BANYUMASEKSPRES.ID, PURBALINGGA – Kabupaten Purbalingga, yang terletak di Jawa Tengah, mengalami rangkaian bencana alam yang menimbulkan dampak signifikan sepanjang tahun 2025.
Seiring berjalannya waktu, kerugian material akibat bencana ini telah mencapai lebih dari Rp 2 miliar.
Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Purbalingga, Prayitno, mengungkapkan bahwa dari Januari hingga akhir September 2025 telah tercatat sedikitnya 68 kejadian bencana.
“Total kerugian material yang terdata adalah Rp 2.001.940.000 atau Rp 2 miliar lebih,” ujarnya pada Selasa (30/9/2025).
Menurut data BPBD, jenis bencana yang mendominasi adalah tanah longsor dengan total 36 kejadian. Selain itu, cuaca ekstrem menyusul dengan 23 kali kejadian, diikuti oleh delapan kasus banjir dan satu insiden kebakaran hutan serta lahan (karhutla).
Dampak dari bencana-bencana tersebut memaksa setidaknya 131 orang untuk mengungsi dan mengakibatkan satu orang mengalami luka-luka. Namun demikian, Prayitno menegaskan bahwa tidak ada korban jiwa yang perlu dilaporkan.
“Tidak ada korban jiwa akibat sejumlah bencana yang terjadi di Purbalingga hingga akhir September ini,” tegas Prayitno.
Dampak terhadap permukiman penduduk juga cukup signifikan. Data menunjukkan bahwa sebanyak 319 rumah terdampak, dengan kerusakan yang bervariasi mulai dari rusak berat hingga ringan.
Secara rinci terdapat 33 unit rumah mengalami kerusakan berat, sementara 43 rumah rusak sedang, dan 139 rumah mengalami kerusakan ringan. Selain itu, ada 33 rumah yang terancam dan 71 unit rumah lainnya tergenang air.
Lebih lanjut, BPBD mencatat bahwa sebanyak 313 kepala keluarga atau sekitar 1.022 jiwa terkena dampaknya secara langsung.
Situasi ini semakin memprihatinkan karena hampir seluruh wilayah Purbalingga dikategorikan sebagai daerah rawan bencana, terutama hidrometeorologi.
“Sebab, saat ini curah hujan mulai meningkat,” tambah Prayitno mengingatkan warga untuk tetap waspada menghadapi kemungkinan bencana berikutnya.
Sebagai seorang yang pernah berkecimpung dalam dunia jurnalistik sebelum menjabat sebagai Kepala BPBD Purbalingga, Prayitno memahami betul pentingnya komunikasi yang efektif dalam situasi darurat seperti ini.
Ia mengimbau masyarakat untuk terus mengikuti informasi terkini dari pihak berwenang dan selalu siap siaga menghadapi kemungkinan bencana lanjutan.
Meningkatnya intensitas curah hujan akhir-akhir ini semakin memperbesar risiko terjadi bencana hidrometeorologi seperti banjir dan tanah longsor di berbagai wilayah di Indonesia termasuk Purbalingga.
Oleh karena itu pemerintah daerah bersama BPBD terus berupaya meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya mitigasi bencana dan kesiapsiagaan dalam menghadapi ancaman tersebut guna meminimalisir dampaknya terhadap kehidupan sehari-hari.
Kerja bakti pun menjadi salah satu langkah konkret warga dalam menghadapi situasi ini sebagaimana terlihat saat terjadi tanah longsor baru-baru ini di beberapa desa di Kabupaten Purbalingga.
Gotong royong antara aparat pemerintah setempat bersama masyarakat menunjukkan semangat kebersamaan dan solidaritas dalam menghadapi situasi sulit ini.
Tidak hanya itu pihak BPBD juga terus melakukan koordinasi dengan berbagai instansi terkait guna memastikan penanganan pasca-bencana berjalan lancar serta pemulihan kembali infrastruktur vital agar aktivitas warga dapat kembali normal secepat mungkin.
Dengan berbagai upaya tersebut diharapkan dapat membantu meringankan beban para korban serta mempercepat proses pemulihan pasca-bencana sehingga mereka bisa kembali melanjutkan kehidupan sehari-hari tanpa rasa khawatir. (tya/dda)
















