasi penggalian benda purbakala dengan alat peraga. Kedua konservasi, jadi mereka diberi pembelajaran langsung dikenalkan tahapan penanganan benda purbakala. Ketiga rekonstruksi, yakni kegiatan merangkai potongan miniatur tulang dinosaurus,” jelas Wasis.

Setiap tahapan kegiatan tidak dibiarkan berjalan tanpa pendampingan. Para siswa mendapatkan arahan sekaligus penilaian langsung dari arkeolog dan pamong budaya yang terlibat dalam program tersebut.

Pendampingan itu membuat siswa tidak hanya menyelesaikan tugas, tetapi juga memahami alasan di balik setiap tahapan yang dilakukan.

Bagi peserta, pengalaman tersebut memberikan cara baru untuk mengenal sejarah.

Museum yang selama ini identik dengan ruang pajang dan benda-benda lama berubah menjadi tempat untuk mencoba, belajar, serta memecahkan tantangan.

Aktivitas menggali, merawat temuan, dan menyusun potongan tulang dinosaurus menjadi pengalaman yang diharapkan dapat membuat sejarah terasa lebih dekat dengan kehidupan anak-anak.

Dindikbud Purbalingga berharap pengalaman mengikuti Arkeolog Cilik tidak berhenti setelah kegiatan selesai.

Ketertarikan yang muncul dari aktivitas praktik diharapkan menjadi pintu masuk bagi siswa untuk semakin mengenal sejarah dan budaya daerah.

Program publik yang didukung DAK nonfisik tersebut telah memasuki tahun kelima.

Sebelumnya, Dindikbud Purbalingga juga menggelar berbagai kegiatan edukasi budaya.

Kegiatan tersebut antara lain pembelajaran membatik, musik tradisional, kriya, hingga festival seni.

Beragam program itu menjadi bagian dari upaya mengenalkan budaya dan sejarah kepada generasi muda melalui pendekatan yang lebih interaktif.

Jika selama ini museum mengajak pengunjung melihat berbagai jejak masa lalu, melalui Arkeolog Cilik para siswa diajak melangkah lebih jauh.

Mereka mencoba memahami bagaimana sebuah jejak sejarah ditemukan, bagaimana benda hasil temuan dirawat, serta bagaimana potongan-potongan informasi dapat disusun menjadi sebuah cerita.

Dengan pengalaman tersebut, museum diharapkan tidak hanya menjadi tempat melihat koleksi, tetapi juga menjadi ruang belajar yang mampu menumbuhkan rasa ingin tahu anak terhadap sejarah dan budaya Purbalingga. (alw/stch/dda)

Berita Sebelumnya
Server ATCS Mulai Usang

Server ATCS Banyumas Mulai Usang, Dishub Usulkan Pembaruan Sistem

Berita Selanjutnya
Pajak Kendaraan (2)

Pemutihan Pajak Kendaraan 2026, Ini Daftar Provinsi dan Masa Berlakunya